07:51 - Selasa, 23 Desember 2014

Menyoroti Kiprah PKS dalam Membantu Korban Banjir

Rubrik: Opini | Kontributor: Dhani Abdullah An-Nuwari - 22/01/13 | 08:11 | 09 Rabbi al-Awwal 1434 H

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid menerobos banjir untuk memberikan bantuan kepada warga korban banjir di Posko PKS Petamburan, Jakarta, (18/01). (ANTARA)

Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid menerobos banjir untuk memberikan bantuan kepada warga korban banjir di Posko PKS Petamburan, Jakarta, (18/01). (ANTARA)

dakwatuna.com – Ada sebuah fenomena yang menarik untuk diamati di sela-sela banjir yang sedang melanda ibukota dan beberapa daerah lain di negeri kita. Lebih fokus lagi dapat disebutkan bahwa ini berkaitan dengan sebuah partai Islam yang bernama PKS. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa sudah menjadi kebiasaan PKS untuk memberikan layanan kepada saudara-saudara kita se-tanah air, saat pemilu atau jauh dari pemilu, saat ada musibah atau tidak ada musibah. Jika saja bumi ini bisa bicara, maka mulai dari Nangroe Aceh hingga tanah Papua pastilah menjadi saksi dari apa yang telah mereka sumbangkan untuk masyarakat.

Namun tak semua orang merasa nyaman dengan aktivitas pelayanan PKS. Salah satunya adalah yang berkaitan dengan aktivitas partai ini dalam membantu masyarakat yang terkena banjir. Bagaimana mereka dengan sigap memberikan bantuan yang sederhana namun sangat dibutuhkan, tentu saja dengan memakai atribut, seragam kepanduan dan bendera. Selain berbagai pujian, tidak sedikit tuduhan dan celaan dialamatkan kepada PKS.

Apakah ada yang salah dengan semua ini? Sehingga banyak orang yang mencemooh, merasa perlu menilai niat mereka dan memberikan tuduhan-tuduhan yang tidak pantas.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah  mengirim kami kepada salah satu suku Bani Juhainah. Maka kami menyerang kaum tersebut di pagi hari. Aku dan seorang Anshar mengejar salah seorang dari mereka. Ketika ia tidak dapat berkutik lagi ia mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallaah’ (mendengar kalimat tersebut) laki-laki Anshar itu menghentikan serangannya namun aku langsung menikamnya dengan tombakku hingga tewas. Ketika kami kembali ke Madinah, kisah tersebut disampaikan kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda, ‘Ya Usamah apakah kamu bunuh dia setelah mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallaah’? Aku menjawab, ‘Ya, Rasulullah ia mengucapkannya karena takut dibunuh.’ Beliau kembali bersabda, ‘Apakah kamu bunuh dia setelah mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illallaah’? Beliau terus mengulang-ulang kalimat tersebut hingga aku berkhayal kalau seandainya pada saat itu aku belum masuk Islam’.” (HR Bukhari [4269] dan Muslim [96])

Ini membawa kita pada sebuah kejadian yang telah berlalu selama berabad-abad. Dalam shahih Muslim diceritakan suatu ketika salah satu sahabat Rasulullah yang bernama Usamah bin Zaid melakukan ekspedisi tempur bersama pasukannya. Ia membunuh seseorang yang sebenarnya telah mengucapkan syahadat sesaat setelah dia telah kalah dalam pertarungan. Ketika berita ini terdengar, Rasulullah menanyakan masalah ini, lalu Usamah menjawab, “Orang itu mengucapkannya karena takut dibunuh.” Maka Rasulullah sangat marah dan berkata “Mengapa tidak engkau belah sekalian dadanya?!” (untuk mengetahui niat orang itu). Hal ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita bahwa mengetahui niat dalam hati seseorang adalah sesuatu yang sesungguhnya sama sekali di luar kemampuan kita. Niat hanya diketahui oleh si pelaku amal dan Allah Ta’ala. Ketika kita menuduh (dalam hati sekalipun) berdasarkan perkiraan pada niat orang lain sesungguhnya kita telah jatuh kepada buruk sangka (su’uzhon), yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Hujurat ayat 12, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Para ulama menjelaskan bahwa sebagian prasangka yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah buruk sangka kepada orang lain (su’uzhon). Buruk sangka ini biasanya akan terkait pula dengan perkara-perkara haram yang lain lagi sebagai turunannya yaitu mencari-cari kesalahan, dan ghibah (menggunjing). Sebagai akibatnya maka ikatan sosial dalam masyarakat akan menjadi rusak karena munculnya rasa saling tak percaya dan memudarnya perasaan aman. Bukankah hal ini yang seringkali kita lihat dalam kehidupan sehari-hari?  Inilah akibat dari perbuatan yang amat buruk tersebut sehingga diumpamakan oleh Allah Ta’ala dengan memakan bangkai, sesuatu yang menjijikkan.

Lalu bagaimana dengan melakukan amal kebaikan secara terang-terangan?

Hal yang sering disalahpahami adalah bahwa seolah-olah perbuatan baik itu, harus disembunyikan. Bila perbuatan itu dikerjakan terang-terangan maka berarti tidak ikhlas. Sesungguhnya ini adalah pemahaman yang keliru.

Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al Baqarah: 274)

Jelas sekali disebutkan dalam ayat ini, bahwa melakukan amal kebaikan secara terang-terangan pun bisa saja tetap ikhlas karena Allah. Meskipun beramal dengan tersembunyi mempunyai sebuah manfaat yaitu lebih menjaga hati dari kemungkinan munculnya penyakit riya’. Contoh lain bisa kita dapati dalam hadits-hadits Rasulullah yang menjelaskan tentang keutamaan para sahabat. Kisah yang menceritakan bahwa Abu Bakar ash Shiddiq bersedekah dengan seluruh hartanya, Umar bin Khathab dengan separuh hartanya, begitu pula Utsman bin Affan bersedekah dalam jumlah yang sangat besar. Juga kisah sahabat miskin yang menyedekahkan beberapa butir kurma, karena hanya itu yang ia miliki. Sampai-sampai sahabat ini dicela oleh orang munafik, karena sedekahnya yang sangat sedikit dan tidak berharga (dalam pandangan manusia). Semua amal kebaikan ini dilakukan dengan terang-terangan.

Lalu kenapa membawa-bawa bendera?

PKS adalah sebuah partai yang bukan hanya sibuk berbicara dalam tatanan wacana, mengkritik, memprotes, dan mencela kerusakan yang terjadi. Di tengah kegalauan masyarakat, PKS tentu saja memiliki misi tertentu. Di antara keutamaan beramal secara terang-terangan adalah dapat memberi contoh kebaikan. Boleh jadi inilah yang dilakukan oleh PKS. Memberi contoh pada partai lain bahwa berpolitik itu adalah mengurus dan melayani rakyat, bukan sekadar memberi janji-janji kosong, merebut atau mempertahankan kekuasaan. Memberi harapan pada masyarakat akan politik yang bersih, peduli, dan professional.

PKS pasti ingin meraih dukungan rakyat, apa salah?

Sejak berakhirnya orde baru lebih dari sepuluh tahun yang lalu, reformasi berjalan dengan tertatih-tatih. Sebagai partai yang lahir dari rahim era reformasi, PKS pasti berkepentingan untuk meraih kemajuan dan meninggalkan keterpurukan sebagaimana yang berhasil dilakukan oleh AKP di Turki. Maka kemenangan dalam Pemilu adalah sebuah kebutuhan, begitu juga dengan publikasi kiprah partai yang gencar. Ibarat pedagang yang menjajakan barangnya, pastilah ia akan berusaha mempromosikan kualitas barangnya ke mana-mana. Usaha-usaha meraih simpati rakyat adalah sesuatu yang wajar karena tanpa kemenangan besar dalam pemilu seperti yang diraih oleh AKP maka tidak akan ada kekuatan yang cukup dalam eksekutif dan legislatif untuk menuntaskan pemberantasan korupsi yang tidak kunjung selesai, dan melakukan agenda perubahan lainnya yang juga sangat tersendat-sendat.

PKS memang bukan kumpulan orang-orang yang sempurna. Terlepas dari kemungkinan fitnah dari pihak tertentu, adanya sebagian kader atau pengurus PKS yang terkadang melakukan kesalahan baik disengaja ataupun tidak adalah sesuatu yang manusiawi. Namun sejauh ini PKS tetap bisa dikatakan sebagai alternatif yang jauh lebih baik daripada partai lainnya. Maka amat pantas jika kita memberikan dukungan kepada mereka untuk membangun Indonesia yang adil dan sejahtera.

Mari kita renungkan sejenak petunjuk Allah Ta’ala,

{يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ. إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}

“(Yaitu) di hari ketika harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (selamat)” (QS asy-Syu’araa’: 89).

Jagalah hati kita, bersihkan dari prasangka dan ayo bersama membangun negeri tercinta.

Wallahu a’lam.

Redaktur: Hendra

Topik: ,

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (12 orang menilai, rata-rata: 9,33 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • novalfikri

    pro dan kontra adalah hal yang biasa.yang luar biasa adalah manakala kader terus dan terus bekerja untuk indonesia tanpa terpengaruh berita di media dan kritikan atau cibiran.allahuakbar

  • febriandi

    Kritikan dan masukan sangat dibutuhkan u kemajuan, namun apa yg dilakukan oleh org2 yg hatinya berpenyakit tidak lain adalah mematikan karakter PKS yg selalu peduli…

Iklan negatif? Laporkan!
74 queries in 2,706 seconds.