Home / Berita / Opini / Ibu Kotaku Dilahap Banjir

Ibu Kotaku Dilahap Banjir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Suasana banjir di Jakarta.  (Antara/Zabur Karur)
Suasana banjir di Jakarta. (Antara/Zabur Karur)banjir

dakwatuna.comIbu kota merupakan pusat dari segala pusat kota, Pusat perdagangan, bisnis, Ekonomi, hierarki dan otonomi. Semua mata tertuju padanya, Jakarta merupakan ibukota kita yang sudah ada semenjak terlepas dari penjajahan orang-orang komunis. Kondisi kota Jakarta yang era modern ini semakin menjadi-jadi sesuai dengan perkembangan zaman seperti, Budaya, tradisi, gaya semuanya berubah menjadi metropolitan dan ngetran di zaman sekarang. Akan tetapi masih banyak kekurangan dari kota sejarah ini terutama dari pengendalian lingkungan dan alam sekitar.

Faktor lingkungan dan alam sekitar masih membelenggu dalam lilitan ibukota Jakarta, Bagaimana bisa? Hal ini terjadi akibat ulah tangan manusia, bagaimana bencana alam yang terjadi di ibukota kita? Apalagi Jakarta terkenal dengan istilah kota yang amat macet dan sering dilanda banjir, masalah yang satu ini tidak akan ada hentinya untuk dibicarakan dan diproses untuk ditanggulangi. Seketika saya terfokus dengan fenomena yang terjadi saat ini yaitu banjir yang melanda wilayah Jakarta. Banjir bencana alam yang kronologis terjadi tanpa kita sangka dan kita hanya bisa cukup waspada.

Fenomena ini tentu banyak dikeluhkan orang banyak, walaupun pemerintah sendiri telah turun tangan dalam mencoba untuk mengatasinya, pemerintah daerah telah menyusun serangkaian program, mulai dari normalisasi sejumlah sungai di Jakarta, hingga revitalisasi situ dan embung.  Akan tetapi masalah banjir ini tetap menjadi sahabat kota Jakarta sampai penghujung musim hujan. Semuanya dilahap oleh banjir, tak mengenal tua, muda, anak-anak, balita, pejabat, orang kaya, orang miskin semuanya tak dipedulikan. Manusia hanya bisa mengatakan semua yang terjadi itu adalah bencana alam yang sudah terjadi tanpa merasa benar dirinya dipersalahkan. Seandainya manusia berpikir dan terus mencoba bersahabat dengan alam tentu bisa meminimalisir bencana alam yang terjadi.

Banjir yang sedang melanda ibukota Jakarta menjadi sorotan dan topik yang sedang diperbincangkan orang banyak dan beritanya sampai ke pelosok desa pun tak mau ketinggalan, ada orang yang mengatakan bahwa banjir yang terjadi di Jakarta adalah kiriman dari bogor (kota hujan) karena meluapnya sungai yang menghubungkan dengan sungai Ciliwung, ketinggian air di pintu air Manggarai hari ini sebesar 10030 cm, “Artinya, ketinggian air di permukaan sungai hanya 960 cm. ” kata Direktur Sungai dan Pantai, Ditjen Sumber Daya Air (SDA), Kementerian PU, Pitoyo Subandrio, saat dihubungi di Jakarta, Kamis., Sebagian orang juga mengatakan bahwa banjir terjadi  akibat kerakusan manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungan, manusia ingin sekali diuntungkan dan tidak mau disalahkan sehingga lingkungan dirugikan daripadanya. Kita hanya bisa menghela nafas dan mengelus dada melihat kenyataan ini.

Menurut Badan Meteorologi Kronologi dan Geofisika memperkirakan cuaca yang terjadi di Indonesia semakin tak terkendalikan, khususnya wilayah Jakarta yang selalu diguyur hujan disertai angin dengan suhu 23 derajat celsius dan kelembapannya. Perkiraan ini selalu ditinjau oleh BMKG hingga sampai di ujung musim hujan diperkirakan fenomena ini akan terus terjadi sampai akhir bulan maret mendatang. Sebelumnya, Menteri PU Djoko Kirmanto menyatakan, pemerintah tidak menjamin Jakarta akan bebas dari banjir hingga beberapa tahun mendatang. Hal itu karena program normalisasi sejumlah sungai dan lainnya tuntas 2017-2018. “Kendati program ini selesai pada 2017/2018, Jakarta tak dijamin bebas banjir,” kata Djoko. Apalagi, kata Djoko, tak ada satu pun kota-kota besar di dunia yang mutlak bebas banjir, apalagi untuk Jakarta yang garis permukaannya di bawah air laut.

Warga Jakarta yang terkena banjir sangat bersedih karena harta benda mereka dilahap banjir, begitu juga dengan anak-anak sekolah yang terpaksa tidak bisa bersekolah, pegawai dan karyawan pun dengan terpaksa juga meliburkan dirinya untuk tidak bekerja, banjir pun melanda hingga ke jalanan sehingga yang terjadi adalah kemacetan di mana kendaraan saling berdesak-desakan di jalanan protokol, sehingga polisi lalulintas terpaksa membuka jalur lain untuk mengendalikannya.

Begitulah fenomena ibukota Jakarta yang tak terlepas dari himpitan berbagai masalah yang selalu mengepungnya. Ada kiranya kita banyak mengintrospeksi diri bukan banyak mengintrospeksi alam dan jangan hanya bisa memanfaatkannya alam secara berlebihan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa semester 1 Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Lihat Juga

Pauline Hanson dalam pidatonya yang bernada Islamofobia di Parlemen Australia, Rabu (14/9/2016). (abc.net.au)

(Video) Seorang Anggota Parlemen Australia: Kita Dalam Bahaya Dibanjiri Muslim