Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Abu Ubaidah, Teladan Seorang Profesionalis

Abu Ubaidah, Teladan Seorang Profesionalis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com  – Dewasa ini, krisis keteladanan kian tumbuh subur di negeri yang tanahnya mulai kering karena kejahatan  – manusianya merusak alam. Para penjahat berdasi kian makmur di tengah kerumunan gelandangan yang mengemis uang receh. Bahkan para pemudanya lebih gemar melempar parang di jalan-jalan, ketimbang mencerna lembaran demi lembaran ilmu pengetahuan. Siapa yang berhak disalahkan? Para pemimpinkah, karena ketidakmampuan mereka mengurus berbagai lapisan masyarakat? Atau memang moralitas dari setiap individu yang terlalu mudah digerus sikap rendahan?

Dengan label sebagai negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, sedikit banyak harusnya khalayak umum dapat berkaca pada nilai-nilai yang dapat diambil dari beragam kehidupan terdahulu, seperti para nabi dan sahabat-sahabatnya. Torehan sejarah setiap aral dan ujian yang mereka hadapi dalam rangka memaksimalkan waktu dalam kehidupan, baiknya menjadikan kita memahami makna perjuangan yang sebenarnya.

Seorang sahabat Nabi yang berwajah bersih lagi elok, pandangan matanya mempesona, perangainya menyenangkan bagi yang melihatnya dan menentramkan hati siapa pun yang berjumpa dengannya. Ia adalah seorang sahabat yang jika bicara tak pernah berdusta, dan jika diajak bicara tak pernah mendustakan apa yang dibicarakannya. Ia juga seorang yang lemah lembut dalam pergaulan, amat rendah hati, dan besar rasa malunya. Namun bila keadaan genting dan membutuhkan perhatian serius, ia dapat menjadi seekor singa nan garang, ia laksana pedang yang berkilat-kilat karena ketajamannya. Ia adalah Abu Ubaidah ibn Jarrah.

Keseimbangan karakter yang demikian, rasanya jarang sekali dapat ditemui dalam hiruk pikuk kehidupan di sekitar kita. Padahal, implementasi sebuah profesionalisme telah jelas diajarkan seorang Abu Ubaidah pada kita. Ia mengajarkan sebuah praktek dasar bagaimana bersikap dari satu tempat ke tempat lainnya, dan bagaimana kita dapat memposisikan diri ketika berada dalam berbagai situasi. Kondisi memilukan yang berbanding terbalik lebih sering disuguhkan hari ini, betapa banyak orang-orang yang “diam” bukan pada tempatnya, dan “garang” juga tidak pada tempatnya. Andai setiap kita mampu menanamkan dan menerapkan nilai-nilai yang diajarkan Abu Ubaidah dalam diri, rasanya tak mustahil bila dalam hidup bermasyarakat akan lahir orang-orang yang mampu mempetakan diri secara tepat.

Dalam kehidupannya, Abu Ubaidah pun tak luput dari ujian yang amat pedih seperti yang dialami para sahabat Nabi yang lain. Bahkan pada perang Badar, ada satu peristiwa yang mungkin ini merupakan bentuk cobaan yang telah melampaui batas kewajaran yang dapat dibayangkan manusia. Sebagaimana kita ketahui, ia adalah seseorang yang amat ditakuti musuh-musuhnya di kancah peperangan. Keberaniannya menyurutkan nyali musuh-musuhnya dan selalu menghindar ketika bertatap muka dengannya. Tapi ada satu orang yang berani menghadang setiap langkah Abu Ubaidah, dan Abu Ubaidah sendiri selalu berusaha menjauh menghindarkan diri. Makin gencar serangan orang tersebut, makin jauh Abu Ubaidah menghindar. Hingga orang itu menjadi perisai hidup bagi kawan-kawan musyriknya.

Akhirnya, Abu Ubaidah tak mampu menahan diri lebih lama lagi. Diayunkan pedangnya kuat-kuat menebas kepala orang itu hingga tubuhnya terbagi menjadi dua, dan orang itu pun tewas seketika. Inilah yang saya maksud ujian teramat besar yang harus terjadi dalam kehidupan Abu Ubaidah. Ketahuilah, bahwa orang yang mati mengenaskan di tangan Abu Ubaidah adalah Abdullah ibn Jarrah, ayahandanya sendiri!

Sungguh, Abu Ubaidah tidaklah membunuh ayahnya, ia hanya membunuh kemusyrikan yang ada pada diri ayahnya. Kejadian tersebut mengajarkan kita sebuah konsekuensi logis dari sebuah pilihan. Keputusannya menjadi seorang muslim, menuntutnya untuk dapat meninggikan loyalitas diri. Bukan berarti kita membenarkan membunuh keluarga yang bertentangan dengan kita, para sahabat Nabi yang lain pun banyak yang berasal dari keluarga musyrik namun masalah mereka dengan keluarganya tak sekompleks Abu Ubaidah. Kondisi yang dihadapkan kepada Abu Ubaidah adalah tentang sebuah pilihan, di mana harus ada yang menjadi prioritas. Pertimbangannya bukan karena meninggikan emosi buta, namun lebih ke arah dampak jangka panjang jika sebuah keputusan ragu dilakukan. Kita juga dapat melihat keteguhan hati akan memancar indah dalam jiwa orang-orang yang totalitas dalam mempersembahkan kinerja nyatanya.

Keteladanan dalam profesionalisme seorang Abu Ubaidah bahkan tampak hingga akhir kehidupannya. Kala itu, Allah menaruh pada tangannya kekuasaan penuh atas seluruh negeri Syam hingga al-Furat bagian Timur serta Turki bagian Utara. Ia menjadi pemimpin yang mampu membawa kaum muslimin dari satu kemenangan ke kemenangan lainnya. Hingga suatu ketika, Syam dilanda wabah sampar (suatu penyakit menular) yang amat ganas. Rakyat belum pernah mengalami wabah sampai separah itu, yang menelan banyak korban jiwa.

Umar ibn Khaththab selaku khalifah saat itu, tahu betul resiko yang akan dialami Abu Ubaidah jika terus berada di Syam. Ia kemudian mengirimkan sebuah surat kepada Abu Ubaidah yang berisi perintah untuk kembali ke Mekah. Namun, Abu Ubaidah justru membalas surat tersebut dengan sebuah penolakan nan halus lagi santun tetapi tetap tegas. Syam adalah amanahnya. Ia tak ingin menyelamatkan diri sendiri dan meninggalkan rakyatnya hingga Allah menjatuhkan takdir atas dirinya. Dan ia memohon Umar membebaskannya dari perintah itu.

Membaca surat balasan tersebut, Umar menangis tersedu-sedu. Ia menyadari betapa dekatnya kematian terhadap Abu Ubaidah. Dan dugaan tersebut ternyata benar, tak lama kemudian Abu Ubaidah tertular penyakit sampar hingga merenggut nyawanya.

Bandingkan dengan kondisi manusia hari ini. Banyak di antara pemimpin di berbagai lapisan dengan bangga mengklaim diri mereka sukses ketika ada perubahan positif di suatu bidang. Namun mereka tak ingin disalahkan ketika justru kemunduran yang terjadi.

Belum terlihatnya sosok seperti Abu Ubaidah di zaman ini, menjadikan masyarakat secara umum bertanya-tanya, sampai kapan kebobrokan karakter terus menjangkiti negeri ini. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” sebuah kalimat bijak yang hampir setiap kita hafal. Tapi bayangkan, seandainya para pahlawan saat ini masih hidup dan menyaksikan sendiri kondisi global negeri yang dulu dibebaskannya dengan tumpahan keringat, darah dan air mata, tidakkah itu akan membuat hati mereka tersayat pilu?!

Teorinya sederhana, setiap orang bisa mereguk hikmah sebanyak-banyaknya dari tiap pribadi orang-orang terdahulu, yang salah satunya adalah Abu Ubaidah. Diawali dari cara kita mengonsep diri. Lembut ketika bercengkerama, namun tegas ketika bicara tentang prinsip. Kemudian berusaha profesional di mana pun kita berada. Bagi para pelajar, profesional lah sebagai pelajar. Sadari betul, berhasil atau gagalnya seseorang esok hari, ditentukan dari sikapnya hari ini. Demikian pula bagi petinggi negeri sekalipun. Keputusan menjadi pemimpin, bukan sekadar berpikir penghasilan besar. Namun juga pengorbanan besar untuk orang-orang yang dipimpinnya.

Lalu, apa yang membuat seorang Abu Ubaidah bisa memiliki sikap sedemikian luar biasa, dan apakah kita mampu bersikap seperti itu pula? Jawabannya mudah, yakni “keimanan” pada Sang Khaliq yang menjadikan seorang manusia kuat. Dengan keimanan, hati akan tetap tenang di tengah kesulitan. Dan diri akan terkendali saat kebahagiaan memuncak. Keimanan lah yang harus membingkai setiap aktivitas kita sehari-hari, termasuk dalam proses menjadi pribadi yang profesional.

Semoga kita dapat membuka mata nurani, untuk dapat melihat jelas ibrah dari setiap perjalanan hidup manusia terdahulu yang nama-nama mereka terabadikan oleh sikap dan kepribadiannya. Kita berharap, akan lahir banyak Abu Ubaidah baru di zaman ini, menguatkan sendi-sendi keteladanan untuk menjadi bukti nyata akan ke-Maha Besaran Sang Pencipta.

Semoga bermanfaat.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • pemimpin nasional dewasa ini adalah hasil pemilihan warganya, merupakan gambar besar keadan sosek masyarakat umumnya; tugas utama para pemimpim umat membimbingnya terutama mayoritas masyarakat muslim indonesia

Lihat Juga

Ilustrasi. (Salman Al-Farisi)

Betapa Sayangnya Allah SWT Kepada Kita, Manusia