Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Be a Mar’atus Shalihah, Zaujatul Muthi’ah, and Ummul Madrasah

Be a Mar’atus Shalihah, Zaujatul Muthi’ah, and Ummul Madrasah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (qimta.devianart.com)

dakwatuna.com Kita semua tahu bahwa setiap manusia memiliki Potensi yang telah menjadi fitrahnya, di antaranya ialah potensi jasadiyah (fisik), akliyah (akal), dan ruhiyyah (rohani). Setiap potensi harus diberi ‘makan’ dengan proporsi yang baik dan sehat. Misalnya, mengembangkan potensi jasadiyah dengan berolahraga, makan seimbang, dan sebagainya. Mengembangkan potensi akliyah (akal) bisa dengan cara kuliah, kajian, membaca buku dan sebagainya. Sedangkan potensi ruhiyyah (rohani), bisa kita kembangkan dengan beribadah dan berdzikir.  Setiap potensi tersebut harus dijaga dan terus dikembangkan.

Ketiga potensi tersebut (yang dimiliki seorang muslimah) sejatinya menuju pada sasaran (goal) untuk menjadi Mar’atus shalihah (wanita shalihah), Zaujatul Muthi’ah (istri yang taat), dan Ummul madrasah (ibu peradaban). Ketiga goals dari potensi tersebut seharusnya menjadi JARGONnya setiap muslimah dalam hidup ini.

Mar’atush Shalihah

Shalihah secara bahasa ialah akhlak baik. Artinya menjadikan sesuatu yang baik menjadi kebiasaan kita. Di tengah era yang penuh dengan hedonisme, maka akhlak adalah sebuah ‘common issue’.  Akhlaq sudah seharusnya menjadi wajah kesejatian seorang muslimah. Seperti terkandung dalam doa ketika bercermin:

اَلْحَمْدُ ِلله كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِيْ فَحَسِّنْ خُلُقِيْ

“Ya Allah, sebagaimana Engkau memberiku rupa yang baik. Maka jadikanlah padaku akhlaq yang baik”

Berbicara mengenai ‘shalihah’, kita bukan berbicara mengenai kecantikan secara kasat mata, tapi berbicara mengenai inner beauty. Yakni lebih memperhatikan pada pesona Intelektualitas, kecerdasan emosi, dan ruhiyyah.

Kecantikan seorang wanita (muslimah) terdiri dari kecantikan jiwa (hubungan dengan Allah), kecantikan diri (fisik) di mana dalam hal ini seorang muslimah hanya diperbolehkan untuk menjaga dan merawat, bukan untuk mengubah ciptaan Allah, dan kecantikan akal (ilmu dan kecerdasannya).

Muslimah shalihah adalah muslimah yang bisa menjadi trend-setter (pusat perhatian), baik dari hal – (akademis, organisasi, ibadah dsb) dan bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarnya dalam segala kondisi.

Muslimah juga harus TANGGUH (TANGgap, Gaul, tedUH). Tanggap = cepat tahu apa yang harus dia lakukan. Gaul = mengetahui hal2 mencakup semua aspek dalam kehidupan. Teduh = Meneduhkan orang-orang di sekitarnya.

Zaujatu Muthi’ah (Istri Yang Taat)

Hal kedua yang dihisab dari seorang wanita adalah mengenai ketaatannya terhadap suami (ada di HR. abu Hurairah). Di samping itu, taat kepada suami adalah kunci untuk masuk surga, dari pintu manapun.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisa: 34)

Dalam fitrahnya, kedudukan laki-laki (suami) dan wanita (istri) dalam Islam memang berbeda. Keduanya memiliki porsi masing-masing yang sudah diatur dengan begitu ‘pas’. Allah mengumpulkannya laki-laki dan wanita dalam sebuah ikatan pernikahan untuk saling melengkapi. Suami sebagai leader keluarga dan istri sebagai pencetak generasi-generasi pembangun peradaban. Al Qur’an dan hadits menggambarkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berumah tangga. Antara lain:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaqnya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya.” (Tirmidzi)

“Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya”. (Ath-Thalaq: 7)

“Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya.” (Tirmidzi)

“Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun.” (Nasa’i)

“Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya.” (Tirmidzi)

Allah tidak akan segan-segan memberikan balasan surga kepada para istri-istri yang taat.

“Apabila seorang istri, menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya Allah SWT akan memasukkannya ke dalam surge”. (Ibnu Hibban)

Bukankah Islam begitu adil dalam memperlakukan suami dan istri?! Subhanallah…

Seorang muslimah memiliki 2 peran mendasar ketika telah berkeluarga:

Peran

  • Publik (masyarakat) –> kebermanfaatan bagi orang lain
  • Domestik (keluarga) –> membangun dan mendidik generasi teladan

Agar seimbang dalam kedua peran tersebut, seorang istri sudah semestinya mengetahui kapasitas dirinya, jangan berlebihan pada salah satunya. Jepang adalah salah satu negara yang sudah memiliki pola yang baik dalam hal peran seorang wanita yang disebut dengan grafik M. Grafik M adalah grafik yang dikhususkan bagi para wanita (Line pertama karir menanjak pada saat study, line kedua menurun ketika berkeluarga, line ketiga menanjak karena anak-anak sudah mapan, dan line keempat menurun karena keterbatasan fisik). Jepang bukanlah negara Islam, tapi dari cara pengaturan, jepang adalah negara yang paling menggunakan aturan Islam dengan sangat baik. Subhanallah yaa…

Dalam Islam, peran laki-laki dan perempuan bukan saling sikut, tapi saling melengkapi. Jangan pernah memaksakan satu peran bagi pihak lain.

Ummul Madrasah (Ibu Bagi Peradaban)

Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya (Al-ummu madrasatul ‘ula). Ibu adalah pilar penting dalam keluarganya. Oleh karena itu, seorang muslimah seharusnya benar-benar memperhatikan peran mendasarnya sebagai seorang ibu, ibu peradaban. Memperhatikan hal-hal kecil sekalipun dalam mendidik anak itu penting, karena

“Banyak orang tidak menyadari kalau anak adalah salah satu dari pemimpin umat. Hanya karena masih tertutup dengan baju anak. Seandainya apa yang ada di balik bajunya dibukakan kepada kita, niscaya kita akan melihat mereka layak disejajarkan dengan para pemimpin. Akan tetapi Sunnatullah menghendaki agar tabir itu disibakkan sedikit demi sedikit melalui pendidikan. Namun, tidak semua pendidikan berhasil, kecuali dengan strategi matang dan berkelanjutan.”(Syaikh Muhammad Al-Khidhr Husain)

Wahai para ibu dan calon ibu, mari berlomba-lomba menjadi ibu terbaik; keteladanan kita, perlakuan kita terhadap mereka, pembinaan aqidah dan ibadah, pendidikan akhlaq, pembentukan jiwa, intelektualitas mereka, atau apapun LAKUKAN YANG TERBAIK LILLAH (karena Allah).

Untuk saudariku para calon ibu, menjadi sosok seperti itu (ummul madrasah) bukan menunggu nanti ketika waktu telah tiba. Tapi mulai saat ini, detik ini, raihlah jenjang pertama Be Shalihah, dan setelah itu kita melangkah ke jenjang-jenjang berikutnya dengan kematangan. Insya Allah…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi asal Kebumen yang sedang menuntut Ilmu di Universitas Indonesia. Aktif di lembaga dakwah kampus SALAM UI sebagai staff departemen kontrol internal.

Lihat Juga

Betapa Sayangnya Allah SWT Kepada Kita, Manusia