Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Nur A’ini, Penjual Kacang Goreng

Nur A’ini, Penjual Kacang Goreng

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com – “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 128)

Masjid Raya Bau Bau, Sulawesi Tenggara, berdiri megah di tengah kota berjulukan “Kota Semerbak”. Masjid yang terletak di tengah pasar dan aktivitas perdagangan lainnya, menjadi tempat yang ramai dikunjungi ketika kumandang adzan menggema.

Menjelang siang itu, selepas menyeberang dari Pulau Muna, aku melangkahkan kakiku menuju masjid besar itu. Sambil menunggu waktu Zhuhur yang akan masuk beberapa menit lagi, aku pun mengambil wudhu. Saat itu masjid belum ramai, hanya aku dan seorang anak perempuan yang sejak tadi memperhatikanku sampai selesai wudhu. Sambil merapikan jilbab dan mengenakan kaos kaki, aku bertanya pada anak perempuan itu yang kini duduk di sampingku, “Siapa namanya dek?” Ia pun menjawab dengan fasih, “Nur A’ini”. Begitulah awal persaudaraan kami.

Aku pun bersiap dan mengeluarkan Al-Qur’an. Nur A’ini masih memperhatikan bahkan semakin merapatkan duduknya dengan tempat dudukku. “Nur A’ini senang mengaji tidak?”, tanyaku sambil tersenyum. “Eh kita senange kalau mengaji…kakak kita itu suka tidak mau mengaji”, jelasnya dengan antusias. “Tunggu ya…kakak selesai baca Al-Qur’an dulu, nanti kita lanjutkan ceritanya.”

Hari itu pun, A’ini banyak bercerita tentang dirinya dan keluarganya. ‘Aini menjadi satu di antara penjual kacang goreng di sekitar masjid raya. Ia menjajakan kacang goreng dan kacang kulit ke masyarakat di sekitar pasar dan masjid raya. Berbekal nampan biru dan beberapa bungkus kacang, malu-malu ia menawarkan kepada para pembelinya bahkan seringkali terlihat pembeli yang mendatanginya. ‘Aini kecil dengan pakaian seadanya, senang tersenyum. Rambut pirang terbakar matahari dan pengaruh air asin, ciri khas wajah indah yang selalu bersemangat membantu kedua orang tuanya. Anak perempuan yang masih ingusan ini, Alhamdulillah bersekolah, kelas 1.  Keluarga A’ini tinggal tak jauh dari masjid. Ayahnya seorang nelayan. Ibunya sendiri menggoreng serta membungkus kacang goreng dan menjualkan barang dagangan lainnya.

Adzan Zhuhur pun terdengar, saatnya bersiap menunaikan kewajiban. ‘Aini masih terpaku. Aku pun memintanya untuk segera berwudhu dan ikut bergabung shalat berjamaah. Berlari-lari kecil ia dengan muka berbasuh air wudhu. “A’ini bawa mukena? Kakak tidak bawa nak…” A’ini hanya menggeleng. Mataku pun berusaha mencari lemari atau sejenisnya yang berisi mukena atau alat shalat lainnya di masjid terbesar kota ini. A’ini pun shalat dengan rambut terurai dan pakaian yang ia kenakan seadanya, sedangkan aku dengan pakaian dan kaos kaki yang aku kenakan saja. Berdiri bershaf dengan jamaah para ibu. Aku dan A’ini bersebelahan. Ya Allah terimalah shalat kami. Aamiin.

Setelah salam, aku pun melanjutkan menjamak shalat Ashar. A’ini pun mengikutiku. Setelah salam dan berdoa, aku tersenyum dan terbesit dalam hatiku, “Alhamdulillah masih bisa shalat dan masya Allah seorang anak cepat sekali meniru apa yang dilakukan orang lain.”

Itu kali pertama pertemuan dengan Nur A’ini. Pertemuan kedua pun berjumpa lagi di tempat yang sama, namun pertemuan kali ini lebih baik. A’ini kini mengenakan mukena yang aku pinjamkan padanya. Kami pun shalat bersama di antara jamaah wanita lainnya. Alhamdulillah, semoga shalat kami diterima.

Pertemuanku dengannya memberikan aku hikmah bahwa siapapun umat Islam punya kewajiban shalat lima waktu. Apa pun jabatannya. Presiden kah? Tukang sapu kah? Penjual kacang goreng kah? Eksekutif muda? Eksekutif tua sekalipun? Semua punya kewajiban yang sama, termasuk shalat. Tak sekadar gerakan tubuh begitu saja, yang terpenting adalah kita membutuhkan Allah dalam menjalani hidup ini.

Hikmah lainnya, ada mutiara yang perlu kita jaga. Anak-anak. Sifatnya yang mudah meniru, menjadi modal untuk mereka menjadi baik jika kita mengajarkan dan mendidik dengan baik. Sayang memang saat mereka malah menjadi ‘bumerang’ ketika tidak ada pengajaran baik bagi dirinya, meniru hal yang salah dan bersikap tidak sopan. Peranan orangtua, guru, dan masyarakat sekitar menjadi kunci perbaikan generasi negeri ini.

Terima kasih penjual kacang goreng cilik, yang telah menjadikan aku semakin mengenal Robb ku. A’ini semoga kita bisa berjumpa kembali. Mari kita berdoa untuk A’ini dan anak-anak kita dan generasi penerus negeri ini sebagaimana bapak para Nabi, Nabi Ibrahim. “Rabbana waj’alna muslimayni laka wa min dzurriyyatinaa ummatam muslimatallak…” (QS. Al-Baqarah: 128). Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 7,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhiyaudzdzikrillah, SP.
Dari Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Jakarta yang sedang pengabdian di SDN 1 Wagola, Pasarwajo, Buton, Sulawesi Tenggara.