Reda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

Rabbi….

Terima kasih atas pesan yang Kau kirimkan lewat hujan

dakwatuna.com Kenangan ini telah kurangkum dalam serintik hujan. Semua rasa terurai dalam wangi tanah yang basah, gemercik yang turun berbisik, serta udara yang sejuk menusuk-nusuk. Tidak ada yang kutinggalkan. Segala bentuk emosi kuperas dan kuteguk sari-sarinya. Tidak ada pula yang kulewatkan. Setiap persimpangan kugambarkan dan kuteliti lika-likunya yang berarti.

Aku berjalan di bawah deraian hujan. Kubiarkan awan melepaskan panahnya ke tubuhku. Kuterima titik demi titiknya yang membasahi diri sampai ke dalam hati. Kuangkat wajah agar langit menoleh pada jiwaku yang galau. Kusambut sebuah kenangan saat jiwa bersimbah duka karena luka. Kembali kupinta pada-Nya, mohon izinkan kuobati segaris luka dengan beribu-ribu harapan yang diturunkan hujan.

Kubawa diriku menepi. Di sebuah halte kuhentikan suara-suara yang tadi menjerit-jerit. Hujan tak lagi mampu menyentuhku. Kuantarkan pikiranku menuju sebuah bayangan dan suatu waktu. Pikiranku pun melayang-layang menemui ilusi.

Di ruas jalan tempatku berteduh kulihat dirimu berlari menyelamatkan diri dari serangan hujan. Dari kejauhan kutatap penampakan tubuhmu yang samar. Kupastikan penglihatanku tidak salah mengenali bentuk badanmu. Semakin lama kuperhatikan kau berlari, semakin lantang hati menyuruhku untuk segera pergi. Sayangnya kakiku seakan terpaku dan mataku terus saja tertuju pada tubuhmu, hingga akhirnya kurasakan kehadiranmu tepat di sampingku.

Kau tepuk-tepuk pakaianmu untuk mengusir air. Kau buka jaket coklat yang kau kenakan, lalu mengibas-ngibaskannya. Mataku berkedip dan mukaku berpaling menghindari cipratannya. Kau tersadar telah mengganggu seseorang di sampingmu, lalu meminta maaf. Seketika lalu-lalang orang di sekitar kita seperti terhenti. Kau melebarkan matamu untuk memastikan bahwa seseorang yang baru saja kau ajak bicara adalah aku. Kutundukkan wajahku dalam-dalam. Berharap tak kau temukan sesuatu yang masih tersimpan di kalbuku. Sepertinya kau masih tak percaya pada pertemuan ini. Kau masih saja memelototiku dan membuat hatiku semakin ciut. Aku sama sekali tak bergeming. Ingin rasanya kubersembunyi.

Akhirnya kau mengalihkan pandanganmu pada hujan. Hujan yang dilepaskan awan semakin banyak. Hujan yang menderas ini membuatku berada di antara suka dan derita. Suka karena bertemu denganmu. Dan derita karena aku harus lebih lama menunggu hingga hujan reda. Perlahan-lahan kukumpulkan keberanian untuk turut memandang hujan. Dan hujan pun mengembalikan kenangan.

Aku ingin berteriak, mencak-mencak. Aku hanya ingin mengeluarkan semua kekesalan dan ketidakmengertianku pada sikapmu. Dan aku benar-benar melakukannya. Kata-kataku tak karuan berhamburan tanpa penyaringan membuat hati kita berantakan. Kuperlihatkan kekecewaanku dengan amarah. Membuatmu jengah dan lebih marah dariku.

Kau katakan aku tidak bisa memposisikan diriku di tempatmu. Jelas saja aku tak mampu. Aku tak habis pikir kau mengambil keputusan ini. Bukankah pernah kau ungkapkan bahwa aku yang paling mengerti dirimu, karena itu kau memintaku untuk tetap berada di sisimu. Namun apa yang terjadi saat ini, sungguh sulit kuterima dengan lapang dada.

Apapun yang kau katakan, tidak mudah untuk kucerna. Penjelasan yang paling bisa kuterima adalah rasa kita sudah tidaklah sama. Sayangnya kau terlalu rumit mengutarakannya, berbelit-belit.

Kau berdalih. Kau bilang aku salah. Ya, memang selalu aku yang bersalah. Kau sampai hati mengambil keputusan ini tentu saja karena kesalahanku. Aku yang telah melakukan kelalaian hingga rasa itu berkurang. Kau benar dan aku yang salah. Padahal jelas-jelas kau yang salah jika kau katakan tidak ada yang berubah dari perasaanmu.

Kusaksikan kenangan itu diderai rinai. Kini, kita berbasah-basahan disebabkan hujan dan kenangan. Cukup lama kita tak bersua. Sejak saat itu, tak kudengar lagi suaramu yang berat. Tak kulihat lagi wajahmu yang teduh.

Kau tersenyum bijak. Hembusan napasmu mampir di telingaku. Lalu kau sapa aku. Kau tanyakan kabarku, aktivitasku, keluargaku, dan semua tentangku yang tak lagi kau tahu sejak saat itu. Kujawab semua pertanyaanmu apa adanya. Kita hanya seperti teman lama yang dipertemukan hujan.

Hingga akhirnya kau membisu sementara hujan masih saja menderu-deru. Gelegar petir dan deru hujan membahasakan gemuruh di hati kita. Kalaulah saja volume hujan dapat dikecilkan sebentar, maka daun yang jatuh pun akan mendengar percakapan di antara dua hati.

Senang bisa melihatmu lagi. Wajahmu tampak lebih cerah. Mungkinkah karena kau akan segera menikah? Siapa sangka, akulah yang akan menerima undangan darimu lebih dulu. Ups, apa kau akan mengundangku? Aku tahu kau yang berada di sisiku saat ini bukanlah dirimu yang dulu. Kau jauh lebih baik dari waktu itu. Kini, wajahmu memancarkan kematangan dan kedewasaan. Aha, mungkin itu juga karena kau akan segera menikah. Iya kan?

Kau tahu, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatiku. Waktu itu kau katakan bahwa kau akan menerima perjodohan itu. Akan tetapi mengapa sampai sekarang kau belum juga menikah? Apakah kau tahu kalau namamu masih singgah di bait-bait doaku?    

Sekarang, di lubuk hatimu aku ini menempati posisi di bagian mana? Masihkah aku menjadi yang terdalam? Ah, masih adakah aku? Sementara kini yang kutahu, kuikuti perkembangan tulisan-tulisanmu, kau begitu mencintai-Nya. Apakah karena kau mencintai-Nya maka kau putuskan untuk menggenapkan hidupmu?

Bagaimana perasaanmu kalau kau tahu aku akan segera menyempurnakan separuh agamaku? Kecewakah dirimu? Oh, duhai Allah… Aku tahu sesungguhnya ini bukan urusanku lagi. Toh aku sudah tidak terluka. Engkaulah yang telah menyembuhkannya. Namun, belakangan ini beberapa kali ku akses lagi kenangan itu, semenjak seorang teman bercerita telah berjumpa denganmu di sebuah acara kepenulisan. Akhirnya terpikir lagi olehku bagaimana keadaanmu? Mungkinkah kau akan datang pada hari bersejarah dalam hidupku?

Kau benar-benar telah salah menilai. Hingga detik ini tidak ada yang berubah dari perasaanku. Waktu itu aku merasa tak mampu melawan orang tuaku, tak tega menolak keinginan mereka.

Bagaimana kalau ternyata perasaanmu masih sama? Duh, Rabbi… Tolonglah hamba-Mu yang lemah ini….

Kudengar kabar kau telah dilamar. Dulu, kau begitu mempermasalahkan keputusanku untuk menikah dengan orang lain. Sekarang, bagaimana bisa kau mengambil keputusan yang serupa?

Setelah kau meninggalkanku, aku bekerja keras untuk menemukan cinta-Nya. Kurajut kembali hatiku yang terbelah. Dulu, untuk yang pertama kalinya kuukir nama seseorang di ruang hatiku yang terdalam. Dalam hal ini, aku benar-benar bersalah. Mungkin karena belum pernah sampai sedalam ini, aku jadi merasa sangat terluka ketika kau memilihnya dan sama sekali tak terpikir olehmu untuk memperjuangkanku.

Sssssttt. Sudahlah. Cobalah kau dengarkan suara hujan. Mungkin kita kan temukan sebuah pesan yang tersimpan. Sadarilah bahwa kenangan itu telah menarik kita untuk kembali pada cinta sebenarnya. Cinta yang abadi. Cinta-Nya.

Maka kupejamkan kedua mataku. Pelan-pelan kutarik napasku dalam-dalam, lalu kuturunkan secara perlahan, agar dapat kudengar suara hujan. Berulang-ulang. Hingga suaramu berbisik lagi di dalam gerimis.

Aku pun telah melepaskanmu demi Dia Yang Maha Memiliki segalanya.

Ya. Aku pun begitu. Aku telah mengembalikan rasa ini pada-Nya. Yang tersisa hanya selembar kenangan yang justru menguatkanku untuk menulis di lembaran baru. Sebuah kisah baru yang mendekatkanku pada-Nya. Keputusanku ini semata-mata hanya untuk menemukan seseorang yang mampu menjadi imamku, yang menjadi jalan ketaatanku pada-Nya, hanya karena-Nya. Kubiarkan Allah yang memilihkannya untukku. Siapa pun yang terpilih, jika Allah memang berkenan maka akan kujalani sebuah pengabdian sebagai istri dengan senang hati.

Saat kubuka mata, hujan telah reda. Ketenangan pun menjalari seluruh ruang hati. Dan kau telah menghilang di dalam kerumunan ingatan. Mungkin suatu hari nanti kau kan datang lagi. Muncul kembali ke permukaan. Namun yang kau beri bukan lagi kegalauan di hati, akan tetapi keindahan dari sebuah memori. Memori saat kupelajari cinta sejati.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

El 'Athifah adalah nama pena dari Eka Rachmawati, lahir di Jakarta tahun 1988. Anak bungsu dari pasangan Sofyan Ridwan dan Yati Rokhayati (almh). Penulis telah menyelesaikan kuliahnya di jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Pendidikan Indonesia dan saat ini menjadi konselor pendidikan di SMAIT Miftahul Khoir Bandung. Selama kuliah, penulis aktif dalam organisasi Pembinaan Anak Salman ITB Periode 2007; Dept. Kesejahteraan Sosial HMJ PPB Periode 2007; Bendahara Umum HMJ PPB Periode 2008; Ketua Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) PPB Periode 2009; Dept. Keuangan BEM REMA UPI Periode 2009. Penulis juga pernah mendapatkan Juara ke-2 Lomba Cerpen GRAFIKA UPI 2010 dan dua cerpennya yang berjudul Nota Cinta dan Bersandar pada-Mu terdapat di dalam buku antologi Pelangi dari Surga dan Kita Kata Cinta.

Lihat Juga

Karena Hujan Adalah Kesempatan