Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Beramal Siyasi, Why Not?

Beramal Siyasi, Why Not?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Eduardo Olivares, Cebas Computer GmbH)

“Siyasah adalah keniscayaan dalam berdakwah”

“Pergilah (Musa) pada Firaun, sesungguhnya ia sangat tiranik” (Q.S Thaha: 24)

dakwatuna.com Wahai saudaraku, beramal siyasi (berpolitik) adalah sebuah keniscayaan dalam perjalanan dakwah yang panjang dan penuh onak dan duri. Dakwah ini butuh bahan bakar berupa kesiapan ilmu, butuh pelumas berupa kejernihan ruhiyah, dan tentunya membutuhkan kerangka untuk mengembannya. Tak banyak orang mampu menerjemahkan jalan ini, juga sungguh sangat sedikit pengembannya yang benar-benar paham arti hakiki dari makna menyeru kebenaran, namun jalan ini begitu indah untuk mereka yang mengharapkan cinta sejati dari Rabbnya, mereka yang senantiasa  menjadikan keridhaanNya adalah orientasi di setiap serpihan  langkah-langkah menapaki jalan yang indah ini.

Akhir-akhir ini kader dakwah yang belum syumul pemahamannya terhadap dakwah, sering di jumpai mereka tanpa sadar banyak yang mengidap penyakit sekularis dalam berdakwah. Kenapa dikatakan demikian? Oke mari kita lihat sejenak kehidupan kita di kampus yang merupakan laboratorium kita dalam berdakwah, yang merupakan arena latihan-latihan kita dalam beramal dalam jamaah dakwah, kampus juga merupakan miniatur sebuah wadah lahirnya peradaban dan kampus pulalah ruang kelas dimana kita akan belajar apa itu politik.

Banyak orang yang under estimate terhadap kata politik atau kata siyasi bahkan ini terjadi di kalangan kader dakwah itu sendiri. Beramal siyasi ini seharusnya merupakan suatu kewajiban yang harus ada dalam setiap agenda-agenda kita. Cita-cita kita yang begitu tinggi yaitu menjadikan Islam tidak hanya sebagai sebuah ajaran keagamaan saja tapi lebih dari itu kita mencita-citakan menjadikan Islam sebagai kiblat suatu peradaban yang tinggi (ustadzyatul alam).

Banyak alasan untuk kita beramal siyasi, mari kita lihat lembaran sejarah bagaimana kalimat tauhid ditegakkan di muka bumi ini. Tak sedikit pun kemenangan risalah agung ini tak luput dari peran amal siyasah di dalamnya. Lupakah kita dengan nabi Ibrahim AS yang ketika ia menghancurkan berhala yang bercokol di kehidupan umatnya saat itu, beliau sengaja menyisakan berhala yang terbesar dan mengalungkan kapak yang ia gunakan untuk menghancurkan berhala pada yang ia sisakan. Ingatkah kita dengan siyasahnya nabi Sulaiman AS ketika ia memindahkan singgasana ratu Bilqis. Bahkan kenapa Rasul kita Muhammad SAW harus berhijrah ke Madinah? Dan kenapa juga beliau menandatangani beberapa perjanjian dengan para musuh-musuh dakwah tauhid? serta kenapa harus ada piagam madinah?. Kemudian kenapa Khalid bin walid diberhentikan sebagai panglima di tengah kegemilangan karirnya saat itu.

Kita juga tak bisa menutup mata ketika tentara Islam pada peperangan-peperangan jumlah mereka sedikit namun mampu mengalahkan para musuhnya yang jumlahnya bahkan sangat jauh lebih banyak. Sejarah nasional kita pun mencatat kenapa Soekarno mampu memanfaatkan politik balas budi kaum penjajah hingga akhirnya kemerdekaan Indonesia terploklamirkan. Dan Tanya kenapa dakwah harus terjun kearah amal siyasi? Untuk menjawab semua pertanyaan itu marilah kita berpikir dibalik pikiran, itulah kenapa dakwah perlu di usung dengan agenda-agenda strategis penuh siyasah di dalamnya. Jadi tunggu apa lagi mari kita beramal siyasi untuk menyongsong terbitnya matahari kejayaan Islam di muka bumi ini. Politik (siyasah) perlu kita dakwahi dan dakwah perlu kita siyasati. Begitu pun dengan dakwah kampus, saya pikir tak akan terwujud yang namanya kampus Islami jika dakwah di usung pula oleh agenda-agenda siyasah kampus. Semoga para muslim negarawan di berikan kekuatan dan keistiqamahan untuk senantiasa melajukan roda siyasah di kampus. Dan pada akhirnya kita meminta pertolongan Allah rabbul’izzati untuk memenangkan agenda-agenda siyasah dakwah kita di kampus.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Eru Zain
Mahasiswa di Purwokerto. Salah seorang anggota KAMMI Daerah Purwokerto. Anak pertama dari 3 bersaudara. Anggota juga di Forum Lingkar Pena Purwokerto.

Lihat Juga

Ilustrasi. (ridwansyahyusufachmad.wordpress.com)

Medan Perang Intelektual Dakwah Kampus