Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Masih (Ingin Selalu) Berada di Sini

Masih (Ingin Selalu) Berada di Sini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.”(QS. Al Hajj: 23-24).

Waktu, kata Bang Syamsudin Kadir adalah zat yang berada di luar kekuasaan kita. Waktu ada bukan karena kita tapi ia bersama kita. Maka kita ada di sini, di dunia ini, dalam suasana yang terus berubah karena pergiliran waktu. Ia terus berjalan dari detik ke detik; dari hari menjadi pekan, dari pekan menjadi bulan, dan dari bulan menjadi tahun. Begitulah seterusnya hingga menjadi zaman berperadaban. Tentang waktu, kadang dalam sepi, saya merasa diri ini ternyata begitu cepat berubah. Seiring berjalannya waktu, diri yang semula jauh dari nilai kebenaran, secara tiba-tiba dan tak terduga, diri ini sekarang berada dalam lingkaran orang-orang yang merindukan surga. Diri ini, ya, tiba-tiba saja berada bersama orang-orang yang sedikit itu, bersama-sama melantunkan indahnya rangkaian kata-kata dalam Qur’an yang mulia. Dan hati ini seakan menemukan pasangan sejatinya, fitrah kesucian dan nurani. Saya merasa sangat bahagia berada di sini, bersama mereka, bersatu padu untuk menegakkan kalimatullah.

Tetapi kemudian saya kembali merenung, mengapa ada juga, banyak di antara mereka, yang bersamaan dengan semakin bertambahnya usia dari dakwah ini, ada juga yang kemudian satu persatu mulai mundur, dan bahkan menghilang tanpa jejak. Inilah yang kemudian dikatakan sebagai seleksi alam. Dan ternyata seleksi alam in sampai kapan pun akan tetap berlaku, di belahan bumi manapun, termasuk dijalan mulia ini. Proses seleksi alam yang kemudian terjadi dalam dakwah ini akan terus terjadi, pergiliran-pergiliran masa yang terjadi, ada yang masuk, ada juga yang keluar, begitu seterusnya.

Yang menjadi satu titik poin pembicaraan ini adalah, betapa pentingnya seorang kader bagi proses keberlangsungan dakwah. Lebih utama lagi, betapa sangat pentingnya dakwah ini memiliki kader yang sadar akan tugas, peran dan fungsinya dalam dakwah ini. Bukan hanya kader yang kemudian memiliki jiwa ‘taqlid’ yang seharusnya ada dalam dakwah ini. Karena sekali lagi dakwah ini memerlukan satu bentuk tafsiran baru, dan itu hanya dimiliki dari kader-kader yang sadar, yang memiliki kreativitas dalam amal. Sehingga agenda-agenda dakwah yang kita usung memperoleh nafas baru yang lebih segar.

Pada akhirnya, kesadaran ekspektasi akan menjelaskan harapan-harapan yang ingin kita peroleh dari menjadi kader. Harapan itu ada yang terkait dengan harapan jauh di akhirat. Ada juga harapan yang dekat di dunia. Pada akhirnya inilah puncak hiburan, penyegar dan pendorong bagi setiap aktivis dakwah. Spiritnya terdapat pada doa-doa abadi yang selalu kita ucapkan, “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” Harapan sangat jauh adalah surga. Sesuatu yang harus terus menerus kita hadirkan, kita bayangkan, dan kita angankan. Sedangkan harapan-harapan dekat adalah kebahagiaan dunia, kejayaan di dunia, serta kesempatan memakmurkan bumi bagi kehidupan yang lebih baik untuk semua. Inilah alasan, mengapa aku masih di sini…..

Memburu dunia kadang merendahkan jiwa
Sedang memburu akhirat adalah kemuliaan jiwa
Maka bagaimana kita memburu apa yang merendahkan untuk mencari apa yang fana
Serta meninggalkan yang memuliakan untuk mencari yang abadi
Dunia adalah tempat yang gersang
Lebih gersang lagi adalah hati-hati yang memburunya
Sedang akhirat adalah tempat yang makmur
Dan lebih makmur lagi adalah jiwa-jiwa yang mencarinya.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 7,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dwi Purnawan
Jurnalis online dan pengamat socmed.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Indra Fitriyana)

Kader “Siang Malam Tunggu Panggilan”