Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Mau Kalah dengan “Kotoran”

Jangan Mau Kalah dengan “Kotoran”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comNegara kita tercinta Indonesia ini, memiliki kekayaan alam yang melimpah dari mulai Sabang sampai Merauke, dari dalam laut sampai puncak gunung. Namun kenapa rakyat Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Salah satu jawabannya ialah karena lemahnya mentalitas penduduk Indonesia. Salah satunya ditandai dengan etos kerja penduduk Indonesia yang begitu rendah. Bila kita perhatikan jika melihat para pekerja yang berada di lingkungan kedinasan atau pemerintah sebagian ada yang tertangkap basah sedang berada di Mall saat jam kerja, main catur saat kerja dan lainnya. Hal ini merupakan aib bagi bangsa Indonesia. Mereka yang bolos bekerja tidak merasa butuh untuk membuat sebuah manfaat demi kemajuan bangsa ini.

Orang Indonesia kebanyakan sudah puas dengan hanya bekerja, dapat gaji, makan, tamasya dan Shopping. Dan tidak berfikir untuk berbuat lebih padahal orang yang besar ialah ketika dia hidup, ia banyak memikirkan kebutuhan orang lain juga. Sebuah ironi, orang yang sudah dapat pekerjaan saja belum bisa berbuat banyak untuk memberikan manfaat untuk negeri ini, apalagi mereka yang belum dapat pekerjaan dan punya mentalitas etos kerja lemah. Sudah menganggur tidak malu meminta kepada orang tua, dan tidak berniat berkarya. Alasannya karena susah cari kerja, pendidikan rendah, dll. Padahal jika ingin sukses tidak perlu pendidikan tinggi, Andrie Wongso telah membuktikannya, ia ialah seorang motivator terbaik saat ini di Indonesia, walaupun beliau tidak tamat sekolah dasar, tapi karena mentalitas nya baik, maka ia bisa sukses seperti sekarang, yang gajinya per jam sekitar 30 juta,. Wooww ruuar biasa bukan, seorang yang tidak tamat SD bisa mendapatkan penghasilan sebesar itu?

Dan anehnya di Indonesia masih banyak pemuda yang memiliki tubuh kuat dan akal sehat, tapi hobinya hanya “nongkrong-nongkrong” di perempatan bermain gitar, becanda-becanda tidak jelas. Dan tidak bisa membuat sebuah manfaat untuk orang di sekitarnya dan tidak punya rasa malu masih minta sama orang tuanya, maka orang yang seperti itu sedang tidak menyadari hakikat hidup dan kehidupan. Bahwa manusia terbaik dalam Islam ialah manusia yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya. Tapi mereka bahkan tidak berfikir untuk memberikan manfaat untuk dirinya dan orang di sekitarnya.

Bila orang yang hidup tidak bisa memberikan manfaat apapun bagi orang lain, maka ia KALAH dengan KOTORAN kambing, yang walaupun namanya kotoran masih bisa bermanfaat untuk menyuburkan tanaman, menjadi peluang kerja petani untuk membuat pupuk kandang dan menghasilkan uang. Botol bekas minum air mineral jika di manfaatkan bisa menjadi kerajinan yang unik, sampah plastic bisa di daur ulang untuk dibentuk dengan banda yang lebih bermanfaat lagi. Maka malu lah kita jika hidup tidak bisa memberikan manfaat untuk orang di sekitar kita. Dan manfaat itu tidak hanya berupa uang, tapi juga tenaga, pikiran atau jasa. Misalnya, menyingkirkan paku di jalan, membuat status di Facebook sarat dengan nilai-nilai kebaikan, membantu orang tua membersihkan rumah, kerja bakti dll. Intinya marilah kira berusaha untuk bisa memberikan manfaat yang banyak untuk lingkungan sekitar kita dan jangan mau kalah dengan KOTORAN yang masih punya manfaat.

“Orang yang hidup untuk diri nya sendiri akan mati sebagai orang kerdil, dan orang yang hidupnya bermanfaat untuk banyak orang akan mati sebagai orang besar”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Kebiasaan Ahok berkata-kata kasar jadi contoh buruk bagi generasi muda.  (merdeka.com)

KPI Kecam Ahok yang Berkali-kali Sebut Kata-Kata Kotor saat Live di Televisi