Home / Berita / Perjalanan / Jakarta Islamic Centre, Dari Gelap Menuju Terang Benderang

Jakarta Islamic Centre, Dari Gelap Menuju Terang Benderang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Jakarta Islamic Centre (JIC). (beritajakarta.com)

dakwatuna.comPernah dengar ada yang namanya JIC? Sebuah masjid yang terletak di Jakarta, tepatnya Jakarta utara dekat dengan pasar Koja Jakarta Utara. Konon, menurut pihak  badan pengelola JIC, JIC adalah  masjid terbesar di Asia Tenggara tanpa tiang mengalahkan ‘rivalnya’ yaitu masjid Istiqlal, Jakarta.

Ketika memasuki area JIC, Anda akan temui halaman yang begitu luas, lengkap dengan air mancur utama yang terletak di pintu kedua JIC. JIC adalah masjid yang tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah wajib bagi para pemeluknya.

Namun, JIC adalah sarana rekreasi untuk menambah wawasan. Karena di dalamnya dilengkapi dengan sebuah perpustakaan yang sangat nyaman dengan koleksi berbagai macam referensi buku-buku Islam yang cukup lengkap. Dan tak hanya itu, jika Anda hobi atau tertarik dengan yang namanya siaran Radio Anda dapat berpartisipasi atau hanya melihat bagaimana proses siaran itu berlangsung.

Yap, tepat sekali, JIC dilengkapi dengan siaran Radio JIC, meski belum sebagus dan sepopuler Radio Dakta yang cukup terkenal di Jakarta, paling tidak Radio JIC,  telah menempati posisi tersendiri di hati para penggemar setianya.

Jika Anda merasakan asyiknya siaran di Radio JIC, dijamin pasti akan ketagihan. Dibalik bangunannya yang kokoh dan cukup megah, ternyata JIC memiliki ceritanya tersendiri.

Tidak banyak yang tahu mengenai sejarah JIC itu sendiri, bahkan aku pun mendengarnya pertama kali dari ibuku sendiri yang bercerita mengenai sejarah JIC.

JIC singkatan dari Jakarta Islamic Centre dulunya adalah sebuah tempat hitam yakni Lokasi resoliasasi Kramat Tunggak, Tanjung Priok Jakarta Utara.  Lokres biasa disingkat adalah sebuah nama Panti Sosial karya Wanita Teratai Harapan Kramat Tunggak, yang terletak di Jalan Kramat Jaya RW 019, Kelurahan Tugu Utara, kecamatan Koja, Jakarta Utara. Luasnya mencapai 109.435 m2.

Kramat Tunggak, begitu biasa ia disapa,  begitu populer tidak hanya di Indonesia, namun juga terkenal hingga ke seluruh Asia Tenggara sebagai pusat jajanan laki-laki hidung belang. Pada tahun 1970an, tahun dimana Kramat Tunggak ini pertama dibuka, terdapat 300 orang WTS dan 76 orang germo. Jumlah ini terus bertambah setiap tahunnya. Pada tahun 1999, tahun dimana Kramat Tunggak ini ditutup, jumlahnya mencapai 1615 orang WTS di bawah asuhan 258 orang mucikari. Mereka tinggal di 277 unit bangunan yang memiliki 3.546 kamar. Hal ini menimbulkan permasalahan baru khususnya bagi suku Betawi, suku asli Jakarta. Dimana Kaum Betawi identik dengan komunitas Islam yang terbuka, toleran, bersemangat dan sangat mencintai Islam sebagai identitas utama kebudayaan mereka. Kondisi inilah yang menimbulkan desakan tiada henti-hentinya dari ulama dan masyarakat Panti Sosial Karya Wanita, Kramat Tunggak ini agar segera ditutup. Didukung oleh penelitian mengenai sejauh mana penolakan masyarakat mengenai keberadaan Kramat Tunggak ini. Penelitian ini dilakukan oleh Dinas Sosial Bersama Universitas Indonesia.

Dari hasil penelitian tersebut, akhirnya pada tahun1998 dikeluarkannya SK Gubernur KDKI Jakarta No.495/1998 tentang penutupan panti sosial tersebut, selambat-lambatnya akhir Desember 1999. Pada tanggal 31 Desember 1999, Lokres Kramat tunggak resmi ditutup melalui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 6485/1998. Kemudian, Pemprov DKI membebaskan lahan eks lokres tersebut.

Setelah dibebaskan banyak muncul gagasan terhadap lokasi bekas Kramat Tunggak tersebut, ada yang mengusulkan pembangunan pusat perdagangan (mall), perkantoran dan lain sebagainya. Namun Gubernur H. Sutiyoso memiliki ide lain yaitu membangun Islamic Centre. Sebuah ide yang cemerlang yang menyatukan kelompok-kelompok lain yang awalnya berbeda-beda.

Pada tahun 2001 Gubernur Sutiyoso melakukan sebuah Forum Curah Gagasan dengan seluruh elemen masyarakat untuk mengetahui sejauh mana dukungan masyarakat terhadap sebuah perubahan yang telah dicanangkan. Ternyata 24 Mei 2001 dukungan itu semakin menguat. Gagasan untuk membangun Jakarta Islamic Centre (JIC) dikemukakan Gubernur Sutiyoso kepada Prof. Azyumardi Azra (Rektor UIN Syarif Hidayatullah) di New York di sela-sela kunjungannya ke PBB pada tanggal 11-18 April 2001 dan mendapatkan respon yang sangat positif.

Setelah adanya konsultasi terus menerus antara masyarakat, ulama, praktisi baik skala lokal maupun regional bahkan international akhirnya diwujudkan dalam sebuah master plan pembangunan JIC pada tahun 2002. Kemudian dalam rangka memperkuat ide dan gagasan pembangunan JIC, pada Agustus 2002 dilakukan Studi Komparasi ke Islamic Centre di Mesir, Iran, Inggris dan Perancis. Pada tahun yang sama, dilakukan perumusan Organisasi dan Manajemen JIC. Kehadiran JIC ternyata sesuatu yang sangat fenomenal sebagai produk zaman yang strategis dan monumental.

Dalam rangka menyongsong cita-cita besar umat Islam yang digantungkan kepada Jakarta Islamic Centre, dikeluarkan SK Gubernur KDKI No. 99/2003 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelola Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre). Selanjutnya pada tahun April 2004, Badan Pengelola Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) diangkat/dilantik melalui SK Gubernur KDKI Jakarta No. 651/2004.

Namun selanjutnya, kehadiran JIC tidak sekedar hanya merubah tanah hitam menjadi putih, atau hanya sebuah masjid saja, melainkan lebih dari itu JIC diharapkan menjadi salah satu simpul pusat peradaban Islam di Indonesia dan Asia Tenggara yang menjadi simbol kebangkitan Islam di Asia dan Dunia.

Semoga cerita dibalik JIC ini dapat mengilhami tempat-tempat hitam yang lainnya agar berubah haluan menjadi tempat suci untuk melakukan ibadah wajib bagi pemeluk Islam lainnya.

Referensi: http://islamic-center.or.id/sejarah-pembangunan.html

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

a long life learner, staff humas KAMMI MADANI, Aktivis Forum Remaja Masjid Jakarta Islamic Centre (FORMAS JIC).
  • Subhanallah, kalau bisa disertakan foto asli dari JICnya juga, biar Masyarakan Jakarta tau kalau di Jakarta ada Masjid Terbesar Tanpa Tiang di Asia Tenggara, dimana di Masjid tersebut jg sekarang sedang dalam proses pembangunan “Universitas” atau “Kampus” saya kurang tau Kampus apa xD dan jg berbagai macam pembangunan gedung yg terus dilaksanakan hingga detik ini, apalagi disekitar Masjid tersebut ada juga Koja Trade Mall yg menggunakan arsitektur/tema sama dengan JIC,
    perpusnya jg gak kalah hebat, ada Internet Gratis + Wifi gratis jg buat para pengunjung,
    biasa paling ramai tiap Ahad Pagi banyak warga yg memanfaatkan JIC untuk Olahraga Pagi atau sekedar Jalan Pagi mengelilingi komplek JIC yg lumayan luas

Lihat Juga

Muslim Rohingya yang termarjinalkan di Myanmar (aa.com.tr)

Belasan Masjid dan Madrasah di Myanmar Terancam Diratakan dengan Tanah

Organization