Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ini Sebuah Kebutuhan, Bukan Sebuah Keterpaksaan

Ini Sebuah Kebutuhan, Bukan Sebuah Keterpaksaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comMungkin sebagian dari kita, bertanya-tanya. Mengapa kita berada di jalan ini? Jalan ini bukanlah jalan yang ditaburi bunga-bunga harum, bukan jalan yang mudah ditempuh. Namun, jalan ini adalah jalan yang penuh onak dan duri. Jalan yang tidak semua orang bisa menikmatinya dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keistiqamahan.

Bukankah kita sepatutnya iri, melihat mereka yang menghabiskan masa mudanya untuk bersenang-senang, tanpa perlu memikirkan suatu hal yang mungkin hanya memberatkan pikiran saja. Tak perlu menghadiri SYUTING* untuk membahas masalah tertentu, tak perlu menghadiri kajian yang terasa menjenuhkan, tak perlu mengingatkan orang lain untuk terus berbuat baik.

Apakah keberadaan kita di jalan ini, hanyalah sebagai bentuk sebuah keterpaksaan, ikut-ikutan, tanpa mengetahui orientasi sesungguhnya kita berada di jalan ini. Atau jangan-jangan ki dari penampilan kita mendukung mengenai eksistensi keberadaan di jalan ini, namun hati kecil kita menolaknya karena belum siap menerima.

Teringat pada sebuah buku kecil, namun manfaatnya sungguh luar biasa.”Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”

“Sesungguhnya keberadaan kami di jalan ini adalah kebutuhan kami sendiri. Rasa kebutuhan yang begitu mendalam. Bahkan lebih dari sekedar kebutuhan, karena kami melangkah di jalan ini dengan penuh rasa syukur atas hidayahNYA kepada kami.

Dia mampu untuk melakukan sesuatu tanpa memerlukan kita di jalan ini, Dia mampu untuk mengatur segala proses yang terjadi di alam semesta ini sendiri, Dia mampu untuk menegakkan agama ini sendiri, tanpa perlu membutuhkan bantuan kita.  Namun, tahukah sobat? Bahwasanya Dia sedang menguji kita. Menguji keistiqamahan kita. Menguji keteraturan barisan kita. Kebutuhan kita untuk mencari amal sebanyak-banyaknya, sebagai penolong kita dari azab Nya adalah dengan bergabungnya kita di jalan ini.

Bahwasanya Dia akan murka jika tak ada di antara kita yang berjuang untuk menyampaikan kebenaran. Dia akan memberikan azab kepada kita semua tanpa terkecuali. Karena keberadaan sekelompok orang yang menyuarakan kebenaran, akan menjadi penghalang turunnya azab ALLAH.

Jika sampai saat ini kita masih merasa penuh sesak, letih, ingin mundur dari jalan ini karena beberapa hal. Pikirkanlah! Karena sepatutnya lah kita bersyukur menjadi “pioneer” di jalan ini. Mengingat akan begitu banyak rintangan dan hambatan yang akan kita temui, tidak bisa merasakan hasil perjuangan secara langsung. Karena bagaimanapun kita menyeru pada kebaikan. Semuanya kita kembalikan pada sang pemilik hidayah. HidayahNya akan diturunkan pada hamba-hambaNYA yang membuka diri, pada mereka yang mencari, bukan mereka yang menunggu.

Di jalan ini pula kita akan bertemu dengan berbagai macam karakter penempuh perjalanan, untuk itulah kita dituntut untuk menjunjung tinggi rasa toleran di antara sesama. Jangan mudah terpecah belah karena hal-hal yang tak perlu diperdebatkan. Lihatlah kebaikan, dan kelebihan mereka. .Jadikanlah mereka sebagai sumber motivasi untuk terus meningkatkan kinerja penempuh perjalanan. Contohlah Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatnya yang masing-masing mereka memiliki kelebihan satu sama lain. Mereka saling melengkapi tanpa perlu membanding-bandingkan satu sama lain. Karena setiap manusia memiliki cara dan kelebihannya tersendiri untuk tetap bertahan di jalan ini.

Seseorang bertanya.
“Kenapa perjuangan itu pahit?”
“Karena Surga itu manis…”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,68 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

a long life learner, staff humas KAMMI MADANI, Aktivis Forum Remaja Masjid Jakarta Islamic Centre (FORMAS JIC).
  • Sip

  • seorang ustadz pernah mengibaratkan, dakwah itu seperti gerbong kereta api. ada atau tidak ada kita, kereta akan tetap berangkat. bukan kereta yang butuh kita. tapi kita yang butuh kereta untuk sampai tujuan. ikhwati fillah, keretanya adalah dakwah dan tujuannya adalah surga. Ya Allah kumpulkan hamba bersama dan keluarga hamba di surga Mu bersama dengan orang para Nabi,sholeh, orang yang shidiq dan orang yang mati syahid. amin

Lihat Juga

Kajian Core Competence Dakwah Kampus