03:25 - Sabtu, 29 November 2014

Kasih Sayang Allah

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Kiptiah Hasan - 27/02/12 | 19:30 | 03 Rabbi al-Thanni 1433 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Maha Suci Allah yang telah mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya iman. Cahayanya tidak akan menyilaukan mata, justru akan menimbulkan pendaran pada orang-orang di sekelilingnya. Meskipun tidak semua mau terkena pendarannya, tidak apa, terpenting kita telah membagi sinarNya. Karena hanya hati yang telah merasakan nikmatNya bercengkerama dengan Allah yang tak sanggup menghalau cahaya iman. Dan karena hanya Allah yang mampu membuka pintu hidayah kepada hamba-hambaNya.

Jika bukan karena kasih sayang Allah yang teramat sangat pada hambaNya, pasti Dia akan tetap membiarkan kita jatuh pada lubang kegelapan. Jangan pernah menyalahkan Allah atas keburukan yang terjadi. Hanya kita saja yang selalu menghalau kasih sayangNya.

Kita adalah sumber kelemahan, sedang Allah adalah sumber kekuatan. Allah tidak membutuhkan apapun dari kita, Dia yang menciptakan kita. Kita yang sangat membutuhkan uluran kasih sayangNya. Amat sombongnya diri kita, jika telah mampu mengucapkan bahwa apa yang kita usahakan adalah jerih payah sendiri. Amat sombongnya kita, jika dalam helaan nafas pernah berniat untuk melupakan bahwa ada campur tangan Allah di dalamnya. Rabbighfirlii…

Kita lemah, kita hina, bagai debu yang terinjak. Adakalanya derajat kita terangkat, adalah kebaikan Allah kepada hambaNya. Hanya Allah, semua karena Allah. Matahari yang terbit dari Timur kemudian kembali tenggelam di Barat. Burung-burung yang melanglang mencari rizki dan pulang dengan perut kenyang. Sehelai daun yang jatuh, semua adalah takdirnya. Tiada sedetik episode seluruh alam semesta kecuali dengan campur tanganNya.

Terjatuh, semua orang pernah jatuh. Tapi tidak semua orang tersadar sedang jatuh atau tidak. Terluka, semua orang pernah terluka. Jangan dulu menghakimi Allah. Jangan dulu menggugat Allah. Jangan dulu mengasingkan Allah di dalam pikiran terlebih di dalam hati. Jika kita lupa pun, Allah tidak merugi. Kita yang akan merugi, terhapus ketenangan di dalam hati.

Sejenak ingat Allah, sejenak saja. Rasakan kehadirannya teramat dekat melebihi urat leher. Rasakan suara kita terdengar jelas olehNya. Rasakan cerita kita berada dalam genggamanNya. Karena Allah pasti akan menggenggam segala resah, doa dan mimpi-mimpi kita.

Jika kita pernah merasa teramat jauh dariNya. Segeralah merangkak menujuNya. Karena Allah akan berlari kepada kita. Tiada lagi kebahagiaan yang mampu melebihi kebahagiaan saat hati terasa tenang kala menyebut   nama Allah.

Kita hanya bisa berusaha, berusaha dan berusaha berjalan kepadaNya. Jatuh bangun kita, biar Allah saja yang tau. Biar Allah yang nilai. Sungguh, kita tidak akan bisa tanpa Allah.

Jangan pernah melihat siapa yang menulis. Karena sebagai hamba, tidak pernah terlepas dari dosa.

Tapi lihatlah isinya, jika bermanfaat, maka amalkanlah.

Allahua’lam.

Renungan diri sendiri.

Tentang Kiptiah Hasan

Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu' [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (19 orang menilai, rata-rata: 8,47 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
93 queries in 1,360 seconds.