Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Banyak Tapi Sedikit

Banyak Tapi Sedikit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comPada saat Hajjaj bin Yusuf sedang duduk menikmati kemegahan istananya, tiba-tiba didatangkan kepadanya seorang anak kecil. Ketika dia memasuki istana Hajjaj, dia tidak memedulikan keberadaan Hajjaj. Dia malah melihat-lihat kemegahan bangunan-bangunan istana yang begitu mengagumkan. Lalu, terjadi dialog: Hajjaj, “Wahai anak kecil, aku menilai bahwa kamu pandai dan cerdas, apakah kamu hafal Al-Qur’an?”

Anak kecil, “Aku takut Al-Qur’an tersia-siakan, karena itu aku menghafalkannya.” Hajjaj, ”Bacalah beberapa ayat Al-Qur’an.” Lalu, anak kecil itu membaca surat An-Nashr, mulai dari awal hingga selesai. Namun, pada bacaan ’Yadkhuluna fi Dinillahi Afwaja’, dia menggantinya dengan bacaan ’Yakhruju min Dinillahi Afwaja’ (Mereka keluar dengan berbondong-bondong dari agama Allah).

Sontak Hajjaj kaget seraya berkata, ”Celaka kamu, bukan ’Yakhruju fi Dinillahi’, tapi ’Yadkhuluna fi Dinillahi’. Anak kecil itu menolaknya seraya berkata, ”Memang, dahulu mereka berbondong-bondong masuk agama Islam, tapi sekarang berubah, mereka berbondong-bondong keluar dari agama Islam.

Hajjaj, ”Kenapa begitu?” Anak kecil, ”Karena perbuatanmu yang kejam terhadap mereka.” (Syaikh Nashir Asy-Syafii dalam bukunya Dai-dai Cilik, Kisah Anak Ajaib Penuh Inspirasi).

Kisah di atas mengingatkan kita tentang kondisi umat Islam saat ini yang banyak secara jumlah, tetapi sebenarnya sedikit secara kualitas. Karena itu, ketika anak kecil di atas membaca ayat ’Yadkhuluna fi Dinillahi Afwaja’, dirubah menjadi ’Yakhruju min Dinillahi Afwaja’. Hal ini pun sudah diprediksi sebelumnya oleh Rasulullah SAW.

Diriwayatkan dari Thauban RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Maka para sahabat pun bertanya, ”Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?” Sabda Nabi SAW, ”Bahkan saat itu mereka lebih banyak tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Para sahabat bertanya lagi, ”Mengapa sebanyak itu tetapi seperti buih di laut?” Jawab Rasulullah SAW, ”Karena ada dua penyakit yang menimpa mereka yaitu penyakit al-Wahn.” Kontan sahabat pun kembali bertanya, ”Apakah itu al-Wahn?” Rasulullah SAW bersabda, ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” Wallahu a’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (29 votes, average: 8,79 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
H. Imam Nur Suharno, MPdI.
Dosen SETIA Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat.
  • Ofexxjrr

    Subhanallah…….

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Tadabbur Al-Quran Surat Al-Qiyamah Ayat 37-40: Kebangkitan Setelah Kematian