Home / Berita / Opini / Dalam 23 Tahun Lingkaran Tarbiyah…

Dalam 23 Tahun Lingkaran Tarbiyah…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ukkiunso3d.wordpress.com)

dakwatuna.comDi suatu pagi, saya berdiskusi dengan seorang sahabat. Tentang mundurnya beberapa mutarabbinya, tak lama berselang dengan berita heboh seorang anggota DPR dari PKS yang tertangkap kamera melihat video yang tidak selayaknya di tempat kerja. Ditambah lagi perseteruan para pimpinan partai dengan seorang pendirinya yang juga hengkang karena kecewa. Bisa jadi hal tersebut – yang menjadikan citra dakwah negatif – memang menjadi pemicu akhwat-akhwat tersebut untuk hengkang, yang mungkin sebelumnya telah ada akumulasi ketidaknyamanan dan ketidakpercayaan, demikian simpul sahabat saya tersebut.

Saya merenung. Jangankan untuk mereka yang baru beberapa tahun memasuki tarbiyah ini. Bahkan untuk saya yang hampir dua puluh tiga tahun menikmati tarbiyah ini pun, dua berita yang saya sebut sebelumnya, sangat mengguncangkan. Saya sampai meminta nasihat, pandangan, dan saran dari para ustadzah untuk menguatkan kepercayaan dan meluruskan dis-orientasi saya. Alhamdulillah, it works. Memang, nasihat yang tepat di saat yang tepat akan sangat membantu.

Sebenarnya, jujur saja, tidak hanya berita-berita heboh tersebut yang kadang membuat saya surut. Berpuluh tahun bersama tarbiyah dan dakwah dengan berbagai situasinya, tentu selalu ada yang namanya dinamika. Dinamika semangat dan lesu. Dinamika pesimis dan optimis. Dinamika sangat percaya dan kurang percaya. Dinamika setuju dan berat hati. Dinamika cinta dan sebal. Itu selalu ada. Namun, Alhamdulillah, saya masih bersama dakwah dan tarbiyah ini, hingga hari ini.

Ketika saya mengalami dinamika yang negatif jika diumpamakan sebagai grafik, ada beberapa hal yang menjadi obat mujarab untuk menyembuhkannya.

Pertama adalah renungan, apa yang saya cari dalam dakwah dan tarbiyah ini? Yang saya cari adalah ridha Allah, lain tidak. Untuk mencari ridha Allah, saya harus berusaha sendiri. Ini perjuangan sepanjang hidup. Tak bergantung pada manusia-manusia dengan segala kealpaan dan kekurangannya, karena dalam perjalanan hidup mencari ridha Allah saya pun pasti tidak akan luput dengan kekurangan. Maka, ketika jamaah ini menunjukkan banyak ketidaksempurnaannya sebagai kumpulan manusia, sikap para qiyadah di berbagai level yang terkadang tidak saya sepakati, permasalahan-permasalahan lain yang terkadang mengguncang ketsiqahan, hal ini yang saya recall berulang-ulang. Selama saya masih melihat peluang bisa beramal untuk mencari ridha Allah saya akan tetap di sini, insya Allah.

Kedua adalah renungan apa yang telah saya dapatkan dalam dakwah dan tarbiyah ini? Hal ini menjadi rem yang pakem ketika situasi menekan saya untuk menjadi apatis dan pesimis luar biasa sehingga ingin meninggalkan gelanggang. Bagi saya dakwah dan tarbiyah adalah anugerah besar dalam kehidupan. Tanpa hidayah Allah yang dititipkan lewat sarana ini, rasanya mustahil saya menjadi saya yang sekarang. Mengenal Allah, mengenal Islam, mengenal hidup, mengenal dakwah, tumbuh dan besar bersamanya selama dua puluh tiga tahun selalu menghasilkan ketenangan hidup, yang saya simpulkan, saya telah menemukan jalan hidup benar. Ini adalah hadiah Allah yang terbesar dalam hidup saya. Maka, sampai akhir hidup saya, saya tak akan pernah melupakannya.

Ketika saya suntuk dengan manuver-manuver politik menyebalkan dari saudara-saudara lain, terkaget-kaget dengan fenomena hilangnya kepekaan sosial dari mereka yang sudah hidup sangat berkecukupan karena menjadi aleg, saya masih mempunyai mereka. Sahabat-sahabat yang shalih/shalihah yang selalu berbagi semangat melakukan amal shalih, tanpa keuntungan dunia mereka dapatkan. Ah, yang buruk hanyalah segelintir, lihatlah sahabat yang baik dan shalih masih demikian banyaknya… Ketulusan, keikhlasan, dan kebesaran jiwa masih lebih banyak di sini… Maka kenapa saya harus mundur dari gelanggang ini hanya karena ulah sebagian kecil dari saudara? Maka, mengapa harus saya tinggalkan sahabat-sahabat yang selalu mengingatkan saya akan amal shalih dan akhirat karena ulah segelintir lainnya?

Karunia berumah tangga, menjadi istri dan menjadi ibu adalah juga dihadirkan Allah lewat sarana ini. Tarbiyah lah yang mengantarkan saya menikmati karunia Allah ini. Dikaruniai suami yang baik dan shalih, dibekali idealisme untuk menikah secara Islami dan menjalankannya, dibekali konsep mendidik anak yang baik, walau jujur saja saya tak juga menjadi pandai mengimplementasikan semuanya. Ya, peran tarbiyah tak bisa dilupakan, ialah yang membentuk saya.

Yang lainnya adalah karunia Allah berupa pelajaran untuk lebih luas dan bijak memandang hidup. Dulu, saya hanya seorang remaja lugu dan cenderung rendah diri. Kadang melupakan potensi besar yang saya miliki. Dan tarbiyahlah yang telah menumbuhkan dan mengembangkan potensi tersebut. Dari yang terlihat kecil, seperti berbicara dan mengungkapkan pendapat di berbagai kesempatan. Tarbiyahlah yang telah membuat saya terbiasa tak grogi dan dapat berbicara di depan orang banyak. Lalu, keterampilan manajerial seperti bertanggung jawab terhadap berkembangnya tim dan SDMnya.

Sampai filosofi kehidupan seperti bahwa kehidupan itu sangat berwarna, janganlah merasa kecil sehingga merasa tak berarti, dan janganlah merasa besar lalu berbangga diri. Allah mengajarkan saya hal tersebut lewat tarbiyah ini. Saya mengenal beberapa pejabat penting dan keluarganya, saya mengenal orang-orang muda cerdik pandai yang rajin diberitakan di televisi, saya mengenal banyak orang-orang hebat. Mereka berjuang bersama dalam lingkaran ini. Tapi di samping itu, saya juga mengenal saudara yang rumahnya masih mengontrak perlu renovasi signifikan di sana-sini, tapi tetap tanpa lelah dan tanpa keluh berdakwah. Saya mengenal saudara saya yang hanya dihidupi oleh menarik ojek atau tukang bangunan, tapi sungguh luar biasa ibadah dan kontribusinya. Saya mengenal mereka yang memikirkan orang lain seperti memikirkan keluarga sendiri. Sungguh, mereka adalah “buku-buku berharga” yang isinya semua sama berbobotnya dalam “perpustakaan kehidupan saya”. Yang saya mafhum, tanpa tarbiyah mustahil saya dapat mengenal dan berjuang bersama mereka. Maka, tarbiyah tak pernah saya lupakan.

Lewat tarbiyah, saya dikenalkan dengan arti berkontribusi dan beramal untuk umat. Menyayangi umat bukan hanya menghujatnya. Dari yang sangat praktis seperti baksos, penyuluhan sederhana, dan berceramah jika diminta. Sampai berkontribusi dalam pembangunan umat dan bangsa yaitu berdakwah profesi, bekerja secara profesional, berdakwah dengan contoh nyata dan karya. Yang sekarang saya yakini menjadi jalan hidup saya untuk meraih ridhaNya.

Subhanallah… Maka setiap perenungan, selalu berakhir dengan kesimpulan. Saya lah yang memerlukan tarbiyah ini. Ini semua menghentikan saya untuk berpikir berpisah darinya, ketika situasi kadang menjepit untuk ingin melakukannya…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

  • Ikhwantangguh_dhian

    seorang kader hendaknya lebih percaya/ tsiqoh kepada gurunya dari pada kepada media masa. ya itulah tantangan … semoga bisa menjadi pembelajaran. selamat BEKERJA

  • Tita

    sy jg mengalami itu, tp yg paling menguatkan untuk tetap di jln tarbiyah adalah kesadaran penuh atas tujuan hidup, dan mencoba tuk realistis, Allah lah yg tak pernah mengecewakan

  • Lina Yusman04

    SUBHANALLAH, moga tetap ISTIQOMAH utk diri & para ikhwahfillah

  • Indrawidiansyah

    Boleh ana bertanya dan minta saran…

    jika anti bisa berkata begitu, karena anti merasakan tarbiyah yang baik pada saat tersentuh dg tarbiyah ini..bertemu dengan m,ereka yang mengajarkan ke tauhidan, amal shalih, amar ma’ruf nahi munkar, peduli lingkunagn sosial dan mencintai keluarga dsb…

    lain halnya sekarang bagi mereka yang tersentuh tarbiyah oleh mereka yang kecenderungannya politik saja..apa2 yang dilakukan berujung pada suara politik…ana gak menyalahkan politiknya, karena politik itu juga keharusan bagi ikhwah, namun miris ketika mereka jarang menyampaikan urgensi tauhid dan kekuatan muslim robbani dst…jadi tarbiyah itu sbenernya mau cetak suara atau cetak peradaban manusia robbani??

    nah, apa kiranya solusi untuk mereka yang tersentuh tarbiyah oleh kader2 pada masa kini…??kader2 tarbiyah yang nampak kurang ruhnya tapi banyak bicara…–> bicaranya juga soal politik aja bisanya, tapi buat narik perhatiuan masa, mereka gunakan iming2 tarbiyah/ bertamengkan tarbiyah…

    faktanya: mereka yang saat ini tersentuh tarbiyah dan lari ketika kecewa, ya kebanyakan karena ketemuny dengan kader tarbiyah yang modelnya sperti itu…kadang ana suka geregetan ngelihatnya..adakah menurut anti tindakan yang pas buat mereka yang baru tersentuh dalam tarbiyah??

  • Amikhomisah

    Masya Alloh… tulisannya sangat menggunggah…
    smoga kita ttp berda di jalan tarbiyah yg baik bukan menyesatkan. Karna skrang byak yang bertarbiyah tp ketika org itu tidak ikut tarbiyah dianggap sudah bukan saudara malahan musuh.
    dan menggp sudah kafir kembali.

  • Fawzan_djaja

    Syukron sekali tulisannya…

    Kondisi yang antm hadapi memang udah mulai terasa di tempat ana di kampus tertentu di Indonesia, namun ketika kondisi memburuk maka selalu yang terbayang pada kiran ana akhir-akhir ini, adalah hadits arba’in no. 1 tentang niat, kalo tarbiyah mau cari harta silakan kecewa karena nanti akan selalu “habis” di dunia, cari akhwat canti silakan kecewa nanti karena akhwat juga manusia pasti ada plus minusnya nanti kalau sudah tua ketahuan, kalo cari teman silakan kecewa karena kadang manuvernya “menyebalkan”, cari jabatan silakan kecewa karena amanah g akan datang sesuai keinginan, yang bisa diharapkan hanaya mencari kesempatan bekerja melayani ummat untuk Allah swt….. sudah itu saja… kalo ada yang engecewakan kecewalah dengan tindakan dari orangnya jangan benci orang karena dia bisa berubah dan juga jangan benci konsepnya, apalagi keluar dan melawan…

    ana sepakat banget dengan tulisan ini… Nice one….!!!

  • Sopiangm

    Anggap jamaah ini sebagai rumah kita. Akankah seorang Suami meninggalkan begitu saja istri dan anak-anaknya karena tingkah mereka yang mengecewakan? Atau seorang istri yang tidak mau mengurusi rumah tangganya karena suami dan anak-anaknya tidak berlaku seperti yang diinginkan? Tentu tidak. Seorang suami atau istri yang komit, pasti akan tetap berusaha sekuat tenaga dan kemampuan untuk memperbaiki diri dan keluarganya dengan berbagai ikhtiar dan doa. Yakinlah, selama jamaah dihuni oleh kumpulan manusia, maka kekurangan pasti ada. Kecewa itu biasa. Tapi, bila kita masih meyakini bahwa jamaah ini yang terbaik dari yang ada, marilah kita jaga, agar jamaah ini senantiasa menjadikan Allah sebagai tujuan utama..   

Lihat Juga

Ilustrasi. (markazimammalik.com)

Lentera Jiwa