Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pernikahan Mandiri

Pernikahan Mandiri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (singkawangstrike.blogspot.com)

dakwatuna.com – Hari ini dapat sebuah pelajaran. Sangat berharga sekali, khususnya untuk saya yang belum menikah. Mungkin di luar sana ada beberapa kasus serupa, tapi saya baru “ngeh” kali ini karena terjadi di depan mata saya.

Kasusnya seperti ini, si fulan yang telah menjalani kehidupan rumah tangga beberapa tahun. Sudah memiliki dua orang anak. Kehidupannya bisa di bilang sangat baik dari segi ekonomi dan hal lainnya. Tapi sayangnya, lama-lama saya amati ada hal yang mengganjal pikiran saya. Untuk menegurnya pun saya belum bisa, jadi untuk sekarang hanya cukup sekedar saya jadikan pelajaran.

Kenyamanan kehidupan si fulan saat ini masih campur tangan dari orang tuanya. Dia bekerja pada perusahaan milik orang tuanya yang seharusnya bisa bersikap profesional namun sayangnya hal tersebut belum mampu di tunjukkan untuk dapat di jadikan tauladan yang baik bagi karyawan lainnya.

Beberapa waktu lalu, saya mengetahui jika anak sulung si fulan mengalami diare yang parah hingga masuk ke rumah sakit. Tanpa ba bi bu lagi, fulan langsung mengabarkan kepada ayahnya. Tak ada yang salah. Hanya sebenarnya tak pantas merepotkan orang tuanya untuk permasalahan rumah tangga yang seharusnya bisa di usahakan sendiri dahulu secara maksimal. Karena pada saat ia menghubungi ayahnya, ayahnya sedang berada di luar kota untuk mengurus pekerjaan. Karena naluri ayah yang penyayang, otomatis ia pun langsung pulang ke Jakarta lebih cepat dari jadwal sebelumnya.

Kemudian, hal yang baru saja saya mengetahui dan membuat saya ngeh adalah ketika si fulan bermasalah dengan khadimatnya, dia bercerita lagi dengan orang tuanya. Otomatis lagi, orang tuanya langsung bertindak dan kerepotan pada akhirnya. Tapi yang namanya orang tuanya tak pernah merasa di susahkan oleh anak.

Dari kejadian tersebut bisa saya simpulkan. Ketika kita memasuki jenjang pernikahan, maka terputuslah urusan antara kita dengan orangtua. Jika sebelumnya kita berstatus anak yang menjadi awak penumpang yang di nakhodai oleh orangtua, maka ketika telah menikah kita adalah nakhoda. Jika dulu kita hanya mengikut saja ke mana nakhoda itu mengemudikan kapalnya, maka peran kita sebagai nakhoda kini yaitu mengemudikan kapal kita sendiri. Kita sudah menjadi nakhoda yang memiliki tugas membawa anggota keluarga kita mengarungi bahtera luas menuju dermaga kebahagiaan. Ada saatnya ombak mengguncang kapal yang kita kemudikan, namun hal itu adalah salah satu resiko berlayar. Sebagai nakhoda kita harus memiliki tanggung jawab untuk bisa membawa penumpang berlayar kembali pada posisi aman dengan cara yang baik. Dengan mandiri, tanpa campur tangan orangtua. Jika memang mampu kita usahakan sendiri bersama pasangan.

Yang pastinya tampuk kepemimpinan kini adalah di tangan kita bukan orangtua. Tak apa jika kita meminta saran kepada orangtua tanpa membuat beliau risau. Usahakan jika yang terlihat oleh orangtua dan masyarakat adalah kebahagiaan rumah tangga kita. Insya Allah bisa menjadi contoh yang baik

Orangtua yang telah lelah mengasuh kita sedari kecil hingga mengantar kita ke gerbang pernikahan, kehidupan kita yang baru. Lalu beliau masih direpotkan oleh urusan rumah tangga anak-anaknya. Saya pribadi tak ingin merepotkan orangtua saya ketika nanti menikah. Semoga Allah selalu meringankan kita dalam berbuat kebaikan.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk menjudge pihak manapun, hanya ingin berbagi. Serta mengingatkan diri sendiri ketika nantinya melangkah menuju gerbang pernikahan. Paling tidak dengan belajar dan mengamati saat ini bisa menjadi bekal untuk saya nantinya. Bukankah baiknya kita membuka mata, telinga, pikiran dan hati kita lebar-lebar guna terus mengais hikmah dari setiap kejadian, supaya selalu ada hikmah yang bisa di ambil dan bisa menjadi rambu untuk berhati-hati dalam melangkah menuju masa depan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (26 votes, average: 8,65 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • Ummu Aisy

    dimulai dari menikah dengan biaya sendiri ^^

  • Diajeng Hartini

    ketika sudah menikah, bagaimana jika orang tua menghendaki kita untuk tinggal bareng bersama mereka dengan pertimbangan karena orang tua sudah tua supaya ada yng merawatnya…

    • Pejuang tangguh

      bukti birrul walidain 
      tapi hendaknya bisa d pisahkan mana urusan yang harus diketahui dan melibatkan orang tua dan mana yang tidak.
      itu pendapat ane….
      ^^

  • Annisa Nurbaiti

    Mertua saya telah mengabaikan anaknya ketika masih kecil. Sekarang saat anaknya sdh menikah selalu berusaha mencurahkan kasih sayang kepada suami, sekaligus saya dan anak-anak kami seakan menebus kesalahan masa lalu….

  • Jauja_20

    mertua selalu ikut campur urusan dalam negri rumah tangga kami, mulai dari masalah anak, rumah malah soal cuci pakaian yang aku selalu dibantu oleh orang lain…tapi aku bayar sendiri dari gajih aku.

  • Bagaimana jika punya mertua yang semua-muanya setiap hari mengitari suami kita. Seperti helikopter !! Dari pakaian, makanan, hingga hal remeh temeh lainnya. Dan istri seperti tak punya harga diri. Mau rumah sendiri, kata mertua gak tega lihat anaknya ntar makan apa, sukanya ngemil seolah-olah istrinya ini bakal tdk bs ngurus. Lha gmn dg ortu si istri, kn jg belajar tega awalnya.

    Saran saya setelah nikah, segeralah sapih anak-anak anda. Toh mereka sudah baligh. 
    Curhat bgt !

Lihat Juga

Sumber: BPS (2011-2015), diolah. (Muhammad Rofik)

Realisasi Peran LAZ Sebagai Mitra Pemerintah Dalam Memandirikan Umat Melalui Advokasi Kebijakan

Organization