Home / Dasar-Dasar Islam / Al-Quran / Tafsir Ayat / Peringatan Allah SWT (At-Tadzkirah)

Peringatan Allah SWT (At-Tadzkirah)

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com –  “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-A’raaf 96).

Kandungan ayat di atas nampaknya masih jauh dari kondisi riil bangsa Indonesia. Yang terjadi bukanlah keberkahan dari langit dan bumi, tetapi musibah demi musibah yang menimpa bangsa ini dari langit dan bumi. Hampir seluruh wilayah di Indonesia sudah tersentuh musibah dengan berbagai macam bentuknya. Padahal bangsa Indonesia mayoritasnya adalah muslim. Lalu di manakah letak kesalahannya? Bagi umat Islam yang menggunakan mata hatinya akan dengan mudah menjawab kenyataan ini, yaitu bahwa bangsa Indonesia walaupun mayoritasnya muslim, tetapi masih jauh dari nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan. Sehingga keberkahan tidak segera kunjung datang menghampiri kita, bangsa Indonesia.

Realitas ini adalah Tadzkirah bagi kita semua, khususnya umat Islam, para da’i, murabbi dan qiyadah umat untuk terus memperbaiki diri dan memperbaiki umat. Allah Ta’ala berfirman. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada manusia melalui dua cara: Pertama, melalui Al-Qur’an dan kedua, melalui Al-Kaun (alam semesta).

Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan tadzkirah, bahkan sumber tadzkirah bagi manusia. Karena di dalamnya berisi semua bentuk peringatan yang dibutuhkan manusia. Kisah umat terdahulu (Qishash al-umam as-sabiqoh), ajaran aqidah yang benar (al-aqidah as-shohihah), hukum Syariah yang adil (al-ahkam as-syar’iyah), akhlaq yang mulia (al-akhlak al-asasiyah), kenyataan ilmiyah (al-haqaiq al-ilmiyah) yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah peringatan.

“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah; Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang Tinggi. (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy” (QS Thaha 1-5)

Al-Qur’an adalah pedoman bagi manusia dan tidak mungkin membuat susah mereka. Dengan Al-Qur’an semuanya menjadi jelas. Kejelasan tujuan, sarana dan cara. Al-Qur’an mengantarkan manusia kepada apa yang dicita-citakan oleh semua manusia, yaitu kebahagiaan hidup. Sebaliknya bagi yang menjauh dari peringatan Al-Qur’an, maka kehidupan mereka akan susah, gersang dan sempit.

Al-Qur’an telah menceritakan berbagai musibah umat masa lalu akibat menjauh dan mengingkari ajaran para nabinya. Dan Al-Qur’an juga mengingatkan manusia sekarang dengan musibah yang akan menimpanya jika mereka kufur dan bermaksiat pada Allah.

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS As-Syuraa 30).

Secara manhaj atau konsep, Al-Qur’an telah menjelaskan secara tuntas pada manusia tentang Sunnatut Taghyiir (sunnah perubahan) yang terjadi pada alam semesta khususnya manusia. Baik perubahan menuju yang lebih baik maupun perubahan menuju yang lebih buruk. Dua ayat yang terkait perubahan menyebutkan.

“(siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al Anfaal 53).

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS Ar-Ra’du 11).

Sunnatut Taghyiir dalam Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas dan ayat-ayat yang lain begitu sangat jelas. Perubahan kearah yang lebih baik atau lebih buruk berawal dari seorang, kemudian keluarga dan seterusnya bi’ah atau lingkungan dan masyarakat serta kaum. Perubahan kearah yang lebih baik dapat terjadi dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah. Ketika pada suatu kaum atau bangsa yang dominan adalah keimanan dan ketaqwaannya maka yang terjadi adalah kebaikan dan keberkahan. Sebaliknya perubahan kearah yang lebih buruk terjadi karena keingkaran dan kemaksiatan kepada Allah. Ketika pada suatu kaum atau bangsa yang dominan adalah kekafiran dan kezhaliman, maka yang terjadi adalah musibah demi musibah. Dalam kaitan ini disebutkan dalam beberapa riwayat, bahwa istri Rasul saw. (dalam riwayat disebutkan di antaranya ‘Aisyah, Ummu Salamah, Ummu Habibah dan Zainab binti Jahsy) bertanya bertanya,” Apakah kita akan hancur padahal di antara kami ada orang-orang shalih?” Rasul menjawab,” Ya, jika yang dominan adalah kejahatan” (Muttafaqun ‘alaihi).

Perubahan kearah yang lebih buruk dapat terjadi dengan berbagai macam bentuknya, baik dalam segala individu, keluarga maupun masyarakat. Marilah kita melihat beberapa contohnya dalam Al-Qur’an.

  1. Kerusakan sawah ladang (QS Sabaa 15-17, QS Al-Qalam 17 -33).
  2. Harta benda dan jiwa ditenggelamkan ke Bumi, seperti kisah Qarun (QS Al-Qhashash 81).
  3. Kehancuran diterjang banjir besar, seperti kaum nabi Nuh as. (QS Huud 25-49)
  4. Kehancuran rezim dan tentaranya ditenggelamkan laut, seperti kisah Firaun dan tentaranya (QS As-Syu’araa 61-67)
  5. Tersesat di muka bumi, pergantian generasi dan mendapat laknat Allah seperti yang terjadi pada Bani Israil (QS Al-Maa-idah 13 dan 20-26 )
  6. Kekalahan dalam peperangan seperti, Abu Jahal dan kaumnya dalam perang Badar.
  7. Dalam sejarah modern, banyak penguasa zhalim yang dihancurkan Allah, seperti para penguasa Soviet sekaligus negaranya, para penguasa di negeri muslim dll.

Begitu juga perubahan kearah yang lebih baik dapat terjadi dengan berbagai macam bentuknya, baik dalam skala individu, keluarga maupun masyarakat. Dan Al-Qur’an telah memberikan banyak contoh, terutama yang terkait dengan perubahan yang disebabkan oleh perjuangan para nabi dan rasul, di antaranya perjuangan nabi Nuh as, nabi Ibrahim as dan keluarganya, nabi Musa as, nabi Isa as dan nabi Muhammad saw. dan keluarganya yang menyebabkan sampai sekarang ajaran Islam dan umat manusia yang menyembah kepada Allah masih tetap eksis.

Al-Kaun

Al-Qur’an telah menjelaskan Sunnatut Taghyyir, sementara al-kaun atau alam semesta membuktikan sunnah tersebut. Keduanya tidak mungkin berbeda, karena bersumber dari satu, yaitu Allah Yang Maha Esa. Al-Qur’an sebagai ayat qauliyah dan alam semesta sebagai ayat kauniyah berjalan seiring menguatkan satu sama lain. 

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS Fushilat 53)

Kejadian di alam semesta, baik di langit, bumi dan segala isinya, khususnya pada manusia merupakan peringatan bagi kita semua. Dan salah satu bentuk peringatan yang sedang dialami bangsa Indonesia adalah musibah-demi musibah itu. Apakah peringatan ini mampu menyadarkan manusia yang lalai untuk kemudian kembali pada Allah? Atau hanya jadi fenomena alam yang tidak menyadarkan manusia. Semuanya berpulang kepada kita semua

Peringatan dari Langit

Langit adalah misteri yang belum banyak diketahui manusia. Jumlah bintang di langit, kondisi planet-planet bumi, bulan dan matahari, udara dengan berbagai macam komposisinya, semua misteri ini belum banyak diketahui manusia. Padahal langit dan segala isinya adalah makhluk Allah. Dan Allah menyebutkan langit itu ada tujuh lapis. Belum lagi makhluk Allah yang tidak terlihat oleh indra manusia yang bertebaran di langit berupa para malaikat yang senantiasa taat mengikuti perintah Allah.

Al-Qur’an memerintahkan kita untuk melihat langit dengan segala isinya. “Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? “Dan Rasulullah saw. mencontohkan, bahwa beliau banyak memandang dan memperhatikan langit. Langit dengan segala isinya dapat memberi peringatan bagi manusia yang berakal. Hujan yang turun, gerhana bulan, gerhana matahari, meteor yang jatuh dll.

Peringatan dari Bumi

Bumi banyak sekali memberikan peringatan bagi manusia. Luas lautan yang melebihi luas daratan, gunung yang berfungsi sebagai pasak, berbagai macam jenis hewan dan tumbuhan, berjuta-juta makhluk yang ada di laut, air yang menjadi sumber kehidupan dan berbagai macam panorama alam yang indah harus mengantarkan manusia untuk beriman dan taat pada Allah.

“Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya? Kalau kami kehendaki, benar-benar kami jadikan dia hancur dan kering, Maka jadilah kamu heran dan tercengang (sambil berkata):

“Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian”, Bahkan kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa. Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya? Kalau kami kehendaki, niscaya kami jadikan dia asin, Maka mengapakah kamu tidak bersyukur? Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya? Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar“ (QS Al-Waqiah 63-74).

Peringatan dari Manusia

Peringatan lain yang ada di sekitar kita adalah pada diri kita sendiri, manusia. Asal muasal manusia, proses pertumbuhannya, seluruh kelengkapan manusia berupa hati, akal, indra dan lainnya. Setelah itu manusia akan mati dan dibangkitkan di hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya. Semua itu harus menyadarkan mereka bahwa ada pencipta yang Maha Sempurna yang harus disembah dan ditaati.

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat” (QS Al-Mu’minuun 12-17).

Syarat Menerima Peringatan

Bagaimana supaya berbagai macam bentuk peringatan baik melalui ayat qauliyah maupun ayat kauniyah yang telah Allah berikan kepada manusia dapat bermanfaat, berlaku efektif dan mempengaruhi mereka. Hal ini sangat terkait dengan kesiapan manusia. Dibutuhkan perangkat agar peringatan itu berpengaruh dan merubah manusia menjadi beriman pada Allah dan bertaqwa. Syarat itu disebutkan dalam surat Qaaf 36-37,

“Dan berapa banyaknya umat-umat yang Telah kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, Maka mereka (yang Telah dibinasakan itu) Telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

Syarat itu adalah hati yang hidup atau menggunakan akal, menggunakan pendengaran dan hadir yaitu hatinya hadir penuh konsentrasi dan tidak lalai. Semoga kita termasuk orang-orang yang paling siap mengambil manfaat dari berbagai macam peringatan yang terjadi. Wallahu A’lam.

(SCC/Iman Santoso/hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (32 votes, average: 9,06 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Fatahilah_cn

    subhanallah maha suci allah rahmat semesta alam.ku berserah diri kepadamu.ENKAULAH MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG.

Lihat Juga

Sabar Bukan Hanya Untuk Korban Bencana