01:33 - Jumat, 24 Oktober 2014

Petunjuk Kehidupan Manusia

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Sandy Legia - 28/12/11 | 19:30 | 03 Safar 1433 H

Ilustrasi (quranreading.com)

dakwatuna.com – Sempurnanya kemanusiaan manusia di muka bumi ini adalah ketika ada petunjuk yang membimbingnya ke jalan yang benar, karena tanpa petunjuk, manusia menjadi lebih sesat dari binatang. Al-Quran adalah petunjuk yang memberitahukan ke mana seharusnya “langkah manusia” diarahkan. Inilah hikmah kenapa Allah menyebutkan Al-Quran lebih dahulu daripada penciptaan Insandi dalam Surat Ar-Rahman.

Manusia mungkin saja menemukan kebenaran dengan akalnya, namun akal bukan petunjuk aman yang selalu benar menunjukkan jalan. Akal manusia bisa salah, sedangkan Al-Quran tidak akan pernah salah. Karena itu tidak ada alasan sedikit pun bagi seorang muslim untuk sekedar berfikir bahwa akal adalah segalanya, apa yang tidak dijangkau akal adalah tidak ada.

Selama ini kita sudah terjebak oleh kata-kata “Terjangkau akal”. Darwin menafikan “Pencipta” dan memilih mereka-reka teori yang terbukti bualan belaka, sebabnya karena Tuhan tak terjangkau oleh akal. Apa benar Tuhan tak mampu terjangkau akal atau akal “yang berusaha menjangkaunya” tak mampu? Darwin bukan satu-satunya ilmuwan di muka bumi ini, jika Darwin mengatakan bahwa pencipta tidak ada, mengapa ilmuwan lain mengatakan bahwa pencipta ada? Lantas apa yang membedakan Darwin dan ilmuwan lain yang mengakui adanya Pencipta? Akal! itulah yang membedakan dirinya dan ilmuwan lainnya.

Karena manusia punya akal, dan karena akal manusia itu berbeda-beda, maka terjadilah perbedaan, yang satu menyatakan “ini benar”, yang lain menyatakan “ini salah”. Akhirnya yang terjadi adalah membuat jalan tengah dengan mengatakan “Kebenaran itu relatif”, yang mengatakan bahwa “Pencipta tidak ada” sah, yang mengatakan sebaliknya pun sah karena “Kebenaran itu relatif”. Mereka yang belum “dewasa pemikirannya” mungkin menerima, tapi sesaat setelah pemikiran mereka dewasa, akal mereka sendiri yang akan menolaknya, Insya Allah.

Sebagaimana akal bisa benar dalam menentukan mana yang salah, akal juga bisa salah dalam menentukan mana yang benar. Begitulah selamanya sifat akal! selalu relatif dan karenanya tidak aneh jika ada yang mengatakan “Kebenaran itu relatif”, karena akal manusia relatif (berbeda-beda). Jadi, layak kah akal dijadikan standar kebenaran? Apa yang menurut akal benar adalah benar, dan apa yang menurut akal salah adalah salah? Biarkan fakta sejarah yang menjawab.

Sesungguhnya sejarah telah mencatat, bagaimana nasib sebuah peradaban yang salah dalam menentukan mana yang benar. Tahun 487 M di Iran, muncul sebuah ajaran yang bernama Mazdak. Ajaran ini mempropagandakan bahwa semua manusia dilahirkan sama tanpa perbedaan apapun juga. Oleh karena itu, manusia harus hidup secara sama dan tidak boleh ada perbedaan. Mengingat bahwa kekayaan dan wanita membuat manusia mengutamakan diri sendiri dan menjadi sumber perbedaan sosial, menurut Mazdak dua hal itu merupakan persoalan terpenting yang harus dipersamakan dan dikolektifkan.

Seruan tersebut mendapat sambutan dan persetujuan dari kalangan pemuda, kaum hartawan dan golongan-golongan yang hidup berfoya-foya, karena sesuai dengan selera dan hawa nafsu mereka. Ajaran Mazdak ini beruntung juga karena mendapat perlindungan dari istana (pemerintah). Raja Persia ketika itu ikut andil dalam mendukung aktif, dan menyebarluaskannya.

Mengenai hal ini At-Thabari mengatakan:

“Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh rakyat lapisan bawah untuk berhimpun di sekitar Mazdak dan kawan-kawannya. Mereka menjadi bertambah kuat dan membahayakan orang banyak, karena mereka berani masuk menyerbu ke dalam rumah orang lain dan bertindak sewenang-wenang, merampas apa yang ada di dalam rumah dan menggagahi wanita-wanita yang dijumpainya, dalam keadaan penghuni rumah tidak berdaya menghadapi mereka. Mereka terus mendorong Qubads (raja Persia) supaya mendorong dan membagus-baguskan tindakan mereka, dan mengancam akan menurunkannya dari tahta kerajaan bila ia tak mau memenuhi tuntutan mereka. Dalam waktu singkat di Iran banyak orang yang tak mengenal anaknya dan anak tidak mengenal siapa ayahnya, dan banyak pula orang-orang yang tidak bisa memiliki sesuatu untuk dapat hidup berkecukupan.”

Lebih jauh Thabari mengatakan: “sebelum itu, Qubads sebenarnya termasuk raja Persia yang terbaik, tapi setelah melibatkan diri dalam kerjasama dengan Mazdak, kekacauan merajalela dan ketenteraman menjadi rusak.”

Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya:

Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan/hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu” (Qs. Al-Muminun: 71)

Demikianlah sejarah telah berbicara tentang akal ketika ia dijadikan “Segalanya”, apa yang menurutnya benar adalah benar, dan yang menurutnya salah adalah salah.

Bagaimanakah seharusnya seorang muslim berfikir? bagaimanakah seharusnya seorang muslim mencari kebenaran? dalam konteks ini, sejatinya cara berfikir seorang muslim adalah tidak berhenti begitu saja pada kesimpulan akalnya, kenapa? karena Allah telah menciptakan perangkat untuk mencari “Kebenaran”. Manusia terlahir include dengan perangkat ini, sepatutnya kita bersyukur atas apa yang telah Allah ciptakan dalam diri kita, dan salah satu bentuk syukur kita kepadaNya atas nikmat perangkat yang Allah berikan ini adalah dengan mempergunakan dan memfungsikannya sebaik mungkin.

Perangkat-perangkat tersebut adalah akal, hati dan wahyu. Perangkat akal terbatas fungsinya, karena itu Allah memberikan hati. Rasulullah SAW menjelaskan dalam sabdanya:

Nawwas bin Sam’an RA berkata; Nabi SAW bersabda:

Kebajikan adalah akhlaq terpuji, sedangkan dosa adalah apa yang meresahkan jiwamu serta engkau tidak suka apabila masalah itu diketahui orang lain.” (HR Bukhari)

 

Dalam hadits lain yang disampaikan oleh Wabishoh bin Ma’bad RA, ia berkata, Aku mendatangi Rasulullah SAW, beliau bertanya; “Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan? Aku menjawab ‘Ya benar‘. Beliau bersabda:

Tanyakan pada hatimu sendiri! Kebajikan adalah sesuatu yang membuat jiwamu tenang dan hatimu tenteram, sedangkan dosa adalah sesuatu yang menimbulkan keraguan dalam jiwa dan rasa gundah dalam dada, meski telah berulang kali manusia memberi fatwa kepadamu” (Hadits hasan diriwayatkan dari dua imam; Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Ad-Darimi dengan sanad hasan).

Jika akal mungkin salah dalam berfikir, jika hati/nurani mungkin tertutup nafsu, maka, keduanya adalah jalan yang kurang aman untuk sampai kepada kebenaran. Jadi, wahyu/syariat lah satu-satunya jalan yang aman untuk sampai kepada kebenaran, karena Allah lah yang menciptakannya. Karenanya, sekalipun akal dan hati nurani dikombinasikan, tetap saja belum cukup mampu untuk mendeteksi kebenaran ketika wahyu tidak disertakan.

Dalam praktek kehidupan nyata, wahyu/syariat pun tidak berjalan sendiri, agar tidak diterjemahkan secara leterlek (zahir). Karena itulah kita mengenal apa yang disebut dengan istinbath atau istidlal (mengeluarkan dalil) dari teks/matan wahyu tersebut, dan sudah barang tentu ini memerlukan kerja akal.

Imam Ghazali berkata yang maknanya “Perumpamaan Akal yang sehat (akal yang benar) adalah seperti mata yang bebas dari penyakit, dan kerusakan. Adapun perumpamaan Al-Quran adalah seperti Matahari yang cahayanya terpancar”.

“Jika demikian perumpamaan keduanya, maka adalah hal yang keliru ketika kita mencukupkan dengan salah satu dari keduanya, akal saja, atau Quran saja. Orang yang mencukupkan diri dengan Al-Quran dan menolak akal, seperti orang yang memejamkan mata, walaupun matahari terang cahayanya, tetap saja gelap pandangannya. Sama halnya dengan orang yang mencukupkan diri dengan akal dan menolak Al-Quran, maka ia seperti orang yang sehat penglihatannya, tapi gelap di sekitarnya membuat ia tak dapat melihat apa-apa. Kedua-duanya tidak ada beda dengan orang buta.”

Intinya, akal, hati, dan wahyu tidak berjalan sendiri-sendiri. Sebenarnya hubungan ketiganya harmonis, sampai manusia sendiri yang mencerai-beraikannya. Muncul lah wacana “Wahyu VS akal”, dan ini semestinya tidak perlu muncul jika wahyu yang dimaksud terjamin keotentikannya, ini juga tak perlu muncul jika penggunaan akal sesuai porsinya, tidak berlebihan dalam lebih, dan tidak berlebihan dalam kurang. Jadi jika suatu waktu muncul isu “Al-Quran bertentangan dengan akal”, maka ketahuilah bahwa kesalahan tidak terletak pada Al-Qurannya, tapi pada “orang yang membawa” Al-Qurannya.

Dapat disimpulkan bahwa seorang muslim tidak hanya dituntut untuk benar dalam berfikir, tapi juga memahami Al-Quran sebagai petunjuk hidupnya, karena Al-Quran bukan semata-mata perkataan tanpa maksud dan tujuan. Setiap perkataan dimaksudkan untuk dipahami makna-maknanya, bukan untuk sekedar dihafal, dan Al-Quran lebih utama untuk dipahami (ditadabburi) makna ayat-ayatnya sebelum perkataan lainnya, oleh karena itu, mentadabburi ayat-ayat Al-Quran sama pentingnya dengan menghafalnya. Begitulah cara Sahabat Rhadiyallahu anhum menghafal Al-Quran, yakni dengan mentadabburinya juga. Demikianlah agar Al-Quran benar-benar menjadi petunjuk kehidupan kita. Wallahualam bis shawab.

Tentang Sandy Legia

Tinggal di Kecamatan Andir Kelurahan Dungus Cariang. Lahir tahun 1987 di Bandung. Saat ini aktif sebagai mahasiswa di Al-Azhar tingkat 4 Fakultas Ushuluddin jurusan Dakwah wah tsaqafah Tslamiyyah. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (13 orang menilai, rata-rata: 9,31 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Zhalchy_love

    Semoga Diriku sllu Mendapat petunjuk Mu ya Rabb… amiiiind….

  • Midasariwati

    semoga engkau maha besar ya allah selalu memberikan ku petunjuk mu dan memberikan ku seseorang yg kau percayaai yg bisa membing bing ku dan ank2 ku juga keluarga ku menuju ke jalan yg kau ridoi
    jln mu yaallah …..

  • Subagya

    benar sekarang ini jaman rusak kehidupan hanya tertuntun oleh syahwat serta syubahat hingga zina saja di halalkan kalau pakai kondom nauzubilah himin dzalik dan yang paling kita merinding para pembela nya adalah orang berkedok agama islam yang hanya mencari keuntungan dunia sehingga berani -berani nya menafsirkan AL QURAN dengan akal bukan pemahaman para sahabat .contoh ulil absor abdalah yang berani mengatakan bahwa ada salah satu ayat sudah tak relevan lagi dengan jaman sekarang.sy berdoa semoga para ustadz yang istiqomah meniti jalan sirotolmustaqim ini ALLAH SWT kuat kan agar bersemangat mengkanter orang dzolim seperti kelompok jil.klik http://www.yasmu.com

  • Yuda Pratama

    Semoga Allah memberikan hidayah kepada orang-orang JIL. “Jika dikatakan kepada mereka, janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, mereka berkata “Justeru kami orang-orang yang membuat perbaikan”. PADAHAL mereka mereka adalah pembuat kerusakan, namun mereka TIDAK MENYADARI”(QS Al-Baqarah: 12)

    Mudah-mudahan kita tidak menjadi orang2 yang bermaksud berbuat kebaikan, namun malah merusak, dan kita tidak sadar.

  • dwinur hidayanto

    setiap manusia sudah diberikan hati,,,,
    apa fungsi hati pada tubuh kita?, kalian pasti tau kan?
    sering kita kalo liat perempuan/laki-laki dijalan gitu, mata kita terus liatin dia kan, itu karena apa? mereka memiliki kelebihan kan?
    nah apa kelebihanya?
    kelebihan yg dimiliki seorang wanita adalah……….
    dan kalo laki-laki berbeda,laki-laki itu memiliki daya tarik,bkan kelebihan ,karena pada dasarnya wanita suka sama laki-laki yg mempunyai banyak uang,mobil,rumah yg megah. ya gk? karena sudah pasti urusan dunia tercukupi, tp jangan tanya urusan dunia sama hati beda ya….???
    ingat kita punya hati pasti bisa merasakan rasanya gimana kalo kita lagi patah hati/putus sama pacar kan?
    nah itu yg jadi masalah, kita punya segalanya tp xlo kita patah hati/sering tersakiti karena kita melebih2kan apa yg sudah kita punyai,apa coba arti semua dari kekayaan tersebut?
    hampa yg jelas…..,ga selamanya harta menemani disaat qta masi hidup, harta bukanlah segalanya, segalanya adalah diri kamu sendiri,orang tua kita,orang2x yg menyayangi kita itulah harta yg sebenarnya,….tanpa mereka kita tidak akan bisa hidup.
    semua kembali kediri kita sendiri, Alloh maha Agung,tau semua apa yg kita lakukan,setyap orang memiliki kelebihan n kekurangan,cintailah kekuranganya baru kita bisa menikmati kelebihan yg dy punya,,,,hweeeesssssrampung,he he he

Iklan negatif? Laporkan!
103 queries in 1,984 seconds.