Home / Narasi Islam / Hidayah / “Pesan Misteri Pak Kyai”

“Pesan Misteri Pak Kyai”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comTakbir telah berkumandang, menandakan Hari Raya Idul Adha telah tiba. Namun sayang, setelah itu tidak terdengar lagi suara takbir yang muncul menggema dari setiap pelosok negeri terbenamnya matahari ini (Maroko). Suara itu hanya muncul satu kali sebagai tanda telah tiba datangnya hari raya.

Sangat jauh berbeda dengan kebiasaan di tanah air pada umumnya. Setiap kali hari raya tiba suara takbir dan tahmid pun terdengar merdu dan indah dari berbagai pelosok nusantara sebagai pernyataan dan pengakuan terhadap keagungan Allah SWT. Takbir yang diucapkan bukanlah sekedar gerak bibir tanpa arti, tetapi merupakan pengakuan dari dalam hati, menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa dalam sanubari. Suasana seperti inilah yang membuatku rindu ingin bertemu dan berkumpul dengan saudara, keluarga dan teman-teman di tanah air.

Setelah seharian ikut menyemarakkan ‘Ied Adha bersama teman-teman di KBRI, rasa capek pun menyelimuti tubuh yang cepal ini. Selesai shalat Isya saya langsung memejamkan mata agar kesehatanku tetap terjaga. Lagi-lagi aku tidak mendapatkan tempat tidur yang nyaman, untuk mendapatkan tempat tidur yang nyaman saya terpaksa harus berdesak-desakan. Maklumlah karena ruangannya yang kecil, jadi untuk menampung mahasiswa Indonesia yang datang dari berbagai kota di saat liburan tiba tidak memadai, bahkan ada juga yang tidur di depan pintu dan di pinggir rak sepatu. Bagiku itu tidak jadi masalah dan bukanlah hal yang aneh karena sebelumnya saya sudah terbiasa mengalami hal yang sama di saat aku masih belajar di pondok pesantren. Tanpa sadar mataku sudah terpejam berada di bawah alam sadar dengan di temani mimpi indah yang menerbangkanku ke langit yang tinggi menggapai bintang-bintang yang berkerlipan di malam hari.

Mimpi yang sempurna.

BRAKKK..!! suara itu spontan membuyarkan konsentrasiku di saat aku lagi asik-asiknya bercengkerama dengan Kalamullah, seketika itu aku teruskan sampai ayat terakhir kemudian aku tutup Al-Quran yang ada di tanganku dan kuletakkan di atas lemari dengan sebelumnya ku ucapkan kalimat shodakallohul’adzim.

Badri, anak kelahiran Riau yang di beri kesempatan untuk mengenyam pendidikannya di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum saat ini ia lulus dari sekolah tingkat menengahnya di Madrasah Muallimin Muallimat Tambakberas Jombang, dan aku adalah salah satu di antara 350 temannya yang lulus.

Setelah sebulan lamanya menunggu dengan penuh rasa cemas dan deg-degan akhirnya hasil tes beasiswanya ke Mesir lulus juga. Kini sang pemimpi berhasil mewujudkan mimpinya menjadi kenyataan dan sempurna. Rasa syukur langsung terucap lewat bibirnya yang terus bergerak-gerak karena sangat senang mendengar kabar gembira tersebut. Sampai ia tak sadar kalau dia telah membuka pintu kamarku dengan begitu kerasnya. Aku yang dari tadi menunggu kabar tersebut ternyata tesku tidak lulus. Di antara 3 peserta yang ikut tes ternyata Badrilah yang beruntung dan berhak meraih tiket untuk belajar ke Cairo Al-Azhar yang terkenal dengan sebutan negeri kinanah, yang menjadi dambaan bagi para pelajar.

Teman satunya lagi yang senasib denganku adalah Mahmudah dari Bangkalan, kami bertiga adalah perwakilan dari sekolah kami berasal. Meski terpaan badai dan ombak telah menghantamku semuanya tidak kujadikan alasan untuk menyurutkan niat dan semangat belajarku agar bisa mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Berjuang demi cita-cita mulia.

‘’Live is struggule’’ begitulah pepatah Inggris mengatakan, bahkan tidak sedikit guru-guru yang menyontek kalimat tersebut untuk memotivasi murid-muridnya supaya ketika mereka menghadapi ujian dan cobaan di dalam belajar terus bertahan dan tetap tegar karena hidup adalah sebuah perjuangan. Ibarat seseorang yang ingin mendapatkan berlian yang berada di dasar lautan ia harus menyiapkan bekal dan perlengkapan yang dibutuhkan selama berlayar, ia juga harus sabar, kuat dan tangguh di saat menghadapi dahsyatnya terpaan badai dan besarnya ombak yang terus menghantam. Setelah melewati semuanya ia harus menyelam ke dasar lautan untuk mengambil berlian yang tersimpan di dalamnya.

Begitulah kira-kira gambaran perjuanganku ketika aku mendapat tugas untuk mengabdi di salah satu cabang pondok pesantren Gontor, tepatnya di pondok pesantren Darussalam Eretan kulon Indramayu. Spontan jantungku berdetak begitu kencang setelah sang Direktur pondok pesantren tersebut memberi pengarahan kepada semua pengajar baru yang intinya mewajibkan kepada semua guru untuk berbicara bahasa Arab dan inggris selama mengajar.

Wlily nilly aku harus menerima tantangan tersebut. Berbekal ijazah Aliyah dan bahasa inggris serta secuil kemampuan yang kumiliki, kuhadapi dengan penuh semangat, karena aku tidak ingin membiarkan garis takdir semena-mena menghalangi keinginanku untuk meraih ilmu di negeri seberang. Tidak hanya menahan malu karena sulitnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh murid-muridku ketika berada di kelas, saya juga harus berani mengambil resiko besar,  dicibiri, digunjing bahkan terkadang mereka menyindir langsung di depanku karena kurang profesionalnya aku di dalam mengajar.

Terkadang aku bingung dan merenung sendiri di kamar memikirkan bagaimana solving problem yang tepat untuk menghadapi masalah yang sedang kuhadapi.

Sudah 30 hari aku berada di pondok tersebut namun sekalipun aku tidak pernah melihat batang hidung orang yang telah membawaku ke tempat ini, sebut saja Badrussalam dia adalah tetangga dekatku yang meraih gelar doktornya di Sudan sekaligus orang yang telah memperkenalkanku dengan mertuanya (pengasuh pondok pesantren Darussalam) agar selama dia bertugas menjadi mursyid haji di mekah sayalah yang menggantikan posisinya sampai ia selesai tugasnya. Di sisi lain dia juga yang telah memberiku peluang dan siap membantuku agar bisa kuliah keluar negeri (Yaman) dengan catatan mengabdi dulu selama setahun.

Hujan rintik-rintik yang membasahi bumi di tengah malam hari sembari diiringi kilatan petir membuatku terbangun dari tidurku, entah apa yang telah merasuk ke dalam jiwaku hingga yang ada dalam benakku adalah bayangan rasa malu dan cibiran guru-guru yang terus mengejekku karena kebodohanku.

Aku beranjak dari kamar tidurku menuju kamar mandi guna mengambil air wudhu, kuambil sarung dan peci di atas mejaku, kugelar sajadahku dan bermunajat kepada Allah swt memohon agar diberi hidayah dan jalan keluar yang terbaik pada hamba-Nya yang sedang dirundung kesulitan.

Dengan ketekunan dan keberanian yang terus membara di hatiku Allah telah merubah keadaanku menjadi lebih baik, sepulangnya mas Badrus dari mekah yang seharusnya menggantikan posisiku kembali, yang terjadi malah sebaliknya, sebelumnya aku hanya mengajar khot, nahwu, shorof, bahasa Arab dan bahasa inggris kini di tambah dua pelajaran lagi fiqih dan tarekh Islam mulai dari kelas 1 SMP sampai kelas 2 SMA.

Dari sinilah banyak sekali pelajaran-pelajaran yang kudapatkan. Dimana perjuangan untuk mendapatkan sesuatu membuatku mengerti makna hakiki tentang hidup yang sukar atau hidup yang bahagia. Bahwa banyak hal yang tidak mudah dalam hidup ini. Bahwa banyak hal yang tidak kita inginkan akan tersedia dengan gratis tanpa perjuangan dan pengorbanan. Bahwa apa yang kita peroleh sering kali menyimpan mega perjuangan panjang yang tak ternilai, rumit, melelahkan, kadang berlinang air mata. Bahwa itu semua tidak serupa dengan apa yang kita inginkan. Dan yang paling penting setiap cita-cita yang kita capai harus ditempuh dengan ketekunan dan keberanian

Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda

Cerah indah mentari pagi menyapaku melalui celah-celah jendela, kubuka tirai yang menutupi dan membuat gelap kamarku, kubiarkan cahaya masuk dan mengusir kegelapan malam, mataku memandang jauh keluar jendela memandang daun-daun yang menari ditiup angin, suara kicau burung yang ada di atasnya melengkapi kegembiraanku.

Pagi itu aku bermaksud ingin memberikan kabar gembira kepada ibuku atas kelulusanku mengikuti tes beasiswa ke Yaman, setelah mendengar berita itu ibuku hanya bisa tersenyum manis diiringi tetesan air mata, senang karena anaknya telah berhasil melewati ujiannya di sisi lain merasa sedih dan bersalah karena tidak bisa memberiku uang 20 juta untuk membeli tiket dan uang jaminan jika aku sudah berada di Yaman. Aku pun mengerti keadaan ibuku yang menanggung beban keluarga sendirian karena ayahku telah meninggal 4 tahun yang lalu karena terserang kencing manis dan liver.

Setahun sudah aku menanti dengan penuh kesabaran dan pengharapan, setahun sudah ku melewati pahit getirnya perjuangan, kini harapan manis itu jauh sudah dari mataku serasa lenyap ditelan bumi entah ke mana.

Pesan misterius.

Di saat aku bingung menentukan arah hidupku, tiba-tiba nada dering HP ku berbunyi “Assalamu’alaikum Kusnadi, kamu sekarang dimana? Secepatnya datang ke tambakberas aku tunggu“. “Ya pak Kyai secepatnya aku berangkat” jawabku singkat. Karena tabiat santri yang nurut dan manut terhadap Kyai tanpa pikir panjang aku meluncur ke Tambakberas. 12 jam perjalanan dari Brebes menuju Jombang membuat badanku lelah dan letih. Tanpa basa-basi sesampainya di Tambakberas pak Kyai menyodoriku brosur pendaftaran tes beasiswa ke Maroko.

Setelah melengkapi semua persyaratan yang di butuhkan untuk mengikuti tes beasiswa ke Maroko yang bekerja sama dengan lembaga PBNU pusat Jakarta, paginya aku mendatangi rumah pak Kyai memohon doa restu sekalian pamitan mau mengikuti tes di Jakarta. Lagi-lagi aku mengalami kegagalan yang sama, dari sekian banyaknya peserta aku diterima sebagai cadangan. Pak Kyai ku yang saat itu sedang terbaring di rumah sakit membuatku ragu untuk menyampaikan kegagalanku.

Enam tahun sudah pak Kyai mendidikku, membimbingku dan menanggung semua biaya sekolahku selama di pesantren membuatku malu di hadapan beliau setelah menanyakan hasil tesku. qul bihaqqi walau kan murron itulah salah satu pesan beliau ketika mengajar di pesantren sehingga mendorongku untuk menyampaikan hasil tesku apa adanya.

Bukannya sedih ketika mendengar kabar itu, justru beliau tersenyum dan terus memotivasiku agar terus berusaha dan berdoa dengan optimis, beliau pun berkata wala taiasu min rouhilah (janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah. Di akhir pesannya sebelum meninggal dunia, beliau berkata tidak lama lagi kamu pasti akan menjemput mimpimu yang terpenting sekarang matangkan persiapanmu untuk menjemput impianmu.

Itulah pesan misterius yang kuterima dari seorang Kyai yang rela berkorban untuk santri dan masyarakatnya tanpa pamrih dan tanpa adanya tendensi yang lain.

Sebulan kemudian pesan misterius itu benar-benar menjadi kenyataan setelah sehari sebelumnya pak Kyai menghembuskan nafas yang terakhirnya. Semoga segala amal ibadahnya di terima di sisi Allah swt dan ampuni segala dosa-dosanya.

Terima kasih pak Kyai ku yang telah menunjukkan jalanku menuju negeri impian (Maroko), negeri para wali yang juga terkenal dengan sebutan negeri seribu benteng.

Seketika itu aku terperanjat dan bangun dari tidurku, setelah bertemu dengan Kyai ku di dalam mimpi. Ku lihat jarum jam yang terpasang di atas televisi tepat menunjukkan pukul 00. 07 pagi. Ternyata sang pemimpi telah bermimpi dengan mimpi-mimpinya yang telah menjadi kenyataan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kusnadi El-Ghezwa
Mahasiswa S1 Universitas Talimul Alim,Tanger, Maroko.

Lihat Juga

Ilustrasi. (cerpendakwah.wordpress.com)

Pesan Seorang Ayah