Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jika Hidup Terasa Sulit (2)

Jika Hidup Terasa Sulit (2)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Resah yang mengelana diriak hati

Adalah bagian dari cerita hidup yang senantiasa datang menghampiri

Berpeganglah kalian pada ayat-ayat-Nya

Karena ia mampu memberi inspirasi

Ia mampu menjadi obat bagi gersangnya rasa

Dan ia mampu menjadi penerang bagi jalan yang terasa gelap

Ilustrasi (anysportanytime.ca)

dakwatuna.com Bismillah…

Pernahkah kita mencermati sesungguhnya apa yang dicari oleh seorang pelancong ketika dia mengelana menembus semua belahan dunia? ataukah kita pernah sedikit merenung sebenarnya apa yang ingin didapatkan oleh seorang pendaki gunung ketika harus bersusah payah mencapai puncak mount everst? Pada hakikatnya mereka mencari kedamaian. Menelisik titik tertinggi dari sebuah pencapaian dalam hidup mereka, lalu dengan itu semua mereka akan merasa puas dan tenang karena berhasil mencapai apa yang mereka impikan.

Tapi, apakah semua pencapaian itu membuat mereka bahagia? kalau ia, kenapa mereka masih saja terus mendaki ganasnya pegunungan atau masih saja menghabiskan uang mereka untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut berulang-ulang kali?. Bahkan demi sebuah kualitas hidup sebagai seorang pendaki, mereka rela meninggal di dinginnya pegunungan sebagai bentuk kecintaan mereka dengan apa yang mereka geluti selama ini.

Jika kita memahami, sesungguhnya kebahagiaan itu takkan pernah terpuaskan jika kita hanya menjadikan DUNIA sebagai PATOKAN KEBAHAGIAAN. Seberapa berhasilpun engkau meraih mimpimu, niscaya kedamaian dan ketenangan itu takkan pernah engkau temukan jika dunia masih saja menjadi alasan untuk bekerja. Dia justru akan melemahkan, dia akan mengguncangkan, dan dia akan melahirkan keserakahan untuk terus-menerus diupayakan.

Lalu di manakah letak kebahagiaan itu?

Saudaraku… tak perlu kita jauh-jauh mencari dimana sumber kedamaian. Tak perlu kita menghabiskan uang hanya untuk mengejar dimana kepuasan itu berada. Sesungguhnya, ia begitu dekat dengan kita. Kita hanya butuh sedikit waktu untuk mengingat Allah, agar tenteram mengelana dalam hangatnya rasa.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah sajalah hati akan menjadi tenteram” (Ar-Rad : 28)

Bagi orang-orang beriman, mengingat Allah adalah bagian yang tak terpisahkan dari mereka. Ia menjadi pengobat hati yang gundah gulana, ia menjadi penguat tatkala resah mulai menggelayut, bahkan ia menjadi penyalur rasa cinta kepada Allah tatkala rindu itu meletup-letup di dalam diri.

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (Al-Ahzab : 41-42)

Saudaraku… Terkadang kerasnya dunia membuat kita lupa untuk bersujud di pekatnya malam, kesibukan untuk mencari sesuap nasi membuat puasa menjadi sesuatu yang “mahal” harganya, bahkan shalat yang menjadi kewajiban kita hanyalah sebuah aktivitas tanpa ruh yang tidak memberikan energi bagi jiwa. Ia malah menjadi beban dan begitu berat untuk dikerjakan. Orang-orang yang lalai telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya :

“Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Al-A’raf : 179)

Duniakah yang membuat kita lupa pada-Nya? dengan alasan mencari kedamaian kah sampai banyak pekerjaan dakwah yang terlupakan? Sejatinya, semua kerja-kerja kita seharusnya selalu membawa Allah di hati kita. Ruang dimana kita mampu merenungi sekerdil apa jiwa kita. Dia Zat yang seharusnya kita letakkan sepenuhnya di dalam jiwa kita bahkan Dialah Zat yang seharusnya kita ingat dan kita syukuri nikmat-Nya.

“Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya AKU ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku” (Al-Baqarah : 152)

Adakah kebahagiaan yang paling menghangatkan sebahagia mengingat Allah? adakah rasa yang paling berharga selain kecintaan yang berlimpah kepada-Nya?

Saudaraku.. Sumber kenikmatan, kedamaian, serta kebahagiaan yang selama ini kita kejar. Sesungguhnya begitu dekat dengan kita.

Kita hanya butuh sedikit muhasabah terhadap diri-diri kita yang begitu hina, menisbahkan segala cinta dan rasa kita hanya untuk-Nya. Allah akan membersamai kita tatkala kita ingat kepada-Nya, Allah akan mengingat kita dalam diri-Nya tatkala kita mengingat-Nya dalam Jiwa kita dan Allah akan mengingat kita dalam suasana yang lebih baik tatkala kita mengingat-Nya pada suasana apapun.

Rasulullah SAW, bersabda :

“Allah SWT. Telah berfirman , “Aku menurut prasangka hamba-Ku tentang Aku; Aku bersama nya bila ia mengingat-Ku. Bila ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Bila ia mengingat-Ku di tengah khalayak, maka Aku mengingatnya di tengah khalayak yang lebih baik” (Mutafaq’alaih)

Ya…

Allah-lah sebaik-baiknya ZAT penolong..

DIA-lah yang akan senantiasa memberikan ruang bagi jiwa untuk menembus batas kebahagiaan yang selama ini kita cari….

Dan DIA lah yang seharusnya kita jadikan sebagai alasan kenapa kita harus belajar, bekerja, dan berkarya..

Yogya, 23 Februari 2009

Untuk sebuah perenungan..

Sungguh… Engkau lah yang kurindukan tatkala jiwa ini mengelana dalam batas-batas mimpi di pekatnya malam..

Engkaulah yang kunantikan tatkala raga ini bangkit dan memercikkan air di wajahku..

Engkaulah yang kucintai tatkala gersangnya hati melanda dan bahagianya jiwa merona..

Engkaulah yang kuharapkan menjadi pengobat bagi rasa yang kering ketika tertatih-tatih mengejar dunia..

Ya..

Engkaulah yang selalu kurindu.. Di ujung Sajadahku…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (26 votes, average: 9,62 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Terlahir dengan nama Ario Muhammad tanggal 14 September 1987, di pelosok utara Halmahera. Sampai sekarang orang mengenal kecamatan tersebut sebagai salah satu lokasi awal terjadinya kerusahan SARA diawal tahun 2000-an. Malifut, sebuah kecamatan kecil di Halmahera Utara. Sudah hampir 2 tahun saya belum sempat menginjakkan kaki lagi di tanah kelahiran. Ingin sejenak mengenang sungai kecil tempat men...ceburkan diri dan belajar berenang ketika masih berseragam merah putih. Ingin sejenak bercerita pada sungai-sungai jernih yang sering menemani soreku bersama para sahabat untuk menangkap udang, ikan atau sejenisnya, kemudian diperlihara secara sederhana dirumah. Meski akhirnya, selang beberapa hari, peliharaan-peliharaan itu harus mati karena tak cukup oksigen. Buatku, masa kecil hingga remaja akan sangat mempengaruhi pola hidupmu dalam tahun-tahun mendatang. Kenangan hidup didaerah pelosok adalah wangi harum bumi yang merasuk erat di dalam tubuhku. Menghabiskan hari dengan memancing ikan, meski dengan itu harus sedikit nakal karena tak menuruti perintah ayah-ibu untuk tidur, adalah kenangan-kenangan hidup yang terlalu sulit untuk sekedar kulupakan. Juga menghabiskan malam di surau kecil dengan terang lampu yang tidak sebercahaya di kota, membuatku duduk menyepi sambil menghafal ayat demi ayat di Juz Amma, kemudian melaporkan kepada Ustad-ku yang sudah siap dengan rotan bambu-nya yang cukup membuat betis pedia jika salah dalam berbuat. Sungai, bukit, hutan, mengaji, bermain sepuasnya, adalah hari-hari yang mengagumkan dan menjadi kenangan terindah dalam hidupku.

Sayangnya, alam tak mau menempatkanku berlama-lama dengannya. Tahun 1999, di akhir tahun seingatku. Semua penghuni rumah dibangunkan karena kerusuhan SARA baru saja bergolak. Memasuki fase baru dalam hidup yang jauh berbeda dengan sebelumnya, tentu membuatmu tegang. Dulu, yang biasanya kuhabiskan sore dengan memanen sayur atau tanaman di kebun luas milik kakakku, kini harus berganti dengan deruan pukulan tiang listrik, membuat bom, hingga berita-berita tentang kematian demi kematian. 2 tahun masa itu kulewati hingga rasanya sangat kebal ketika menyaksikan perang, melihat mayat, hingga termenung memandang puing-puing rumah yang terbakar.

Memasuki awal 2000, akirnya semua harta keluarga ludes, terbakar, dan hanya meninggalkan puing sejarah yang terlalu kelam untuk sekedar di kenang.

Kujejakkan kakiku di Ibu kota Provinsi Maluku Utara kala itu. Ternate namanya Cukup prestisius dimataku. Karena setidaknya, aku bisa menyaksikan mobil yang banyak lalu lalang, menyaksikan teriakan orang-orang di pasar-pasar yang cukup ramai. Semuanya mengingatkanku dengan kebiasaan menghitung jumlah kendaraan yang lewat di depan warung kecil keluargaku. Sering sekali kuhitung berapa jumlah motor yang lalu lalang dalam 3 atau 4 jam, kemudian membayangkan, kapan kira-kira tempat kelahiranku ini menjadi ramai seperti kota-kota yang ada di tayangan televisi yang kusaksikan. Mungkin semegah Surabaya, ketika kukunjungi dalam usiaku yang ke 11. Atau seluas Bau-bau yang kecil namun berkesan bersama penjual madu yang melimpah. Itu impian sederhana dari seorang Ario kecil. Terlihat aneh jika kuingat-ingat sekarang :)

Ternate, buatku adalah awal gerbang kompetisi. Menikmati masa SMP di SMP N. 4 Ternate, kemudian menamatkan SMA di SMA N. 1 Ternate, adalah bagian dari cerita hidup yang selalu dahsyat untuk di kenang. Menghabiskan masa remaja bersama berbagai aktivitas dan banyaknya karakter menumbuhkan semangat tersendiri buat saya untuk sekedar memahami lebih dalam tentang kehidupan itu sendiri. Hingga ketika berumur 17 tahun, sebuah musibah kecil menimpa keluargaku, yang kemudian, akhirnya menyatukan kepingan-kepingan kerapuhan dalam diriku untuk mengajaknya bertahan, terus berirama dan beresonansi bersama nyanyian hidup yang mau tidak mau harus ku teruskan. Setidaknya, episode kecil itu membuatku lebih memahami siapa kekuatan Maha Dahsyat dibalik takdir yang terjadi dalam kehidupan seseorang. Peristiwa kecil ini juga mempererat tali cinta antara aku bersama bidadari-bidadari-ku dalam keluarga kami. Mungkin jarang terucap, namun kami punya cara untuk sekedar saling merasa tentang keadaan kami yang masih sama-sama belajar. Mereka, saudara-saudariku, adalah sosok pemberi sejuta inspirasi, juga sosok-sosok hangat yang selalu mengerti siapa aku dan bagaimana aku dengan segala keterbatasannya. Mereka pula yang akhirnya mampu menafsirkan, bagaimana seharusnya hidup itu bertransformasi, bagaimana seharusnya sebuah hubungan darah mampu terbangun dan menjadikan istana kehidupan kita berseinergi bersama keinginan alam yang matu tidak mau harus kita hadapi. Merekalah guruku.. Merekalah inspirasi yang takkan pernah kendur, dan takkan pernah habis dimakan zaman.

Dan akhirnya, 4 tahun adalah waktu yang cukup untuk sekedar menghabiskan hariku di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pilihan menjadi seorang Insinyur adalah takdir yang harus kutulis dan kujalani. Hingga dalam perjalananku, aku menemukan mereka-mereka yang menggetarkan. Meski hanya lewat ucap, lewat laku, atau bahkan hanya dari buku-buku. 4 tahun bersama Yogyakarta, membuat karakterku tumbuh dengan segala warna yang ada padanya. Mengenal pribadi-pribadi Al-quran di kota ini telah menyihir segala pemahamanku tentang hidup dan orientasi dalam menjalaninya. Mungkin saya tidak merasa, namun sejatinya, pengaruh-pengaruh mereka telah membentuk karakter dan idealisme yang baru. Semuanya kudefenisikan sebagai proses perubahan. Hidup sangat dinamis, jika karaktermu tetap sama dalam bilangan tahun yang terus terlewati, maka ada yang salah dengan ke-dinamis-anmu. Maka dinamisasi jugalah yang membuat karakter siapapun ikut berubah. Satu hal penting yang tak boleh hilang. Proses transformasi ini harus senantiasa kembali kepada-Nya, berjalan dalam jalur-Nya, dan berkembang sesuai dengan titah-Nya.

2 September 2009. Kumulai menuliskan episode baru dalam hidupku. Sebuah transformasi hidup yang juga baru akan kujalani. Di negeri formosa, akan kulukis cerita, kucatatkan pelangi pada langit-langitnya hingga nanti semua kumpulan episode ini menjadi berharga dimata-Nya. Taiwan Technology atau National Taiwan University of Science and Technology adalah tempat dimana kutitahkan semua perjalanan ini. Membuat cerita baru di tempat yang baru tentu perlu adaptasi yang keras juga membutuhkan proses dan waktu yang memadai. Semoga cerita di formosa, menjadi kenangan indah, seperti kenangan masa kecilku, remajaku, hingga menjemput tranformasi hidup di bumi Yogyakarta.

2 Tahun, akan kujalani cerita bersama tumpukan paper, tugas kuliah, dan tentunya bermacam aktivitas yang akan menemaniku untuk membentuk karakter yang lebih utuh. Anggap saja ini adalah jalan-jalan. cerita jalan-jalan untuk merebut jalan panjang menuju syurga-Nya, jalan sederhana yang sengaja tergariskan oleh-Nya untuk menguji apakah sosok Ario akan terlindas oleh zaman atau akan kokoh bersama waktu. Semoga proses ini menumbuhkan siapapun yang melewatinya, menumbuhkan sakura hingga bersemi, mencairkan salju hingga datang panas, dan mengeringkan suhu yang sering membuatku menggigil ketika musim dingin tiba.

Alhamdulillah, sebelum menggenapi cita-cita untuk lulus master dari Taiwan Technology, aku meminang seorang gadis Trenggalek, Ratih Nur Esti Anggraini dengan mengcuapkan mitsaqan Ghaliza pada tanggal 2 Juli 2011. Dan 17 hari kemudian, Allah memberikan hadiah indah yang lain, di hadapan Prof. Yang CC (NTOU), Dr. Wang H. (China Consultant Inc.), Prof. Chun, Tao Chen (Taiwan Tech), dan Advisor saya, Prof. Chang Ta Peng, saya berhasil mempertahankan Thesis saya dan mendapatkan gelar M.Sc.(Eng) atau MSE.

Saat ini, saya bersama Istri sedang menikmati episode baru menjadi sepasang suami-istri yang semoga dapat saling mencintai karena Allah satu sama lain.

teruslah berjuang kawan, karena episode hidup selalu akan bertransformasi mengikuti usahamu.

Lihat Juga

Ilustrasi. (asepdotcom.blogspot.co.id)

Larangan Berangan-angan Mengharapkan Kematian