22:54 - Minggu, 23 November 2014

Seuntai Nasihat

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Devia Puspita Sari - 08/12/11 | 08:30 | 13 Muharram 1433 H

Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com – Ketika jiwa ini membaca pernyataan di bawah, ada perasaan enggan untuk menerimanya. Namun, harus diakui bahwa inilah realitanya. Sebuah statemen yang memang sebenarnya adalah indikator pembeda antara laki-laki dan perempuan. Dan sampai kapan pun indikator ini tetap ada, tak berubah. Dan kalaupun berubah, intensitas perubahannya tak akan seekstrim mutlak berubah.

Wahai ukhti, mari kita simak dan pahami perbedaan kita dengan mereka (kaum Adam). Setelahnya, mari kita introspeksi diri. Bagian yang menghambat kedewasaan kita, hendaklah kita kurangi perlahan-lahan. Ana paham, untuk merubah suatu identitas atau karakter tidaklah mudah. Dan kita pun tak harus berafiliasi 360%. Jangan!! Jangan lakukan itu!! Mari kita telusuri setiap poin yang secara tidak langsung memperlihatkan nyata perbedaan kita dengan mereka.

  1. Laki-laki lebih terbiasa menggunakan logika. Sedangkan perempuan walaupun terkadang sebenarnya lebih pintar dari laki-laki tidak terbiasa menggunakan potensi akal. Ia terbiasa mengedapankan perasaannya.
  2. Laki-laki itu menganggap penting keahlian. Sedangkan perempuan tidak begitu memperhitungkan keahlian.
  3. Laki-laki mempunyai pola pikir untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan perempuan mempunyai pola pikir mengutarakan dan membicarakan masalah. Bukan untuk diselesaikan.
  4. Laki-laki cenderung menyelesaikan masalahnya dengan diam. Sedangkan perempuan menyelesaikannya dengan bercerita (curhat). Padahal laki-laki tidak suka dengan perempuan yang cerewet.
  5. Laki-laki merasa dicintai bila dipercaya dan diberi tanggung jawab. Sedangkan perempuan merasa dicintai jika merasa diperhatikan.
  6. Laki-laki kurang suka dengan ungkapan verbal. Sebaliknya perempuan menyukai ungkapan itu. Makanya jika ada suami tidak pernah berkata romantik kepada istrinya, sang istri langsung merasa bahwa ia tidak dicintai.
  7. Perempuan suka sekali memberi perintah walaupun si lelaki tidak memintanya. Sedangkan laki-laki merasa dihina jika diperintah oleh perempuan.
  8. Perempuan begitu mudahnya menangis. Sedangkan laki-laki perlu alasan yang kuat untuk menangis.
  9. Dalam lubuk hati laki-laki yang paling dalam ada keinginan untuk menjadi pahlawan bagi wanita sehingga dukunglah apa yang dilakukannya tetapi tidak terlalu banyak memberinya masukan atau saran.

(Fachmy Casofa, 2009, “Muslimah, Mewangilah hingga ke Surga !”)

“Perempuan begitu mudahnya menangis. Sedangkan laki-laki perlu alasan yang kuat untuk menangis”

Engkau tahu wahai kaum Adam, bahwa kami sangat suka menangis. Jika butiran itu hendak turun, kami tak akan mampu untuk menahannya. Dengan menahan mereka jatuh, sama saja kami menahan beban ini hilang.

Mungkin aneh, tapi inilah kenyataannya.
Setiap butiran kecil itu adalah wakil dari setiap beban yang kami pikul.
Jika ia jatuh, maka beban itu pun jatuh.
Seakan-akan mengalirnya butiran air kecil itu menjatuhkan segenap beban yang memberatkan punggung kami.
Kami takkan pernah menghentikan tangisan itu hingga mata yang menghentikannya seiring dengan lepasnya beban perlahan-lahan.

Hal demikian adalah kontradiksi kepribadian kita. Dan hendaknya kita pun dapat saling memahaminya, agar kelak kita dapat bersinergi dalam merekonstruksi suatu peradaban.

Dan teruntuk ukhti-ukhti yang kucinta…
Mari kita maksimalkan kapabilitas yang ada.
Kita adalah tonggak peradaban.
Perbedaan karakteristik kita dengan mereka adalah seni yang indah dalam warisan peradaban.
Selemah apapun kita, kita tetap kuat. Bahkan mungkin lebih kuat dari mereka (kaum Adam).
Karena ada hal yang kita miliki, namun tak dimiliki oleh mereka. Dan carilah itu di dalam diri kita masing-masing.
Kemudian, tuangkan ia ke dalam peran kita sebagai seorang wanita.
Sebagai pembawa kobaran semangat bagi mereka, yang selalu meneguhkan mereka.

Jika engkau masih tetap tidak menyadari peran tersebut, maka ingatlah terus kiasan ini:

“Banyak pria hebat menjadikan wanita sebagai sumber inspirasi dan motivasi yang tertinggi. Selalu ada perempuan kuat dibalik lelaki hebat. Entah itu berperan sebagai ibu, istri, kekasih, atau sahabat. Karena itu, ia dianggap sebagai tonggak –tonggak penyangga sebuah peradaban”.

Karena ini adalah bukti bahwa kita sebagai seorang wanita memiliki peran yang strategis.
Gapailah kemuliaan itu saudariku. Tentunya dengan kelembutan dan kerendahan dirimu.

Tentang Devia Puspita Sari

Student of Universitas Bakrie, Accounting Study Program. Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Aktivis LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Basmala Universitas Bakrie. Member of Muamalah Community. Seorang hamba yang tidak… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (22 orang menilai, rata-rata: 7,77 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • wiz

    benar, tapi tidak sepenuhnya mutlak..

    • Manusia

      = tergantung/relatif

Iklan negatif? Laporkan!
68 queries in 1,412 seconds.