Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tawakal Saja Biar Allah yang Menyegerakannya

Tawakal Saja Biar Allah yang Menyegerakannya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Erina Prima)

dakwatuna.com – Ada serumput bahagia menghempas jiwa, ada kesejukan mengalir tenang membasahi hati dalam raga, ada bias-bias cahaya yang terus memancar terang untuk memapah tiap langkah agar dapat berjalan.

Sejenak merenung, ada banyak permohonan yang hampir tak pernah putus terpanjatkan kepadaNya, namun…hingga sekarang belum juga terwujud.

Ada banyak permintaan yang terucap kepadaNya, namun hingga detik ini belum juga terpenuhi.  Mungkin, saya pernah merasakan lidah yang hampir kelu karena terus bermunajat namun belum juga terijabah, atau kelelahan batin yang begitu meletihkan karena doa yang hampir selalu terucapkan, namun belum juga terjawab.

Sungguh, tiap-tiap bait dalam doa yang terucapkan bagi saya itu adalah energi yang membentuk ketahanan kita dalam menghadapi ujian hidup. Ia adalah senjata, karena dengannya kita mendapat bantuan dari yang Maha Kuat.

Ya…kekuatan iman kita justru akan semakin tampak tatkala kita berupaya sekuat tenaga dan terus menerus memanjatkan doa, namun kita belum juga merasakan perubahan.

Kembali teringat akan sebuah kutipan kata yang begitu membekas dan mengena di hati “Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian. Di saat ia tetap totalitas dalam berdoa tapi ia belum juga melihat pengaruh apapun dari doanya. Ketika, ia tetap tidak merubah keinginan dan harapannya, meski sebab-sebab berputus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan karena ia yakin bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih maslahat untuk dirinya.”

Hampir sama kondisinya dengan orang yang menaiki gunung tinggi. Ia dianjurkan untuk tidak terlalu sering melemparkan pandangannya ke atas gunung yang harus ia daki, karena bisa memunculkan ketidakpercayaan diri dan membebani langkahnya untuk terus mendaki. Tapi, ketika ia turun dari tempat yang tinggi, ia juga dianjurkan untuk tidak terlalu sering melihat jauh ke bawah. Karena jauhnya daratan yang ia lihat bisa menimbulkan kelemahan pada jiwa.

Adalah suatu kefitrahan bila kita merasa resah atas tiap bait-bait doa yang belum terjawab. Tawakal saja…bila kita tak pernah berhenti berdoa, dalam tiap kesunyian kita terus mengiba dengan penuh harap dan cemas dalam doa.

Bukankah orang-orang yang memohon dan menginginkan doanya segera terkabul, cepat terwujud adalah bukti dari kelemahan iman?

“Sesungguhnya Allah tidak pernah mengabulkan doa dari hati yang lalai.”

Akhirnya kita masih memiliki sumber kegembiraan sejati yaitu doa yang membuat keimanan kita semakin hari semakin kuat.

Maka sekarang tawakal saja…biar Allah yang menyegerakannya, menyegerakan kita dalam kebaikan yang menghantarkan kita menuju keridhaanNya.

Wallahu’alam Bish Showwab..

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (110 votes, average: 9,35 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Shita Ismaida

Istri dari Iwan Solahuddin muslimah kelahiran Jakarta ini masih menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Ia juga aktif menulis, tulisannya pernah dimuat di websitus islami.

Meski latar belakang pendidikannya Ekonomi, anak sulung ini justru sangat menyukai sastra. Saat ini ia lebih suka menulis. Penggemar aktivitas petualang dan menantang ini punya hobbi hikking, rafting, traveling.

 

situs web penulis : www.ismaidha.blogspot.com ; www.oasepena.wordpress.com
  • Jalan hidup sudah ada yg mengatur tinggal qt bagaimana menjalaninya…

  • Mway

    …mungkin saya pernah, tapi itu tak seharusnya, _merasakan lidah  yang hampir keluh… karena,….

  • t’ka

    jadi teringat nasehat dari seorang sahabat
     “Tertundanya pemberian setelah engkau mengulang-ulang permintaan, janganlah membuatmu patah harapan. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih buatmu,
    … bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.” (Imam Athaillah As Sakandary)

    “Tak terjadinya sesuatu yang dijanjikan, padahal waktunya telah tiba, janganlah sampai membuatmu ragu terhadap janji Allah itu.Supaya, yang demikian itu tidak mengaburkan pandangan mata hatimu dan memadamkan cahaya relung jiwamu”. dan “Ketika Allah membukakan pintu pengertian bagimu tentang penolakan-Nya, maka penolakan itu pun berubah menjadi pemberian”.
    (Shohibul Hikam wa Latha’if al-Minan)

    sekarang tawakal saja…biar Allah yang menyegerakannya, menyegerakan kita
    dalam kebaikan yang menghantarkan kita menuju keridhaanNya. *like it sist ..

  • tawakkal aj,hidup udah ada yg mengaturx.

  • tawakkal aja krn hidup udah ada yg mengaturnya.

  • Adytoudel

    apakah hanya cukup bertawakal saja…???
    saya rasa tidak…
    Berusaha dan berikhtiar dulu,setelah itu baru bertawakal…

  • Ady

    tawakal saja tidak cukup boss…
    Berdo’a,berusaha,ikhtiar baru Tawakal….

  • wahyu

    dari judulnya sudah menarik… ijin copast buat referensi bacaan ya ukhti

  • Mediya_semedi

    Tentunya yang dimaksud dengan tawakal ialah : melaksanakan kewajiban secara normal normal aja..ya kan ? ga neko neko…( apalagi ) ngambil yang bukan hak kita…dmkn.

  • subhanallah… Indah skali rngkaian katanya….
     

  • jazakillah ukhty…, diri yang lemah yang sering berada di ambang pintu keputusasaan ini telah diingatkan.

  • insyaalloh,,,,,///

  • Adytoudel dan Ady: tawakkal itu adalah sungguh-sungguh dalam bekerja dengan hati yang lapang atas segala hasil yang diberikan Allah. Jadi berusaha/berikhtiar yg disertai hati lapang = Tawakkal.

  • Kinoy Imans

    Diantara kebahagiaan manusia adalah menentukan pilihannya dengan Allah, dan diantara kebahagiaan manusia adalah keridhoannya pada apa yang Allah tentukan,
    Dan diantara tanda kesengsaraan manusia adalah ia meninggalkan Allah dalam pilihannya, Dan diantara tanda kesengsaraan manusia adalah kemarahannya pada apa yang Allah tetapkan atas dirinya (HR,Imam Ahmad)

Lihat Juga

Indahnya Hidup dalam Panduan Allah