Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Kontemporer / Hukum Wanita Memandang Laki-Laki

Hukum Wanita Memandang Laki-Laki

Ilustrasi (desainkawanimut.com)

dakwatuna.com – Di antara hal yang telah disepakati ialah bahwa melihat kepada aurat itu hukumnya haram, baik dengan syahwat maupun tidak, kecuali jika hal itu terjadi secara tiba-tiba,  tanpa sengaja.

Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, “Saya bertanya kepada Nabi SAW tentang memandang (aurat orang lain) secara tiba-tiba (tidak disengaja). Lalu beliau bersabda, ‘Palingkanlah pandanganmu.” (HR Muslim)

Lantas, apakah aurat laki-laki itu? Bagian mana saja yang disebut aurat laki-laki? Kemaluan adalah aurat mughalladzah (besar/berat) yang telah disepakati akan keharaman membukanya di hadapan orang lain dan haram pula melihatnya, kecuali dalam kondisi darurat seperti berobat dan sebagainya. Bahkan kalau aurat ini ditutup dengan pakaian tetapi tipis atau menampakkan bentuknya, maka ia juga terlarang menurut syara’.

Mayoritas fuqaha berpendapat bahwa paha laki-laki termasuk aurat, dan aurat laki-laki ialah antara pusar dengan lutut. Mereka mengemukakan beberapa dalil dengan hadits-hadits yang tidak lepas dari cacat. Sebagian mereka menghasankannya dan sebagian lagi mengesahkannya karena banyak jalannya, walaupun masing-masing hadits itu tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan suatu hukum syara’.

Sebagian fuqaha lagi berpendapat bahwa paha laki-laki itu bukan aurat, dengan berdalilkan hadits Anas bahwa Rasulullah SAW pernah membuka pahanya dalam beberapa kesempatan. Pendapat ini didukung oleh Muhammad Ibnu Hazm.

Menurut mazhab Maliki sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab mereka bahwa aurat mughalladzah laki-laki ialah qubul (kemaluan) dan dubur saja, dan aurat ini bila dibuka dengan sengaja membatalkan shalat.

Dalam hal ini terdapat rukhshah (keringanan) bagi para olahragawan dan sebagainya yang biasa mengenakan celana pendek, termasuk bagi penontonnya, begitu juga bagi para pandu (pramuka) dan pecinta alam. Meskipun demikian, kaum Muslimin berkewajiban menunjukkan kepada peraturan internasional tentang ciri khas kostum umat Islam dan apa yang dituntut oleh nilai-nilai agama semampu mungkin.

Perlu diingat bahwa aurat laki-laki itu haram dilihat, baik oleh perempuan maupun sesama laki-laki. Ini merupakan masalah yang sangat jelas. Adapun terhadap bagian tubuh yang tidak termasuk aurat laki-laki, seperti  wajah, rambut, lengan, bahu, betis, dan sebagainya, menurut pendapat yang sahih boleh dilihat, selama tidak disertai syahwat atau dikhawatirkan terjadinya fitnah. Ini merupakan pendapat jumhur fuqaha umat, dan ini diperlihatkan oleh praktek kaum muslim sejak zaman Nabi dan generasi sesudahnya, juga diperkuat oleh beberapa hadits sharih (jelas) dan tidak bisa dicela.

Adapun masalah wanita melihat laki-laki, maka dalam hal ini terdapat dua riwayat. Pertama, ia boleh melihat laki-laki asal tidak pada auratnya. Kedua, ia tidak boleh melihat laki-laki melainkan hanya bagian tubuh yang laki-laki boleh melihatnya. Pendapat ini yang dipilih oleh Abu Bakar dan merupakan salah satu pendapat di antara dua pendapat Imam Syafi’i.

Hal ini didasarkan pada riwayat Az-Zuhri dari Ummu Salamah, yang berkata, “Aku  pernah duduk di sebelah Nabi SAW, tiba-tiba Ibnu Ummi Maktum meminta izin masuk. Kemudian Nabi saw bersabda, ‘Berhijablah kamu daripadanya. ‘Aku berkata, wahai Rasulullah, dia itu tuna netra.’ Beliau menjawab dengan nada bertanya, ‘Apakah  kamu berdua (Ummu Salamah dan Maimunah) juga buta dan tidak melihatnya?” (HR Abu Daud dan lain-lain)

Larangan bagi wanita untuk melihat aurat laki-laki didasarkan pada hipotesis bahwa Allah menyuruh wanita menundukkan pandangannya sebagaimana Dia menyuruh laki-laki berbuat begitu. Juga didasarkan pada hipotesis bahwa wanita itu adalah salah satu dari dua jenis anak Adam (manusia), sehingga mereka haram melihat (aurat) lawan jenisnya. Haramnya bagi wanita ini dikiaskan pada laki-laki (yang diharamkan melihat kepada lawan jenisnya).

Alasan utama diharamkannya melihat itu karena dikhawatirkan terjadinya fitnah. Bahkan kekhawatiran ini pada wanita lebih besar lagi, sebab wanita itu lebih besar syahwatnya dan lebih sedikit (pertimbangan) akalnya.

Nabi SAW bersabda kepada Fatimah binti Qais, “Beriddahlah engkau di rumah Ibnu Ummi Maktum, karena dia seorang tuna netra, engkau dapat melepas pakaianmu sedangkan dia tidak melihatmu.” (Muttafaq alaih)

Aisyah berkata, “Adalah Rasulullah SAW melindungiku dengan selendangnya ketika aku melihat orang-orang Habsyi sedang bernain-main (olahraga) dalam masjid.” (Muttafaq alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan, pada waktu Rasulullah SAW selesai berkhutbah shalat Id, beliau menuju kepada kaum wanita dengan disertai Bilal untuk memberi peringatan kepada mereka, lalu beliau menyuruh mereka bersedekah.

Seandainya wanita dilarang melihat laki-laki, niscaya laki-laki juga diwajibkan berhijab sebagaimana wanita diwajibkan berhijab, supaya mereka tidak dapat melihat laki-laki.

Jadi, memandang itu hukumnya boleh dengan syarat jika tidak dibarengi dengan upaya “menikmati” dan bersyahwat. Jika dengan menikmati dan bersyahwat, maka hukumnya haram. Oleh sebab itu, Allah menyuruh kaum mukminah menundukkan sebagian pandangannya sebagaimana Dia menyuruh laki-laki menundukkan sebagian pandangannya.

Firman Allah: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS An-Nur: 30-31)

Memang benar bahwa wanita dapat membangkitkan syahwat laki-laki lebih banyak daripada laki-laki membangkitkan syahwat wanita, dan memang benar bahwa wanita lebih banyak menarik laki-laki, serta wanitalah yang biasanya dicari laki-laki. Namun semua ini tidak menutup kemungkinan bahwa di antara laki-laki ada yang menarik pandangan dan hati wanita karena kegagahan, ketampanan, keperkasaan, dan kelelakiannya, atau karena faktor-faktor lain yang menarik pandangan dan hati perempuan.

Al-Qur’an telah menceritakan kepada kita kisah istri pembesar Mesir dengan pemuda pembantunya, Yusuf, yang telah membuatnya dimabuk cinta. Lihatlah, bagaimana wanita itu mengejar-ngejar Yusuf, dan bukan sebaliknya, serta bagaimana dia menggoda Yusuf untuk menundukkannya seraya berkata, “Marilah ke sini.” Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah.” (QS An-Nur: 23)

Apabila seorang wanita melihat laki-laki lantas timbul hasrat kewanitaannya, hendaklah ia menundukkan pandangannya. Janganlah ia terus memandangnya, demi  menjauhi timbulnya fitnah, dan bahaya itu akan bertambah besar lagi bila si laki-laki juga memandangnya dengan rasa cinta dan syahwat.

Akhirnya, untuk mendapat keselamatan, lebih baik kita menjauhi tempat-tempat dan hal-hal yang mendatangkan keburukan dan bahaya. Kita memohon kepada Allah  keselamatan dalam urusan agama dan dunia. Amin.

(cr01/RoL)

Sumber: Fatwa-Fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qaradhawi

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (101 votes, average: 9,47 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Rizka Hidayati

    “sebab wanita itu lebih besar syahwatnya”
    dari beberapa sumber yang pernah saya baca, yang lebih besar syahwatnya itu pria, bukan wanita. Mohon dikaji kembali jika sekiranya saya yang salah.

  • Rizka Hidayati

    “sebab wanita itu lebih besar syahwatnya”
    dari beberapa sumber yang pernah saya baca, yang lebih besar syahwatnya itu pria, bukan wanita. Mohon dikaji kembali jika sekiranya saya yang salah.

  • aamiinnn…..

  • Tepatnya ikutilah Ayat 30-31 Surah An-Nur. Wallahu a’lam …! 

  • Asal jangan spt beli kucing dalam karung saja, jk ingin dijadikan pendamping hidup.

  • antara khimar dan jilbab keduanya merupakan dua benda berbeda dan memiliki pengertian dan ciri yg berbeda pula. khimar telah cukup dijelaskan bahwa wujudnya adlah kerudung, yaitu merupakan penutup kepala.
    jilbab berasal dari akar kata jalaba yang berarti menghimpun dan
    membawa. Jilbab pada masa nabi adalah pakaian luar yang menutupi segenap
    anggota tubuh dari kepala hingga kaki perempuan dewasa.
    Pengertian jilbab menurut Imam Al-Qurthubi ialah merupakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh.

    dalam tafsirnya Imam Al-Qurthubi juga mengatakan bahwa al-jalaabiib
    dalam surat Al-Ahzab:59 merupakan jamak dari kata “al jilbaab” yaitu
    pakaian yang lebih besar dari “al khimar.”

    Jilbab adalah rida’ di atas khimar. Hal tersebut juga diungkapkan oleh
    Ibnu Masud, Ubaidah, Qatadah, Al Hasan Al Bashri, Said bin Jubair,
    Ibrahim An nakhai, Atha’ Al Khusarani. Dia seperti sarung (al izar) di
    zaman sekarang. Menurut Al Jauhari, jilbab adalah milhafah. Ummu Salamah
    menceritakan hadits berikut:

    “ketika diturunkan firmannya, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
    seluruh tubuh mereka’, maka kaum perempuan Anshor keluar seakan-akan di
    atas kepala mereka terdapat burung gagak, karena (tertutup oleh
    selimut).” (HR. Abu Dawud)

    Menurut Ali Mansur Nashif dalam kitab At Taaj al jaami’ Lil Ushulil fii
    Ahadits ar-Rosul, “jalaabibihinna” merupakan bentuk jamak dari kata
    jilbab yang artinya pakaian perempuan yang dipakai di luar kerudung dan
    baju gamisnya yang berfungsi menutupi seluruh tubuhnya. Menurut Munawir
    dan Al Ma’Louf dalam kamusnya kata jilbab diartikan sebagai baju kurung
    atau jubah.

    Diriwayatkan pula suatu hadits dari Ummu ‘Athiyah yang berkata: “
    Rosulullah saw telah memerintahkan kepada kami untuk keluar (menuju
    lapangan) pada saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha; baik perempuan
    tua, yang sedang haid, maupun perawan. Perempuan yang sedang haid
    menjauh dari kerumunan orang yang sedang shalat, tetapi mereka
    menyaksikan kebaikan dan seruan yang ditujukan kepada kaum muslim. Aku
    lantas berkata, “Ya Rosulullah saw, salahsatu antara kami tidak memiliki
    jilbab. “ Beliau kemudian bersabda, “Hendaklah salah seorang saudaranya
    meminjamkan jilbabnya.”

    Berdasarkan hadits tersebut cukup jelas menerangkan bahwa jilbab adalah
    pakaian yang wajib dikenakan saat ke luar, pakaian luar yang dikenakan
    oleh perempuan di atas pakaian yang digunakan sehari-hari (yang biasa
    digunakan di dalam rumah). Karena Ummu Athiyah bertanya tentang
    seseorang yang tidak memiliki jilbab, hal tersebut bukan berarti ia
    tidak memiliki pakaian dan tidak dalam kondisi telanjang, melainkan
    dalam keadaan menggunakan pakaian biasa yang dipakai di dalam rumah yang
    tidak boleh dipakai saat ke luar rumah.
    Terdapat pula riwayat yang disampaikan oleh Ibn ‘Abbas yang
    menyatakan bahwa jilbab adalah kain luar yang berfungsi untuk menutupi
    (pakaian keseharian perempuan) dari atas sampai bawah. wallahualam

  • nadhiroh asri

    bukankah Rasulullah pernah brsabda.. ”jangan kamu dedahkan peha kamu dan jangan sesekali kamu melihat peha orang yang hidup mahupun mayat (telah meninggal dunia)”
    hadis ini sohih…

  • BENAR MASALAH TERBESAR ANAK ANAK MUDA SEKARANG MEMANG TIDAK DAPAT MENAHAN PANDANGANNYA, HENDAKNYA DIATASI DENGAN RAJIN BERPUASA :)

Lihat Juga

Ilustrasi. (iphincow.com)

Ibuku Wanita Terkuat