Home / Berita / Internasional / Asia / Perbankan Syariah Perlu Optimalkan Kepemilikan Modal Wanita di Timur Tengah

Perbankan Syariah Perlu Optimalkan Kepemilikan Modal Wanita di Timur Tengah

Ilustrasi - Kota Dubai (RoL)

dakwatuna.com – Dubai. Kaum wanita di industri keuangan syariah dapat menjadi pasar potensial yang dapat digarap lembaga keuangan syariah. Wilayah kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat keuangan syariah pun kini mulai memberikan perhatian layanan keuangan syariah khusus bagi kaum hawa, walau belum sepenuhnya terwakili.

Perkiraan nilai aset yang dikelola wanita di Timur Tengah memang beragam, tapi jumlahnya cukup besar. Dari studi yang dilakukan oleh Middle East Economic Digest pada 2008 kaum wanita di kawasan Teluk mengontrol dana sebesar 385 miliar dolar AS pada akhir 2011. Hal itu serupa dengan studi Bank Dunia pada 2007 yang memperkirakan sepertiga kaum wanita di Uni Emirat Arab memiliki bisnis dengan penghasilan lebih dari 100 ribu dolar per tahun.

Sementara berdasar hasil studi Al Masah Capital, 93 persen wanita di Arab Saudi memiliki ijazah universitas atau sekolah menengah, dibanding 60 persen pria yang bekerja. Untuk melayani kebutuhan keuangan wanita, National Commercial Bank yang berbasis di Arab Saudi juga telah membuka 46 kantor cabang khusus wanita sejak 1980. Sementara Saudi British Bank (SABB) tercatat memiliki 17 persen staf perempuan.

Penasihat Senior Booz & Company’s Ideation Center, Mona al-Munajjed, mengatakan jumlah pegawai perempuan di sektor perbankan pun mengalami peningkatan 280 persen, dari 972 orang pada 2000 menjadi 3.700 pada 2008. Kendati keuangan syariah tumbuh pesat di kawasan Teluk Arab, belum ada wanita yang duduk sebagai direktur utama di lembaga keuangan syariah. Sejumlah ahli pun mengatakan saat ini adalah waktunya bagi perempuan di wilayah Arab untuk memperoleh pelatihan mengenai keuangan syariah.

Hal itu juga dilakukan sebagai langkah antisipasi kurangnya ahli keuangan syariah yang dapat menghambat pertumbuhan industri keuangan syariah. “Tidak ada larangan mengapa perempuan tidak bisa turut serta dan berperan penting dalam pengembangan keuangan syariah di semua level,” ujar partner firma hukum Denton, Sheikh Muddassir Siddiqui.

Sementara itu, akademisi Halima Krausen, menuturkan pelatihan mengenai keuangan syariah belum tersedia dengan baik pada 50 tahun lalu. Namun dengan berkembangnya industri keuangan syariah, lanjutnya, kaum wanita saat ini harus mengambil keuntungan dari peluang yang ada. “Jika Anda melihat generasi muslim di masa awal kaum wanita menikmati kehidupan pribadi dan juga ikut aktif dalam bisnis,” kata Krausen.

Di negara lainnya seperti Malaysia, peran perempuan yang berkecimpung di industri keuangan syariah lebih terlihat. Selain memiliki gubernur bank sentral yang adalah perempuan, sejumlah lembaga keuangan syariah Malaysia menempatkan kaum wanita di posisi eksekutif. Namun dengan jumlah populasi 28 juta jiwa, peran wanita di Malaysia menjadi tenggelam di antara besarnya industri keuangan syariah. (Budi Raharjo/Yogie Respati/RoL)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Good Corporate Governance (GCG) di Bank Syariah dan Bank Konvensional