Home / Berita / Analisa / Wartawan Gedung Putih Bicara Kebenaran

Wartawan Gedung Putih Bicara Kebenaran

Ir. Ibrahim Ghausah

(Al-Majd Jordania)

dakwatuna.comPada saat mayoritas rezim Arab mundur dari tanggungjawabnya terhadap masalah Palestina padahal mereka penanggungjawab langsung dari prahara tahun 1948 dan tragedy 1967.

Rezim Arab justru masih konsisten dengan prakarsa perdamaian dengan Israel sejak 2002 yang menyelewengkan hak kembali pengungsi Palestina dan mengakui Israel. Ini dilakukan oleh 22 negara Arab dan 57 negara Islam yang berkonspirasi memblokade 1,5 juta warga Palestina di Jalur Gaza, melepaskan diri dari Jerusalem (Al-Quds) Timur dan masjid Al-Aqsha, gereja Al-Kiamah setelah melepaskan diri dari Jerusalem Barat. Sementara itu, Abbas – sosok paling dipercaya rezim Arab – menegaskan, “Saya tidak akan abaikan hak bangsa yahudi untuk hidup di tanah Israel (Palestina).” Ini disampaikan Abbas di depan 30 tokoh dan pimpinan perwakilan Yahudi dan AIPAC di Amerika Serikat. Ini persis mengingatkan janji Balfour satu abad lalu.

Pada saat sebagian orang meminta berdirinya negara Palestina di perbatasan jajahan 1967, padhaal Tepi Barat dan Jerusalem Timur telah dibangun “negara  pemukiman” yang dihuni oleh 550 ribu warga yahudi, sebagian orang menganggap bahwa negara adalah separuh Tepi Barat dan Jalur Gaza saja setelah gerakan Fatah melepaskan 78 % tanah Palestina dengan mengakui resolusi 242 di konferenei Algeria tahun 1988.

Meski ramai-ramai elit Arab dan Palestina melepaskan hak bangsa Palestina, namun dunia media Amerika disentakkan oleh Helen Thomas (90) delegasi United Press Internasional di Gedung Putih. Di barisan 10 pemimpin Amerika dari Knedi hingga Obama, dia adalah orang pertama yang menayakan seorang rabi Yahudi setelah peristiwa pembantaian Freedom Flotilla, “Katakan kepada mereka (bangsamu) keluar dari Palestina.” Ketika perempuan tua ini ditanya, “Adakah komentar Anda yang lebih baik  tentang Israel??” dia menjawab, “Mereka itu (Yahudi di Palestina) adalah penjajah, dan ini (Palestina) bukan Jerman atau Polandia,”

Menjawab pertanyaan dimana Israel harus kembali, Thomas menjawab, “Mereka harus kembali kampung mereka ke Polandia, Amerika dan Jerman atau tempat lain.”

Ya, Thomas telah mengembalikan akar permasalah Palestina ke titik yang sebenarnya dan dia menyampaikan apa yang sesungguhnya. Sebelumnya, bangsa Palestina mengatakannya sendiri ketika mengadang Janji Balfour tahun 1917, ketika menggelar revolusi cemerlang tahun 1992, ketika revolusi Al-Qassam tahun 1935, ketika menggelar mogok tahun 1937, ketika berjihad di bawah pimpinan Abdul Qadir Al-Husaini dan lainnya tahun 1948, ketika gerakan Fatah pertama kali melepaskan tembakan ke penjajah Israel tahun 1965 untuk membebaskan wilayah jajahan 1948, ketika meletus Intifadhah 1948 yang diletuskan Hamas dan faksi lainnya kemudian piagama perlawanan itu dideklrasikan bahwa Palestina adalah tanah wakaf Islam dan perlawanan akan dilanjutkan hingga sekarang ini. Hakikat itu juga ditegaskan pada saat Intifadhah Al-Aqsha tahun 2000, dan semua operasi jihad, perlawanan, ketegaran dan konsistensi dengan Palestina, semua wilayah Palestina, Al-Quds, semua Al-Quds. Persis seperti Aljazair komitmen dengan semua wilayah Aljazair dan penjajah Perancis kembali ke kampung mereka setelah 132 tahun menjajah negeri itu. (bn-bsyr)

Redaktur: Ulis Tofa, Lc

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Supporter Indonesia membuat Aksi Atraktif dengan membentuk Koreo Bendera Palestina saat Laga Timnas dengan Malaysia, Selasa (

Kreasi Apik Bendera Palestina Iringi Laga Indonesia vs Malaysia