20:01 - Jumat, 25 Juli 2014
Dr. Attabiq Luthfi, MA

Meraih Ridha Allah

Rubrik: Tafsir Ayat | Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA - 26/01/10 | 16:57 | 09 Safar 1431 H

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ (207)

dakwatuna.com - “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk meraih ridha Allah swt. Dan adalah Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya”. (Al-Baqarah: 207)

Berdasarkan sebab nuzul yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, ayat ini memberi gambaran konkrit tentang seseorang yang rela mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata untuk meraih ridha Allah dalam seluruh totalitas kehidupannya. Karena ia yakin, ridha Allah merupakan target puncak dari sebuah proses panjang keimanan yang merupakan implementasi nyata dari kesempurnaan takwa ‘كمال التقوى ‘, sebuah terminologi agung yan dikemukakan oleh Mufassir Abu Su’ud ketika memahami perilaku sahabat Rasulullah yang menjadi sebab turunnya ayat ini.

Adalah seorang sahabat Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi yang rela mengorbankan seluruh yang dimilikinya karena tekanan kaum Quraisy agar ia diperkenankan untuk berhijrah ke Madinah. Shuhaib dihalangi oleh para pemuka Quraisy untuk berhjrah melainkan ia menyerahkan seluruh hartanya kepada mereka tanpa tersisa sedikit pun. Dengan tanpa ragu-ragu, ia meninggalkan hartanya di Mekah semata-mata mengharapkan ridha Allah dari perbuatan hijrahnya yang mulia tersebut. Setelah sampai di Madinah dan bertemu dengan Rasulullah, beliau memujinya dengan ungkapannya yang masyhur : رَبح صهيبُ، ربح صهيب (sungguh telah beruntung Shuhaib). dalam riwayat lain: ربح البيع، ربح البيع (sungguh telah beruntung perniagaannya).

Dalam konteks ayat ini, Ar-Razi menukil riwayat bahwa Umar bin Khattab pernah mengutus pasukan dan berhasil mengepung benteng pertahanan mereka. Karena tidak mampu menembus benteng tersebut, tiba-tiba seseorang berinisiatif untuk menerjunkan dirinya di tengah-tengah musuh untuk membuka pertahanan mereka sampai akhirnya orang tersebut menemui ajalnya. Setelah pertempuran berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Umar bin Khattab atas keberanian sahabat tersebut, beberapa pasukan mengomentari apa yang dilakukan oleh orang tersebut yang dianggap membinasakan diri sendiri. Umar bin Khattab menampik pandangan mereka dan mengatakan: “Kalian telah berdusta dengan ucapan kalian itu. Semoga Allah merahmatinya”. Kemudian Umar membaca ayat ini untuk membenarkan perbuatan yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut.

Ar-Razi menutup pembahasan riwayat ini dengan mengemukakan bahwa barometer untuk menentukan seseorang tersebut termasuk dalam ayat ini atau sebaliknya membinasakan diri sendiri dengan perbuatan berani tersebut adalah kesesuaiannya dengan syariat. Jika ia melakukannya sesuai dengan tuntutan syariat maka itu dibenarkan dan masuk dalam kategori ayat ini. Namun jika sebaliknya, maka barulah dikatakan orang tersebut telah membinasakan diri sendiri dengan perbuatan nekad tersebut.

Berdasarkan korelasi pembahasannya, ayat ini merupakan pembanding dari tiga ayat sebelumnya (Al-Baqarah: 204-206) yang berbicara tentang sikap dan perilaku orang-orang munafik yang rela mengorbankan segalanya semata-mata untuk meraih keuntungan duniawi. Maka Allah menghendaki sikap mengagumkan yang harus ditunjukkan oleh orang yang benar-benar beriman yang membedakannya dengan orang munafik, yaitu kesiapannya untuk memenuhi perintah Allah meskipun harus dengan mengorbankan segalanya demi meraih gelar tertinggi di mata Allah. Karena dengan meraih ridha Allah, segala kebaikan, kemuliaan dan keberkahan hidup akan senantiasa menyertainya dan Allah akan senantiasa hadir dengan sifat Penyantun yang ditegaskan oleh kalimat terakhir ayat ini: “Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hambaNya (yang rela mengorbankan segalanya untuk Allah)”.

Inilah pelajaran berharga yang ditunjukkan oleh ayat ini menurut Sayyid Quthb dalam tafsir Dzilalnya. Pelajaran tentang dua tipe manusia sepanjang zaman; seorang munafik yang menjadikan seluruh hidupnya demi kepentingan dunia dan seorang mukmin yang benar yang menggadaikan totalitas hidupnya untuk Allah, tanpa tersisa sedikitpun untuk selain-Nya. Maka secara spesifik di ayat selanjutnya Allah mengarahkan orang-orang yang beriman agar menjadikan totalitas hidupnya dalam kerangka berIslam secara utuh tanpa ada keraguan sedikit pun. Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara kaafah dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian”. (Al-Baqarah: 208)

Berislam secara kaaffah seperti yang diperintahkan oleh Allah dalam ayat ini berarti meninggalkan segala bentuk langkah syaitan secara totalitas juga. Terbawa dan hanyut dalam salah satu dari jerat syaitan akan mengurangi totalitas keislaman kita. Karenanya, langkah-langkah syaitan dimaknai oleh para ulama dalam arti setiap perbuatan maksiat kepada Allah swt.

Di sini, berislam secara kaaffah sebagai wujud dari motifasi untuk meraih ridha Allah akan senantiasa berdepan dengan beragam langkah syaitan yang secara sistemik dan berkesinambungan berusaha mereduksi keyakinan untuk berislam secara totalitas dalam beragam bentuk dan tampilannya. Inilah yang harus diantisipasi dan diwaspadai oleh segenap orang yang beriman tanpa harus lengah sedikit pun.

Dr. Attabiq Luthfi, MA

Tentang Dr. Attabiq Luthfi, MA

Pria kelahiran Cirebon ini berlatar belakang pendidikan dari Pondok Modern Gontor, Jawa Timur. Setelah itu melanjutkan pendidikan ke S1 di Islamic University, Madinah KSA, S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia, dan… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (77 orang menilai, rata-rata: 9,12 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 14.394 Hits
  • Email 15 email
  • bi

    MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALAH FIRMAN-NYA.

    sungguh…
    tertegun aku bos.

    “YAA TUHAN YANG MATA-NYA TIDAKLAH BUTA, HAMBA MEMINTA KERIDHOHAN MU DALAM KAMI MEMELUK ISLAM DAN MEMPERJUANGKAN ISLAM.”

  • bayu

    Assalamu’alaikum….
    Jazakallah Ustadz,
    Semoga Allah menunjuki ana selalu untuk meraih ridho Nya, serta Ana mohon doa antum semua agar ana bisa ber islam secara kaaffah. amiin. Sukron jiddan.
    wassalaamu’alaikum.

  • badrudin

    syukran ustad atas ilmunya semoga barokah

  • MATAHATI

    Untuk meraih rida Allah, setiap orang wajib menjadi agen perubahan utk perbaikan kualitas hidup rakyat di sekitarnya. Bagi kt umat Islam mayoritas di negeri ini dan di dunia, mari banyak berzikir membaca ayat Kursi dan Surat an-Nas, untuk Indonesia Bersih Korupsi baik yang ikut demo atau yang nonton teve di rumah. Umat Islam jangan hanya menjadi buih, diam saja ktk bnyk ketidakadilan dan kemusyrikan takut mati berlindung kepada selain Allah, tapi bgt ada perubahan minta jatah sbg mayoritas.

  • MATAHATI

    Rasulullah pernah bersabda, akan datang suatu zaman, di mana umat Islam sangat banyak. “Bahkan lebih banyak, tapi kalian bagai buih, Allãh angkat rasa takut kepada kalian dari dada musuh kalian, dan Allãh akan menancapkan al-Wahn ke dalam hati-hati kalian.’ Sahabat bertanya, ‘Apakah al-Wahn itu, wahai Rasulullãh?’ Beliau menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati’,” (HR Bukhari Muslim).

  • hermawan

    syukron ilmunya ustadz

  • Mubin amrull0h

    Subhanalloh….alangkah gembiranya bag! 0Rang-0rang yang alloh angkat derajatnya…seperti sahabat r0sul yang ada dlam ksah !tu.

  • Akhmad Helmi

    Mari tebarkan sinar mutiara mutiara sehingga masuk ke setiap pori-pori fitrah keimanan setiap manusia

  • omiseto

    As-salamu’alaikum ya akhi
    Bagaimana menurut pandangan akhi sekalian mengenai bom bunuh diri.?
    apakah tindakan tsb sesuai dengan syariat, ataukah itu sama saja dengan tindakan membinasakan diri sendiri.?

  • Tika

    Jazakallah Ustadz,,,,,,,,,,

Iklan negatif? Laporkan!
78 queries in 1,740 seconds.