Home / Berita / Aam Amirudin: Setelah Terjun ke Politik, Gerakan Tarbiah Lebih Terbuka

Aam Amirudin: Setelah Terjun ke Politik, Gerakan Tarbiah Lebih Terbuka

dakwatuna.comSetelah terjun ke dunia politik, aktivis gerakan Tarbiah dinilai telah mengalami transformasi identitas yang progresif. Bila sebelumnya aktivis gerakan Tarbiah cenderung tertutup dan menghindari intrik politik, maka setelah masuk dalam gerakan politik, aktivis gerakan Tarbiah menjadi manusia yang berpikiran terbuka, bergairah, tumbuh kesadaran ideologis, dan menjadi agen perubahan.

“Dengan transformasi yang progresif inilah, aktivis Tarbiah disebut sebagai manusia transformatif,” ungkap kandidat Doktor Aam Amirudin saat membacakan ringkasan disertasinya dalam Sidang Terbuka Ujian Doktor di Gedung Pascasarjana Unpad, Jln. Dipati Ukur 35 Bandung, Kamis (5/11) kemarin. Di hadapan tim promotor dan oponen ahli, Aam memaparkan sejumlah hal yang menyebabkan terjadi transformasi yang progresif tersebut dalam diri aktivis Tarbiah.

“Aktivis Tarbiah sadar bahwa menjadi politikus adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan manusia pemilihnya dan di hadapan Tuhannya. Seiring dengan kesadaran ini, maka gairah mempelajari tugas-tugas serta menerapkan nilai-nilai kejujuran dan profesionalisme sebagai politikus semakin meningkat,” papar Aam yang juga merupakan Direktur Utama PT Percikan Iman Tour.

Aam menyebut bahwa sekalipun miskin dengan pengalaman politik, aktivis Tarbiah bahkan bisa mengalahkan anggota parlemen yang sudah malang melintang dalam dunia politik. “Dengan semangat melakukan perubahan, aktivis Tarbiah mampu tampil dengan penuh percaya diri dengan bekerja secara produktif, jujur, bersih, dan profesional,” kata Aam.

Dalam ringkasan disertasinya berjudul “Transformasi Identitas Aktivis Gerakan Tarbiah Setelah Menjadi Aktivis Gerakan Politik”, Aam juga meneliti seputar model komunikasi yang terjadi setelah aktivis Tarbiah terjun ke dunia politik. Narasumber program “Percikan Iman” di Radio Oz Bandung ini mengungkapkan bahwa sebelum menjadi anggota parlemen, aktivis Tarbiah kurang mampu mengungkapkan sesuatu dengan “membumi”.

“Setelah menjadi anggota parlemen, ternyata simbol verbal yang digunakan saat berkomunikasi dengan non-aktivis mengalami ”pencairan”. Simbol bahasanya lebih cair, bahkan pendekatan dalam menyelesaikan masalah juga lebih realistis,” ujar Aam.

Ajaran-ajaran agama, lanjut Aam, lebih banyak menggunakan bahasa aplikatif dan komunikasi dengan non-aktivis menjadi lebih terbuka, sehingga relatif lebih bisa diterima kelompok non-aktivis. Dalam penelitiannya ini, Aam juga menemukan bahwa progresifitas yang cukup signifikan juga terjadi pada komunikasi dengan Tuhan. “Kesadaran bahwa posisi politikus sebagai amanah yang harus ditunaikan dengan kejujuran, memicu gairah yang luar biasa untuk semakin memantapkan diri sebagai pendakwah di parlemen,” tutur Aam.

Dengan duduknya aktivis Tarbiah sebagai anggota parlemen, Aam yakin bahwa keberadaannya dalam memberikan pencerahan bagi dunia perpolitikan dan pemerintahan di Indonesia. Untuk mendapatkan kader-kader militan yang penuh komitmen tersebut, Aam mengatakan bahwa diperlukan proses pembinaan yang sistematis dan terstuktur dengan rentang waktu yang cukup panjang.

Partai Keadilan Sejahtera cukup berhasil dalam melakukan hal ini. Maka, ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi partai politik lainnya agar memiliki kader-kader yang solid, militan, dan penuh komitmen,” tegas Aam. (eh/unpad)

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (52 votes, average: 9,42 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Politik Religius (inet) - gazeta-shiqip.com

Agama, Politik, dan Partisipasi