08:46 - Jumat, 19 September 2014

Mengapa Allah Tidak Mengirim Burung Ababil?

Rubrik: Berita | Kontributor: dakwatuna.com - 29/03/08 | 13:42 | 22 Rabbi al-Awwal 1429 H

dakwatuna.com – Kisah melegenda sepanjang sejarah, yaitu ketika Muhammad saw lahir di muka bumi, ketika itu terjadi keajaiban yang luar biasa, Allah swt mengirim pasukan burung Ababil untuk menghancurkan Abrahah dan bala tentaranya yang sombong, memaksa penduduk bumi untuk berkiblat pada sesembahan mereka.

Realitas bangsa Arab ketika itu dalam kondisi terpuruk dan kritis, mereka tidak lagi peduli dengan pembelaan terhadap agama dan warisan para pendahulu mereka. Ketika itu Allah swt tidak lagi menyerahkan penjagaan rumah-Nya di tangan mereka kaum musyrikin. Sampai datanglah ketentuan Allah swt secara nyata, yaitu Allah swt mengirim burung Ababil untuk menghancurkan Abrahah layaknya dedaunan yang dimakan ulat, habis binasa.

Bahwa Allah swt dengan kekuasan-Nya berkehendak sesuai dengan kemauan-Nya sendiri adalah bagian dari keyakinan orang beriman, sebagaimana kehendak Allah swt menurunkan mukjizat dan keajaiban di banyak peperangan.

Para Malaikat atas intruksi Allah swt turun membantu tentara muslim. Sebagaimana cara Allah swt sendiri memilih burung Ababil sebagai penghancur raja lalim.

Campur tangan Allah swt terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman telah tetap dan pasti sebagaimana direkam dalam Al Qur’an, Sunnah, sirah dan ucapan para sahabat.

Namun, Bangsa Arab (ketika itu) tetap tidak mau beriman kepada Allah swt. meskipun mereka melihat dengan mata kepala sendiri mukjizat burung Ababil. Padaha, Mekah belum pernah tecatat dalam sejarah diserang sekelompok pasukan, atau belum terpikirkan sebelumnya bahwa Mekah akan diperangi, kecuali setelah peristiwa itu. Bahkan tidak ada yang mau menjajah Mekah karena kondisinya yang padang pasir, gersang dan tidak ada potensi kebaikan di sana. Allah menjaga rumah-Nya dengan cara-Nya sendiri, yang tidak terduga oleh akal manusia.

Sehingga sewajarnya bila bangsa Arab mengimani kenabian Muhammad saw., membenarkan ajaran yang dibawanya dan bersegera malaksanakannya. Namun mereka justeru mengingkari.

Sehingga, kalau pun ada mukjizat-mukjizat dalam bentuk lain, bangsa Arab tetap tidak akan mau beriman, mereka akan mencari-cari alasan dengan lebih menonjolkan kelebihan mereka. Atau kalau perlu mereka menafsirkan dengan cara-cara aneh, seperti kepercayaan bahwa jin memiliki kekuatan. Jin sendiri selalu memperdaya manusia dan berusaha untuk menjerumuskan mereka ke dalam kesesatan. Sebagaimana yang digambarkan dalam Al Qur’an:

”Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” Al Jin:6

Ternyata cerita tentang mistik atau klenik bertebaran dalam sejarah bangsa Arab tempo dulu. Ini bukan dongeng atau tahayyul belaka.

Seandainya bangsa Arab tidak melihat burung Ababil menghancurkan Abrahah dan bala tentaranya atas izin Allah swt., dengan kerikil panas dari neraka yang membara. Maka ketika ada seseorang menceritakan persitiwa itu kepada mereka, pasti mereka akan mengatakan Anda gila. Mereka akan mengejek, sebagimana mereka mengejek Muhammad, ketika beliau menceritakan bahwa dirinya telah isra’ dan mi’raj.

Karena itu Allah swt. perlu memperlihatkan kepada mereka peristiwa itu, sebagaimana Allah swt memperlihatkan jasad Fir’aun kepada kaumnya:

”Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” Yunus:92

Seandainya mereka tidak melihat jasad Fir’aun terapung di permukaan Laut Merah, pasti mereka akan mengatakan Fir’aun sedang mengasingkan diri untuk kemudian nantinya akan turun kembali dengan membawa misi penyelamatan atau klaim-klaim lain yang tidak masuk akal.

Allah swt. mengutus para Malaikat untuk menolong dan memenangkan para mujahidin yang mukhlis dalam setiap kesempatan dan tempat.

Pada suatu hari akan ada tentara Allah swt yang membebaskan Al Aqsha dari cengkraman Yahudi, sebagai bukti bahwa Allah swt menolong hamba-hamba-Nya dengan caranya sendiri:

”Dan tidak ada yang tahu tentara-tentara Tuhanmu, kecuali hanya Dia.”

Namun, bagaimana Al Aqsha akan terbebaskan jika umat dan pemimpinnya di bawah bayang-bayang penjajah?! Mereka dijajah orang-orang dzalim, sehingga menjadi wajib bagi masing-masing pribadi untuk membebaskan diri sendiri, kemudian masyarakat, pemerintah, bangsa serta umat secara keseluruhan dari dominasi penjajah Zionis Isra’il.

Ketika itu, tidak akan ada lagi orang Yahudi yang semena-mena di Palestina. Zionis Isra’il mestinya lebih lemah dan tak berdaya, ketika belenggu yang menghimpit umat ini lenyap. Yaitu belenggu perpecahan, permusuhan dan pengkhianatan di antara umat Islam sendiri. Ketika itu orang beriman berbahagia dengan pertolongan Allah:

”Mereka bertanya kepadamu: Kapan pertolongan Allah? Katakanlah: Pertolongan dan kemenangan akan segera datang.” Al Isra’:51

Adakah bangsa Arab, Pemimpin dunia Islam dan umat Islam di penjuru dunia memenuhi seruan Allah swt ini?! (it/ut)

Redaktur:

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (45 orang menilai, rata-rata: 9,44 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Dhedy

    Seandainya ALLAH SWT mendekatkan dengan sejengkal jaraknya Indonesia dengan Palestina Insya Allah sudah JIHAD ikhlas mencari ridho-Nya

  • khairul sani

    ketahuilah apa yang terjadi didalam hidup ini tak luput satupun dalam pengawasan Allah SWT

  • khairul sani

    apa yang kita lihat dan apa yg kita dengar allah swt ikut menyaksikanya. krn allah maha sgalanya

  • http://www.facebook.com/syeh.marhaban Syeh Marhaban

     saya msih bingung setelah terjadinyan perang tersebut, kemanakah brung ababil tersebut, dan kok sekarang gak da jejak yg ditemukan megenai burung ababil, tersebut, 

Iklan negatif? Laporkan!
77 queries in 1,425 seconds.