Hotnews
Home / Narasi Islam / Hidayah / Anak-Anak Muslim Yang Cerdas

Anak-Anak Muslim Yang Cerdas

Udara malam itu di Sanfrancisco masih sangat dingin. Kota yang indah ini memang terletak di tepi laut yang membentangkan kemaha-indahan Allah Sang Pencipta. Siapa pun yang datang ke kota ini akan terkagum dengan pemandangan alamnya. Sayangnya banyak orang yang diam di dalamnya tidak tahu cara mensyukuri keindahan tersebut. Mereka mengira bahwa untuk membalas nikmat yang demikian agung itu cukup hanya dengan tertawa-tawa, membuka aurat di tepi pantai, berfoto-foto, mabuk-mabukan dan lain sebagainya. Mereka mengira bahwa gedung-gedung tinggi menjulang yang mereka bangun itu sudah cukup sebagai bukti syukurnya kapada Allah. Mereka tidak tahu cara mensyukuri nikmat itu, sebab mereka tidak belajar tuntunan Allah Sang Pencipta. Mereka mengira itu cara bersyukur yang baik. Padahal itu menodai keindahan ciptaanNya. Mereka bingung, karena mereka sendiri tidak mau belajar bagaimana seharusnya hidup yang benar menurut Sang Pencipta. Sungguh Allah mempunyai tujuan yang sangat mulia dalam segala ciptaanNya. Tidak ada maksud Allah dalam menciptakan segala keindahan di muka bumi ini untuk kesia-siaan. Tidak mungkin Allah menciptakan alam yang sedahsyat ini, dengan tujuan agar manusia berfoya-foya dengan dosa-dosa.

Perhatikan di malam itu, ternyata aku menyaksikan kenyataan yang sangat luar biasa. Di sebuah rumah tempat aku bersinggah, aku mendengar suara seorang ibu sedang mengajarakan anaknya membaca Al Qur’an. Padahal ibu itu baru saja kembali dari tempat kerja. Dari wajahnya nampak rasa lelah yang masih belum hilang. Ibu itu telah mensyukuri keindahan kota dengan cara seperti yang Allah ajarkan. Ibu itu tidak suka kalau anaknya nanti tidak tahu tuntunan Allah. Dalam sebuah obrolan ibu itu berkata: “Aku tidak mau anakku seperti mereka yang bodoh itu. Aku takut kalau anakku nanti tersesat jalan. Karenanya akau harus bersungguh-sungguh mengejarkan anakku Al Qur’an”.

Memang kekhwatiran akan masa depan anak dari segi moral dan agama sering kali aku dengar dari beberapa keluarga muslim Indonesia di Amerika. Benar, secara pendidikan umum anak-anak mereka tidak akan kehilangan masa depan. Tetapi dari sisi moral dan agama mereka sangat khawatir. Karena itu mereka selalu berusaha untuk mengikutkan anak-anak mereka dalam program sekolah agama setiap hari Ahad “ Sunday School”. Kegiatan ini hampir merata. Tidak saja di kalangan umat Islam Indonesia, tetapi juga di kalangan umat Islam Amerika secara umum. Di beberapa kota yang sempat aku kunjungi seperti Houston, Denver, Los Angles, Washington, New York, Chicago dan Sanfrancisco, selalu aku temui penampilan anak-anak kecil membaca Al Qur’an. Mereka ternyata bisa tampil dengan sangat mengagumkan. Bahkan di sebagian kota seperti Denver ada anak-anak yang menampilkan lagu nasyid. Penampilan itu menambah cerah suasana malam Ramadhan. Di Houston ada perlombaan menulis artikel Islam tentang Ramadhan. Hasilnya memuaskan. Di Washinton anak-anak mereka sangat kritis. Ketika dibuka pertanyaan, ada yang bertanya: “Mengapa Allah mengutus nabi dari laki-laki saja kok tidak perempuan?”

Anak-anak kecil di Amerika memang dididik kritis dan berani. Karena itu, setiap mereka ditegur selalu bertanya: why? Karenanya orang tua mereka harus pandai memberikan alasan. Jika tidak, mereka tidak mau menerima teguran begitu saja. Memang banyak pengakuan dari orang tua: bahwa mereka seringkali sangat kerepotan untuk menjawab. Terutama jika masalahnya berkenaan dengan agama. Karena itu para orang tua di Amerika banyak yang semangat belajar ilmu agama. Mereka terdorong bukan saja karena harus menjawab pertanyaan sang anak yang sangat kritis, tetapi juga mereka harus memberikan contoh yang baik sesuai dengan tuntunan Islam. Contoh dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Bagi para orang tua, Islam memang harus dipelajari. Tidak sedikit dari mereka yang menyesal mengapa dulu ketika masih muda tidak belajar Islam dengan sungguh-sungguh.

Memang semasa di Indonesia tantangan untuk belajar Islam tidak sedahsyat di Amerika. Di Indonesia mereka masih mendengar adzan, masih banyak orang berjilbab, masih banyak orang Islam, masih banyak pesantren dan sekolah Islam. Tetapi setelah mereka di Amerika, tidak bisa tidak mereka harus belajar Islam, tidak saja untuk diri mereka tetapi lebih dari itu untuk anak-anak mereka. Inilah gambaran bahwa Islam tidak boleh disepelekan. Bagaimana pun Islam tetap agama fitrah. Islam kebutuhan fitrah manusia. Manusia sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menghindar dari Islam. Sungguh akau katakan: “Kebutuhan manusia terhadap Islam sebenarnya seperti kebutuhan ikan terhadap air. Bila manusia tanpa Islam ia pasti mati jiwanya. Ia berjalan tanpa ruh. Tidak punya arah. Tidak tahu mau kemana harus melangkah”. Allahu a’lam bish shawab.

Redaktur:

Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Qur’an. Pernah beberapa tahun menjadi dosen tafsir di IIUI. Juga pernah menjadi dosen pasca sarjana bidang tafsir Al Qur’an di Fatimah Jinah Women University Rawalpindi Pakistan. Akhir-akhir ini sekembalinya ke Indonesia, menjadi dosen sastra Arab di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta. Lalu menjadi dosen Tafsir sampai sekarang di Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta. Selebihnya beberapa kali di undang untuk mengisi Seminar, konfrensi dan ceramah di tengah komunitas muslim di beberapa kota besar Amerika Utara (Washington, New York, Houston, Los Angles, Chicago, Denver). Beberapa kajian tafisir rutin yang diasuh di perkantoran Jakarta antara laian di: Indosat, Conoco Philips, Elnusa, Indonesian Power, PLN Gambir. Agenda Kajian Tafsir Dzuhur:Senin (setiap pekan ) : Masjid Baitul Hikmah Elnusa Selasa 1 : Masjid Bank Syariah Manidiri Pusat Selasa 2&4: Masjid Indosat Pusat Selasa 3 : Masjid Hotel Sultan Rabu 1 : Masjid Indonesian Power Pusat Rabu 3 : Masjid PLN Gambir Kamis (setiap pekan) : Masjid Miftahul Jannah Ratu Prabu 2 (Conoco Philiphs)Agenda Pengajian Tafsir Dan Hadits lainnya:Sabtu 1&2 (Sesudah Subuh) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Ahad 2 (Sesudah Subuh) : Masjid An Nur (Perdatam) Senin ( Jam 14:30-20.00) :Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta Selasa (Jam 14:00-15:30 : Majlis Ta’lim Amanah Dault (Kedian Menpora Adiaksa Dault, Belakang STEKPI, Kalibata). Rabu: 1&2 (Setelah Maghrib) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Kamis (Setiap Pekan, setelah Maghrib) : Masjid Bailtul Hakim, Diskum Kebon Nanas.

Lihat Juga

Cover buku "Umar Bin Abdul Aziz, Sosok Pemimpin Zuhud dan Khalifah Cerdas".

Umar Bin Abdul Aziz, Sosok Pemimpin Zuhud dan Khalifah Cerdas

  • Agus Setiawan

    Selamat berjuang saudaraku di negeri yang penuh dengan kebodohan (kejahiliyahan), Antum banyak menemui ladang amal sholeh, sementara antum berada di jalan yang panjang, mendaki dan berduri. Mudah-mudahan Allah SWT membalas apa yang antum lakukan dengan Surga-Nya.

  • http://WWW.DPU-ONLINE.COM SYARIF

    masya Allah….

    bener juga yaa. kita selama ini sudah menaganggap pintar, padahal kenyataannya masih bodoh…..

    terima kasih penulis, antum sudah memberikan saya semangat untuk kembali mengasah semangat kritis…

    penghalaman antum menjadi penginagt kami, bahwa saya, anda, kita, kami berISLAM bukan hanya untuk saat ini, zaman ini saja….tapi buat seluruh zaman, generasi kitaa….

    allahu akbar

  • kiki

    ass. wr. wb.

    terimakasih banyak atas inspirasinya dr ustad amir…memotivasi saya untuk mendidik kdua anak sy sebaiknya yg sy mampu. Subhanallah…saya sedih, begitu mayoritasnya umat muslim di Indonesia tercinta…tetapi anak2 bangsa Indonesia mengapa semakin terpuruk moral dan akhlaknya??? wahai kaum ibu, mari kita contoh sosok ibu dr artikel ini. sayangilah anak2 kita dengan kasih sayang dan ilmu yang bermanfaat. Allahu Akbar!