Home / Dasar-Dasar Islam / Aqidah / Menunaikan Amanah Kepemimpinan

Menunaikan Amanah Kepemimpinan

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu sekalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu dan sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (An-Nisa’ : 58).

Ayat ini meskipun menggunakan redaksi yang umum “kepada kamu sekalian”, namun secara lebih khusus pembicaraan ayat ini ditujukan kepada para pemimpin dan penguasa seperti yang dipahami oleh Muhammad bin Ka’ab dan Zaid bin Aslam yang dinukil oleh Ibnu Katsir.

Pemahaman seperti ini sangat tepat, karena merekalah yang memiliki amanah yang besar untuk ditunaikan sehingga mereka diminta untuk menjaga amanah dan pemerintahan tersebut dengan benar dan adil. Jika amanah dan keadilan disia-siakan, maka umat manusia akan binasa dan negeri ini akan hancur.

Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (Bukhari dan Muslim).

Sayid Quthb dalam tafsir fi Dzilalil Qur’an menyimpulkan bahwa amanah yang dimaksud oleh ayat ini harus diawali dengan amanah yang paling besar yang tidak mampu diemban oleh langit, bumi dan gunung sebelumnya.

Allah swt berfirman: “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” QS. Al Ahzab: 72.

Karena dengan terlaksananya amanah kepemimpinan dengan baik, maka akan terealisir secara otomatis amanah-amanah yang lain, baik terkait dengan amanah kepada Allah swt maupun amanah yang berhubungan dengan sesama hamba dan dengan diri sendiri.

Perintah amanah inilah yang berlaku universal kepada siapapun tanpa melihat sifat dan keadaan orang tersebut.

Maimun bin Mahran mengatakan, “Tiga hal yang harus ditunaikan, baik kepada orang yang berbakti maupun kepada pelaku maksiat: amanah, janji dan silaturahim”.

Amanah kepemimpinan menjadi prioritas dari ayat di atas dilihat dari keterkaitan antara kalimat dalam ayatnya dengan menggunakan wau athaf. Bahwa Allah swt menyebutkan perintah “untuk menetapkan hukum diantara manusia dengan adil” setelah perintah menunaikan amanah. Padahal memutuskan hukum diantara manusia merupakan diantara tugas dan kewajiban seorang pemimpin.

Ditambah lagi bahwa pada ayat selanjutnya, yaitu pada surah An-Nisa’ : 59, Allah swt menetapkan manhaj dan nilai yang harus dipegang dalam konteks kepemimpinan yaitu taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta para pemimpin yang telah ditunjuk atau dipilih dengan benar.

Allah swt menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, serta Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan kepada Rasul (As-Sunnah) jika kalian benar-benar orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”. QS. An Nisa’: 59.

Imam Ar-Razi memahami ayat di atas dengan melihat korelasi yang erat dengan ayat sebelumnya bahwa setelah Allah swt menggambarkan beberapa karakteristik orang-orang kafir dan ancaman azab untuk mereka, Allah swt kembali menyebutkan beberapa kewajiban dan tugas orang-orang beriman. Begitu juga setelah Allah swt menyebutkan pahala yang besar bagi amal sholeh yang dilakukan oleh orang yang beriman, maka Allah swt menyebutkan bahwa amal sholeh yang terbesar adalah menunaikan amanah dan berlaku adil dalam memutuskan perkara diantara manusia tanpa terkecuali.

Inilah bentuk amal sholeh yang terbesar dan harus dilakukan oleh setiap manusia sesuai dengan proporsi dan tingkatan amanah yang diembannya. Bahkan dengan tegas Rasulullah saw menafikan iman dari orang yang tidak bisa menjaga amanah dengan baik, “Tidak ada agama bagi orang yang tidak bisa menunaikan amanah”. HR. Ahmad dan Al Baihaqi.

Perihal pentingnya kepemimpinan dinyatakan tegas oleh Ibnu Taimiyah:

”Penunjukkan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. Bahkan agama tidak akan tegak, begitu juga dunia tidak akan baik tanpa keberadaan pemimpin. Kemaslahatan umat manusia tidak akan terwujud kecuali dengan menata kehidupan sosial, karena sebagian mereka memerlukan sebagian yang lain. Dalam konteks ini, kehidupan sosial tidak akan berjalan dengan baik dan teratur tanpa keberadaan seorang pemimpin”.

Imam Ghazali menegaskan, “Dunia adalah ladang akhirat. Agama tidak akan sempurna kecuali dengan dunia. Kekuasaan dan agama adalah kembaran. Agama adalah tiang sedangkan penguasa adalah penjaganya. Bangunan tanpa tiang akan roboh dan apa yang tidak dijaga akan hilang. Keteraturan dan kedisiplinan tidak akan terwujud kecuali dengan keberadaan penguasa”.

Dalam sejarah Islam yang layak dijadikan panutan, bahwa persoalan kepemimpinan merupakan persoalan yang pertama mendapat perhatian dari para sahabat Rasul setelah Rasulullah saw wafat, adalah memilih pemimpin pengganti Rasulullah saw. Bahkan mereka mendahulukan menyelesaikan persoalan ini dari pada mengubur jasad Rasulullah saw. Kemudian para sahabat sepakat membai’at Abu Bakar dan menyerahkan kepemimpinan kepadanya.

Memang secara prinsip, Islam menginginkan agar segala sesuatu tertata dan diatur dengan baik. Islam membenci kesemrawutan dan kekacauan dalam segala hal. Sampai dalam sholat, Rasulullah saw menyuruh untuk menyamakan dan meluruskan shaf dan mendahulukan orang yang lebih baik ilmu dan bacaannya untuk menjadi imam. Bahkan dalam perjalanan biasa, Rasulullah saw berpesan untuk mengangkat pemimpin diantara mereka yang melakukan perjalanan bersama.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Tidak dibenarkan tiga orang bepergian di tengah padang pasir yang tandus, kecuali jika mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai amir (pemimpin)”.

Disinilah urgensi kepemimpinan dalam Islam. Kebaikan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kebaikan roda kepemimpinan yang dijalankan di dalamnya. Islam menaruh perhatian yang besar dalam persoalan kepemimpinan. Karenanya ukuran kebaikan sebuah bangsa turut ditentukan dengan kualitas dan nilai kepemimpinan yang dianutnya. Rasulullah saw menyebutkan seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik ra, “Umat ini masih akan tetap terjaga kebaikannya jika selalu jujur dalam ucapannya, adil dalam keputusan hukumnya dan saling berkasih sayang diantara mereka”. Allahu A’lam.

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 7,69 out of 10)
Loading...Loading...
Dr. Attabiq Luthfi, MA
Pria kelahiran Cirebon ini berlatar belakang pendidikan dari Pondok Modern Gontor, Jawa Timur. Setelah itu melanjutkan pendidikan ke S1 di Islamic University, Madinah KSA, S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia, dan S3 di universitas yang sama. Saat ini bekerja sebagai dosen di Pasca Sarjana STAIN Cirebon, UIJ, SEBI, dan Ma'had Nuaimy.Aktif di Sie Rohani Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) UKM Malaysia. Amanah yang diemban saat ini adalah sebagai Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia (FORKOMMI) di Malaysia, dan sebagai ketua Ikatan Da'i Indonesia (IKADI) DKI Jakarta. Produktif dalam menghasilkan beberapa karya, di antaranya Al Qur'an Edisi Do'a, buku Studi Tafsir Al-Munir Karya Imam Nawawi Banten, dan buku Puncak Keberkatan Rizki Tersekat (Edisi Malaysia). Selain itu juga aktif sebagai kontributor tetap pada Kolom Tafsir di Majalah Al-Iman (bil Ghoib), dan sebagai kontributor tetap pada rubrik Tarbiyah di Majalah Tatsqif. Moto hidupnya adalah "Terus belajar, bekerja, dan berjuang untuk ummat".

Lihat Juga

Grand Opening Sekolah Pemimpin di Pesantren Hidayatullah Jalan Kalimulya, Depok, Sabtu (07/03). (IST)

Sekolah Pemimpin untuk Hufadz Dhuafa

  • Joko Juwianto

    Memang benar bahwa tugas seorang pemimpin cukup besar, tetapi mereka tidak menyadarinya. Mereka memimpin kadang tidak mengetahui kenapa harus saya memimpin? Kalau kita cermati bahwa tugas seorang pemimpin adalah melaksanakan amanah untuk memperbaiki organisasi dan prilaku para pegawai guna meningkatkan kesejahteraan. Kadang pemimpin hanya melaksanakan wewenangnya dan melupakan tanggung jawab. Dalam kenyataannya pemimpin mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada atasan atau orang yang memberikan jabatan tersebut justru tanggung jawab kepada Allah dikesampingkan.
    Seorang pemimpin diberikan kekuasaan sebagai sarana untuk menjalankan amanah. Dalam kenyataan banyak pegawai-pegawai yang masih melakukan penyimpangan-penyimpangan tetapi tidak ada penegakan serta bahkan diantara mereka masih melakukan tindakan korupsi atau menerima suap baik atas inisiatif sendiri atau atas perintah atasannya. Dengan mengetahui konsep kepemimpinan diharapkan setiap pemimpin bisa melakukan perbaikan

  • http://www.dakwatuna.com/index.php/alquranul-karim/tafsir-ayat/2007/agungkan-allah-semua-jadi-kecil/ musleemah

    . aku juga seorang pemimpin yang kadang kala menjadikan jawatanku sebagai bahan untuk berkuasa ya Allah ampunkan hambamu.

  • zulhajj

    Memang benar menjadi seorang pemimpin itu tanggung jawabnya besar sekali.

    Tanggung jawab kepada amanah, manusia, dan juga Alloh.

  • Teguh

    Dizaman sekarang ini banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin bukannya murni untuk menjalankan amanah yang telah dibebankan kepada dirinya, melainkan hanya untuk mendapatkan nama besar dan menumpuk kekayaan pribad sehingga segala macam cara dihalalkan untuk memperoleh jabatan tersebut. Nauzubilahi min zalik

  • zazuli

    Pemimpin yang tidak bisa mengambil hiqmah suri toladan rasullulah saw, cenderung lebih mendatangkan mudharat ketimbang rachmat, penguasaan sidiq, amanah, fathonah & tablig harus menghablur dan mengkristal dalam maqomat mutaqin, figur dan profil yang langka, boleh jadi pertanda kehancuran sudah mulai membayangi alam jagat raya ini, siap-siapkanlah diri-diri ini dengan pembekalan maksimal, untuk perjalanan sejarah selanjutnya di masa dan nuansa alam-alam yang dipersiapkan untuk mahluk ciptaanNya. isnyaalloh sifat waro ini dapat mengarah pada istiqomah pengabdian kepada Alloh swt, amien

  • muthmainnah

    menjadi seorang pemimpin bukan sesuatu yang mudah .tapi yakinlah Allah tak akan memberi tanggugjawab pada hamba yang tak dapat memikulnya.Bermakna kita layak memikul tggjwb itu dan dapat buat yang terbaik.Jangan mudah mengalah .jaga diri ,jaga iman.

  • setya

    Tugas khalifah di bumi, bukan tugas ringan. Bahkan gunung, bumi, angin pun menolak amanah ini. Jadi…tetap bersemangat, Alloh percaya kita mampu karena Dia telah membekali dengan bekalan yg sangat luar biasa jika kita mampu mengelolanya dengan baik. Berjuang,,, Bismillah kita bisa!!

  • aries

    seorang pemimpin adalah orang yang senantiasa belajar atas kepemimpinannya. sebaik-baiknya kekuatan seorang pemimpin adalah kuwatul ruhiyah dan kuwatul qolbu

  • http://www.arinalutfia.blogspot.com arina lutfia

    Mungkin jaman sekarang ini sangat jarang pemimpin yang dapat mengemban amanah dengan baik karena jalan yang ditempuh untuk menjadi pemimpin juga banyak yang dilakukan dengan cara yang tidak baik sehingga pasti mempunyai niat yang kurang dapat bertanggung jawab padahal pemimpin itu harus punya karakter bertanggung jawab, lemah lembut dan dapat menjadi tauladan yang baik bagi umat

  • Norani El-Faroq

    Amanah merupakan salah satu unsur penting dalam proses kepemimpinan, sehingga muncul kewajiban untuk melaksanakannya.untuk menanamkan sifat amanah pada seorang pemimpin menanamkan nilai-nilai ilahiyah di dalam dirinya, serta memanajemen dirinya dengan pola manajemen ilahiyah.dengan itu insya Allah amanah dapat terlaksana dengan baik.

  • Madi Muhammad

    Kepemimpinan yg seperti apa harusnya jelas Presiden, raja,sultan,pemimpin kelompok,uskup,Khilafah,atau ada sistim lain ? Apakah Rasulullah dan para sahabat tidak mencontohkan kepemimpinan yang melindungi umat agar umat mempersiapkan dan memperjuangkan satu arah.