Home / Narasi Islam / Sejarah / Andai Lebih Panjang Lagi

Andai Lebih Panjang Lagi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

“Jika kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.”(Al-Isra’: 7)

Hari itu ada seseorang yang meninggal dunia. Seperti biasanya, jika ada sahabat meninggal dunia, Rasulullah pasti menyempatkan diri mengantarkan jenazahnya sampai ke kuburan. Tidak cukup sampai di situ, pada saat pulangnya, Rasulullah menyempatkan diri singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga yang ditinggalkan supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musbah itu. Begitupun terhadap keluarga sahabat yang satu ini.

Sesampai di rumah duka, Rasulullah bertanya kepada istri almarhum, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah sesuatu sebelum ia wafat?”

Sang istri yang masih diliputi kesedihan hanya tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar dari dirinya. “Aku mendengar ia mengatakan sesuatu di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia tengah menjelang ajal, ya Rasulullah.”

Rasulullah tertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, aku tidak mengerti apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” tanya Rasulullah lagi.

Istri yang setia itu menjawab, “Suamiku mengatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi…. Andaikata yang masih baru… Andaikata semuanya….’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga aku dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu hanya igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai….”

Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu membuat istri almarhum sahabat menjadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru.” Beliau diam sejenak. “Jika kalian semua mau tahu, biarlah aku ceritakan kepada kalian agar tak lagi heran dan bingung.”

Sekarang, bukan hanya istri almarhum saja yang menghadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum mengerubungi Rasul akhir zaman itu. Ingin mendengar apa gerangan sebenarnya yang terjadi.

“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai. “Pada suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Di tengah jalan ia berjumpa dengan dengan orang buta yang bertujuan sama—hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya. Maka, dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia menyaksikan pahala amal shalihnya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksudnya adalah andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya akan jauh lebih besar pula.”

Semua anggota keluarga itu sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai mengerti sebagian duduk perkara. “Terus, ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” tanya sang istri yang semakin penasaran saja.

Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk shalat Subuh, cuaca dingin sekali. Di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suaminya membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia pun mencopot mantelnya yang lama yang tengah dikenakannya dan diberikan kepada si lelaki tua itu. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, andaikata yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama yang kuberikan kepadanya, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suami selengkapnya.”

“Kemudian, ucapan yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?” tanya sang istri lagi.

Dengan penuh kesabaran, Rasulullah menjelaskan, “Ingkatkah engkau ketika pada suatu waktu suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Ketika itu engkau segera menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong. Yang sebelah diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalnya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, ‘Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak akan kuberi hanya separuh. Sebab, andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda pula.’”

Sekarang, semua anggota keluarga mengerti. Mereka tak lagi risau dengan apa yang telah terjadi kepada suami dan ayah mereka ketika akan menjelang wafatnya. Kelapangan telah ia dapatkan karena ia tidak sungkan untuk menolong dan memberi.

About these ads

Redaktur:

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (35 votes, average: 9,37 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mochamad Bugi
Mochamad Bugi lahir di Jakarta, 15 Mei 1970. Setelah lulus dari SMA Negeri 8 Jakarta, ia pernah mengecap pendidikan di Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta, di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Dirosah Islamiyah Al-Hikmah. Sempat belajar bahasa Arab selama musim panas di Universitas Ummul Qura', Mekkah, Arab Saudi.Bapak empat orang anak ini pernah menjadi redaktur Majalah Wanita UMMI sebelum menjadi jabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Politik dan Dakwah SAKSI. Ia juga ikut membidani penerbitan Tabloid Depok Post, Pasarmuslim Free Magazine, Buletin Nida'ul Anwar, dan Majalah Profetik. Jauh sebelumnya ketika masih duduk di bangku SMA, ia menjadi redaktur Buletin Al-Ikhwan.Bugi, yang ikut membidani lahirnya grup pecinta alam Gibraltar Outbound Adventure ini, ikut mengkonsep pendirian Majelis Pesantren dan Ma'had Dakwah Indonesia (MAPADI) dan tercatat sebagai salah seorang pengurus. Ia juga Sekretaris Yayasan Rumah Tafsir Al-Husna, yayasan yang dipimpin oleh Ustadz Amir Faishol Fath.
  • AIMANS

    Jazakallah Ust. atas tulisannya… seringkali memang penyesalan itu hadir dihadapan akhir perjalanan kita… karena godaan dan lemahnya iman serta mujahadah kita dalam beramal lebih kuat dibanding dengan semangat kita untuk meralisasikan amalan-amalan yang sudah kita fahami harus dilakukan.

  • Amiy Zakia

    Andaikan lebih banyak….

  • Win Usamah

    Subhanallah. Kisah yang sangat menyentuh Moga qt bisa ambil ibraohnya. Lebih sering memberi sedekah.

  • Mohon kepada stadz, tolong dalam artikel dituliskan lebih jelas, riwayat/cerita ini berasal dari siapa (siapa perawinya, agar dalam penyampaian kepada teman/audiens bisa lebih mantap. terima kasih.

  • abu fatim

    kisah yang sangat menyentuh di tengah-tangah kehidupan yang cenderung materialistis…

  • koes

    Allahhu Akbar..! Ya…Allah, jadikan kami orang-orang yang tidak segan untuk beramal.

  • sani

    subhannallah…

    tulisan ini menambah keinginan untuk mempunyai harta yang lebih banyak lagi agar bisa terus merasakan indahnya memberi. moga semuanya bearti di mata allah dan kembali lagi ke kita kelak di saat semuanya tiada bearti melainkan harta-harta yang dulu pernah kita berikan di dunia. keindahan di sini dan di sana. Amin….

  • Edi

    Subhanallah…
    kalau tidak salah ada ajaran miripkisah diatas dalam bahasa jawa….
    -wenehono teken marang wong kang wuto (berikanlah tongkat kepada orang buta)
    -wenehono klambi marang kang wudho (berikanlah baju kepada yang tidak berpakaian)
    -wenehono mangan marang kang kaliren (berikanlah makan kepada orang yang kelaparan)
    aku tidak tahu apakah ajaran ini filosofinya dari islam dan dari cerita diatas atau bukan

  • hamba ALLOH S.W.T

    kisah yang sangat patut untuk diteladani .karena bila kita berbuat kebaikan maka akan kembali pada diri kita dan bila kita berbuat keburukan maka akan kembali kepada diri kita pula

  • rusti setiyarti

    kisah ini dan sejenisnya selalu membuat ana mau nangis krn selalu ada sesuatu yang menghujam di hatieku

  • Subhanallah,
    semoga bisa membuat saya belajar,amin
    mohon ijin mengcopy pak.
    terimakasih

  • sri rejeki

    Allahu akbar….Allahu Akbar…Allahu akbar
    Alhamdulillah masih banyak yang mau menulis dan semangat yang memberikan hikmah kepada orang lain Jazakumullah…ustadz

  • Anz

    Tolong disertakan referensinya… agar kami tidak beranggapan ini cerita yang dibuat-buat. Sebagai orang yang pernah duduk dibangku akademis, Anda pasti tahu bahwa referensi amatlah penting

  • Nurhasanah Sumardi

    subhanallah semoga menjadi renungan buat qta yg masih di beri umur panjang…….

  • Indah nie..
    gk bsa d share sayangx..

  • Zulfan Efendi

    Saya searching di google, ada banyak cerita yang sama dengan versi cerita yang berbeda. Tapi tidak ada 1 pun yang menyertakan riwayatnya. Ini hadits riwayat siapa. Karena ini hadits, saya butuh cerita yang sesuai dengan riwayatnya yang benar. Terima kasih bagi yang mau membantu. 0823-8859-2022

Lihat Juga

Ilustrasi. (Aki Awan)

Strata Pahala di Facebook