Home / Narasi Islam / Dakwah / Mencermati Angka-Angka Dalam Dakwah Rasulullah

Mencermati Angka-Angka Dalam Dakwah Rasulullah

dakwatuna.comAda banyak orang yang momok dengan angka-angka. Mungkin karena semenjak Sekolah Dasar, ia telah “dicekoki” dengan Matematika yang sering diplesetkan menjadi mati-matian. Mungkin juga karena angka sangat terkait dengan uang, dan ternyata, ia gampang-gampang susah didapatnya, bahkan lebih sering susah dan sulitnya. Mungkin juga keseringan menghitung angka-angka, akan tetapi tidak pernah ada wujud dan hasilnya. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Di dalam Al-Qur’an surat Al-Anfal ayat 65-66, Allâh –subhânahu wa ta’âlâ– berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَفْقَهُونَ (٦٥) الآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ (٦٦)

65. Hai Nabi, Kobarkanlah semangat Para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti [1].

66. sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.

Ada banyak orang yang momok dengan angka-angka. Mungkin karena semenjak Sekolah Dasar, ia telah “dicekoki” dengan Matematika yang sering diplesetkan menjadi mati-matian. Mungkin juga karena angka sangat terkait dengan uang, dan ternyata, ia gampang-gampang susah didapatnya, bahkan lebih sering susah dan sulitnya. Mungkin juga keseringan menghitung angka-angka, akan tetapi tidak pernah ada wujud dan hasilnya. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain.

Saat saya bersama anak-anak dan keluarga menonton VCD The Amazing Child, sebuah VCD yang mengisahkan bocah berusia 5 tahun yang telah hafal Al-Qur’ân Al-Karîm, dan bahkan mampu menjelaskan dan memahami kandungannya, saya dikejutkan oleh sebuah pertanyaan yang diajukan kepada sang bocah, yang isinya, meminta kepadanya untuk menyebutkan angka-angka di dalam Al-Qur’ân, dan dengan cekatan nan fashîh, sang bocah pun membaca ayat-ayat yang berisi penyebutan angka-angka.

Kenapa saya terkejut dengan pertanyaan seperti ini? Sebab, beberapa waktu yang lalu, saya juga dikejutkan oleh “protes” atau ekspresi momok sebagian aktivis dakwah terhadap angka-angka.

Dari dua kejutan ini, saya pun mencoba mencari-cari, adakah angka-angka di dalam Al-Qur’an, dan juga dalam sirah (perjalanan) hidup nabi Muhammad –shallallâhu ‘alaihi wa sallam-?

Jawaban bocah dalam VCD yang saya tonton, memberi inspirasi kepada saya untuk mencoba mencermati angka-angka ini, yang di antara hasilnya adalah sebagai berikut:

Al-Qur’ân Al-Karîm telah menyebutkan beraneka macam angka, mulai dari pecahan, satuan, belasan, puluhan, ratusan, ribuan dan bahkan ratusan ribu.

Angka-angka pecahan yang disebutkan Al-Qur’ân adalah seperdelapan (1/8), seperenam (1/6), seperempat (1/4), dan setengah (1/2).

Angka-angka satuan, belasan, puluhan, ratusan dan ribuan yang disebutkan Al-Qur’ân adalah satu (1), dua (2), tiga (3), empat (4), lima (5) enam (6), tujuh (7), delapan (8) dan sembilan (9), sepuluh (10), sebelas (11), dua belas (12), sembilan belas (19), dua puluh (20), tiga puluh (30), empat puluh (40), lima puluh (50), enam puluh (60), tujuh puluh (70), delapan puluh (80), seratus (100), dua ratus (200), tiga ratus (300), sembilan ratus lima puluh (950), seribu (1000), dua ribu (2000), tiga ribu (3000), lima ribu (5000) dan angka terbesar yang disebutkan Al-Qur’ân Al-Karîm adalah seratus ribu (100.000).

Kesimpulan sementara saya setelah mendapatkan angka-angka ini: “ternyata, Al-Qur’ân Al-Karîm menyebutkan angka-angka”, karenanya, kita tidak boleh alergi atau momok dengan angka-angka.

Bagaimana dengan perjalanan hidup (sîrah) Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam-?

Bila kita mencoba merunut (membaca secara berurutan) perjalanan hidup (sîrah) beliau –shallallâhu ‘alaihi wa sallam-, ternyata, semenjak awal, para penutur (yang menuturkan dan mengisahkan) serta penulis sîrah beliau, juga sudah akrab dengan angka-angka.

Dalam kitab Al-‘Ibar Fî Durûs (Khabar) Man Ghabar, dalam peristiwa tahun 17 H, Al-Hâfizh Al-Dzahabî menulis:

وَفِيْهَا تُوُفِّيَ عُتْبَةُ بْنُ غَزْوَانَ اَلْمَازِنِيّ، أَحَدُ السَّابِقِيْنَ اَلأَوَّلِيْنَ. يُقَالُ أَسْلَمَ سَابِعَ سَبْعَةٍ

Pada tahun tujuh belas Hijriyah (17 H) telah wafat ‘Utbah bin Ghazwân Al-Mâzinî –radhiyallâhu ‘anhu-; salah seorang yang pertama-tama masuk Islam, ada pendapat mengatakan bahwa dia adalah orang yang masuk Islam dengan nomor urut tujuh. [lihat juga Mushannaf Ibn Abî Syaibah juz 8, hal. 45, 199, 452).

Dalam riwayat lain, yang menempati nomor urut ketujuh adalah Sa’ad bin Abî Waqqâsh –radhiyallâhu ‘anhu– [Al-Sunan Al-Kubrâ karya Al-Baihaqi juz 1, hal. 106, lihat pula: Ma’ânî Al-Qur’ân, karya Al-Nahhâs saat menafsirkan Q.S. Al-Mâidah: 12).

Riwayat lain mengatakan bahwa yang menempati nomor urut ketujuh adalah Utsmân bin Al-Arqâm [Al-Mustadrak, karya Al-Hâkim, hadîts no. 6181].

Siapapun yang benar darinya tidaklah penting [2], yang terpenting di sini adalah bahwa semenjak awal, masalah angka-angka dalam sîrah nabi Muhammad –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– telah menjadi perhatian para penutur dan penulis sejarah perjalanan hidup beliau –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– ini.

Dan setelah beliau ­–Shallallâhu ‘alaihi wa sallam– hijrah ke Yatsrib (kemudian dikenal sebagai Al-Madinah atau kota nabi Muhammad –shallallâhu ‘alaihi wa sallam-), dan Allâh –subhânahu wa ta’âlâ– mulai mengizinkan peperangan kepada kaum muslimin, para penulis sîrah menyuguhkan data-data angka sebagai berikut:

Tahun

Peristiwa

Pasukan Islam

Keterangan

Dua (2)

Perang Badar

313

Tiga (3)

Perang Uhud

1000 (700)

300 orang pulang

Lima (5)

Perang Ahzâb

3000

Delapan (8)

Fathu Makah

10.000

Sembilan (9)

Perang Tabuk

30.000

Ada empat hal yang menarik dari angka-angka di atas, yaitu:

  1. Ada pertumbuhan cepat jumlah pasukan Islam dari tahun ke tahun. Dari Badar ke Uhud (tempo satu tahun) telah terjadi pertumbuhan jumlah pasukan Islam sebanyak tiga kali lipat (300%), begitu juga dari Uhud ke Ahzâb (tempo dua tahun). Yang menarik adalah pertumbuhan dari tahun ke lima (Ahzâb) ke tahun delapan (Fathu Makah), sebab, dalam tempo tiga tahun, pasukan Islam telah berlipat ganda menjadi 10.000 pasukan (lebih dari 300%).
  2. Suasana “damai” atau genjatan senjata dengan pihak Makah melalui Shulh Hudaibiyah (perdamaian Hudaibiyah) pada tahun 6 Hijriyah, telah dioptimalkan oleh Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– untuk menyebar luaskan dakwah seluas-luasnya, di samping untuk menyelesaikan urusan strategis lainnya, misalnya: penyerbuan ke benteng Yahudi di Khaibar (tahun 7 H).
  3. Pada tahun 9 Hijriyah dan “hanya” dalam tempo satu tahun, jumlah pasukan Islam telah berlipat ganda menjadi 30.000 pasukan (300%). Hal ini terjadi karena Makah yang menjadi musuh dakwah telah tidak ada dan berubah menjadi bagian dari pendukung dakwah.
  4. Ada pertumbuhan yang relative “terjaga” dari jumlah pasukan Islam, yaitu sekitar 300%, walaupun tempo yang dilaluinya berbeda-beda.

Adanya angka-angka pertumbuhan seperti ini, menjadikan kita bertanya-tanya: adakah angka-angka seperti ini terjadi secara kebetulan (‘afwiyyan), ataukah memang ada perencanaan atau design yang telah dibuat sebelumnya?

Jika kita menengok kepada tahun dua Hijriyah, saat beliau –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– belum lama tiba di Madinah, yaitu saat itu beliau memerintahkan kepada kaum muslimin untuk melakukan sensus tertulis terhadap semua orang yang telah menyatakan masuk Islam, rasanya terlalu jauh kalau kita berpendapat bahwa angka-angka pertumbuhan seperti di atas terjadi secara kebetulan. Pemahaman yang lebih dekat kepada kebenaran (jika tidak kita katakana kebenaran) adalah pendapat yang mengatakan bahwa hal itu memang sesuatu yang direncanakan oleh Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam

Dalam kitab Shahîh Muslim disebutkan sebagai berikut:

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَحْصُوا لِي كَمْ يَلْفِظُ اْلإِسْلاَمَ، قَالَ : فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَخَافُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ مَا بَيْنَ السِّتِّ مِائَةٍ إِلَى السَّبْعِ مِائَةٍ! [رواه مسلم، رقم 149]

Dari Hudzaifah –radhiyallâhu ‘anhu- ia berkata: Kami bersama Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam-, lalu beliau bersabda: “Lakukanlah ihshâ’ untukku berapa orang yang telah menyatakan Islam”. Hudzaifah berkata: ‘maka kami berkata: ‘Wahai Rasulullâh, adakah engkau mengkhawatirkan kami? Sementara jumlah kami antara 600 sampai tujuh ratus! .. [H.R. Muslim, no. 149]

Dan di dalam kitab Shahîh Bukhârî disebutkan:

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اكْتُبُوا لِي مَنْ تَلَفَّظَ بِاْلإِسْلاَمِ مِنْ النَّاسِ، فَكَتَبْنَا لَهُ أَلْفًا وَخَمْسَ مِائَةِ رَجُلٍ … عَنْ الأَعْمَشِ : فَوَجَدْنَاهُمْ خَمْسَ مِائَةٍ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ : مَا بَيْنَ سِتِّ مِائَةٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةٍ [البخاري، رقم 3060]

Dari Hudzaifah –radhiyallâhu ‘anhu- ia berkata: Nabi –shallallâhu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tuliskan untukku orang-orang yang telah menyatakan Islam”. Maka kami menuliskan untuk beliau seribu lima ratus laki-laki … Dari Al-A’masy: Maka kami mendapati mereka berjumlah 500. Abû Mu’âwiyah berkata: antara 600 – 700 [H.R. Bukhârî, no. 3060]

Beberapa Komentar Terhadap Dua Riwayat Ini

  1. Prof. DR. Yusuf Al-Qaradhawî: “Kalau saja terjadi pengkodifikasian ulang hadîts, maka saya mengusulkan agar dua riwayat ini dimasukkan ke dalam kitâb al-‘ilm (kumpulan hadîts yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan), sebab, al-ihshâ’ (penghitungan, kalkulasi, sensus dan statistic) merupakan dasar berbagai macam ilmu pengetahuan”. [lihat: Al-Rasûl wa al-‘Ilm].
  2. Menurut Al-Dâwudî, angka-angka yang disebutkan dalam riwayat ini tidaklah kontradiktif, sebab, ada kemungkinan ihshâ’ dilakukan berkali-kali. [Fath al-Bârî saat mensyarah hadîts di atas].
  3. Menurut Ibn Al-Munîr, sensus tertulis tidaklah kontradiktif dengan keberkahan, bahkan, penulisan yang diperintahkan itu merupakan kemaslahatan agama. [Fath al-Bârî saat mensyarah hadîts di atas].

Beberapa Tambahan Komentar

  1. Dalam terjemahan sederhana, kata ihshâ’ berarti: menghitung. Namun, dalam konteks ilmiah, ihshâ’ juga bermakna kalkulasi, sensus dan bahkan statistic dan grafik. Makna inilah yang oleh Prof. DR. Yusuf Al-Qaradhaî –hafizhahullâh– disebut sebagai dasar ilmu pengetahuan modern, karenanya beliau mengusulkan agar hadîts ini dimasukkan ke dalam kitâb al-‘ilm. Wallâhu a’lam.
  2. Dua riwayat yang “berbeda”, di mana yang satunya menyebutkan uhshû dan satunya mengatakan uktubû, juga tidak kontradiktif, sebab bisa digabungkan dan saling melengkapi, sehingga bisa dipahami bahwa perintah Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– kepada para sahabat adalah agar mereka melakukan ihshâ’ secara tertulis, dan tidak cukup sekedar lisan sahaja. Hal ini menegaskan betapa penting peranan ihshâ’ tertulis ini, agar data benar-benar valid dan akurat.
  3. Perbedaan angka-angka sebagaimana disebut dalam periwayatan hadîts ini, dan sebagaimana dipahami tidak kontradiktif oleh Al-Dâwûdî, juga bisa dipahami bahwa para sahabat nabi terus dan selalu melakukan apa yang di zaman sekarang disebut dengan istilah updating data atau pemutakhiran data dari waktu ke waktu, dan ternyata, updating itu menunjukkan adanya pergerakan naik yang terus menerus; 500, 600, 700 dan 1500. Wallâhu a’lam.

Dari semua keterangan ini, kita bisa memahami dan menyimpulkan bahwa pertumbuhan angka-angka bisa kita katakan telah direncanakan atau by design, dan bukan ‘afwiyyah (kebetulan).

Catatan Kaki:

[1] Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. mereka berperang hanya semata-mata mempertahankan tradisi Jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.

[2] Kemungkinan yang rajîh adalah isyarat Al-Dzahabî di atas, berdasarkan pada riwayat yang dikeluarkan oleh Ibn Abî ‘Âshim sebagai berikut:

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخ ، وَهُدْبَة بْنُ خَالِد ، قَالاَ : ثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيْرَةَ ، نَا حُمَيْدٌ بْنُ هِلاَل ، عَنْ خَالِدٍ بْنِ عُمَيْر ، قَالَ : خَطَبَنَا عُتْبَةُ بْنُ غَزْوَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، فَحَمِدَ اللهَ تَعَالَى ، وَأَثْنَى عَلَيْهِ ، ثُمَّ قَالَ : « لَقَدْ رَأَيْتُنِي سَابِعَ سَبْعَةٍ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، مَا لَنَا طَعَامٌ إِلاَّ وَرَقُ الشَّجَرِ ، حَتَّى خَرَجَتْ أَشْدَاقُنَا، فَالْتَقَطْتُ بُرْدَةً، فَشَقَقْتُهَا بَيْنِيْ وَبَيْنَ سَعْدٍ بْنِ مَالِكٍ

[الآحاد والمثاني لابن أبي عاصم]

281- Telah menceritakan kepada kami Syaibân bin Farrûkh dan Hudbah bin Khâlid, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Sulaimân bin Al-Mughîrah, ia berkata: telah memberitakan kepada kami Humaid bin Hilâl, dari Khâlid bin ‘Umair, ia berkata: Telah menyampaikan khutbah kepada kami ‘Utbah bin Ghazwân – radhiyallâhu ‘anhu-, lalu ia memuji Allâh Ta’âlâ dan memuji-Nya, kemudian ia berkata: “Saya telah melihat diriku sebagai yang ketujuh dari tujuh orang bersama Rasulullâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam-, kami tidak memiliki makanan apapun selain dedaunan pohon, sehingga ujung bibir kami sampai keluar, lalu aku menemukan selembar kulit, maka saya belah menjadi dua bagian, sebagian untukku dan sebagian lagi untuk Sa’ad bin Malik (Abî Waqqâsh)“. [Al-Âhâd wa Al-Matsânî, karya Ibn Abî ‘Âshim]. Wallâhu a’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (38 votes, average: 7,97 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA
Bapak kelahiran Demak. Memiliki hobi yang sangat menarik, yaitu seputar Islamic dan Arabic Program. Saat ini bekerja sebagai dosen. Memiliki pengalaman di beberapa organisasi, antara lain di Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU).
  • Abu Izza

    Subhanallah, sudah selayaknya anak – anak kita tidak hanya diperkenalkan dengan angka2 tetapi diberikan pemahaman mengapa angka2 ( ilmu menghitung ) itu diperlukan sebagai modal da'wah kita di masa depan.

  • dari tulisan tentang mencermati angka-angka di atas, saya mempunyai beberapa kesimpulan:

    1. Ternyata, dakwah Rasulullah SAW berdasarkan pada kalkulasi angka-angka. Dalam bahasa modern, dakwah Rasulullah SAW berpijak pada landasan ilmiah yang sangat kuat, yaitu data-data statistik yang sangat kuat dan akurat.

    2. Ternyata, berdakwah sebuah perencanaan yang matang dan rapi, termasuk mempergunakan data-data sensus dan statistik, bukanlah sesuatu yang bid'ah, ia adalah sunnah, oleh karena itu, semua dakwah yang berbuat demikian, berarti NYUNNAH

    3. Disebutkan bahwa sensus itu dilakukan pada periode Madinah. berarti, PEMBANGUNAN MASYARAKAT MADANI yang dilakukan Rasulullah SAW, adalah pembangunan yang oleh istilah sekarang berdasar pada STRATEGIC PLANNING yang sangat matang, maka, hendaklah dakwah di zaman sekarang mencontoh dan NYUNNAH dengan cara yang sama.

    ALLAHU AKBAR

  • umar

    Subhanallah…
    amazing.
    inilah dakwah! diseru para muttabi' bukan mubtadi'!
    dan kami ya rasulillah, kami berupaya mereguk sunnah secara segar dan asli.. dari telaga ketauladananmu,

    karena kami yakin tidaklah ummat ini mencapai kegemilangan kecuali dengan cara gnerasi terbaik meraihnya…

  • Fauzi

    SubhanaLlah… ternyata ilmu yang dulu ana pelajari yaitu statistik, sudah banyak diterapkan sejak zaman RasuluLlah. Jadi, sekarang dasar hukum kegiatan sensus bukan hanya undang2 buatan manusia sekarang, tapi bisa juga hadits Nabi (hadits tentang ihsha) :-)

  • Very very amazing, SUBHANALLAH

    Data / angka2 tersebut mengingatkan pelajaran di tempat kerja, yaitu STRATEGY & MARKETING, dimana

    dalam analysis selalu menggunakan istilah2 a.l: PERTUMBUHAN (%Growth) & KECENDERUNGAN (Trend).

    Ternyata istilah2 tsb sudah di-"presentasikan" 14 abad yang lalu, SUBHANALLAH.

    Angka %growth tsb bisa dijadikan paratemer untuk semua kepentingan target2 kuantitatif dakwah & PILKADA – PEMILU.

    ALLAHU A'LAM

    M. Nadjib Soewarno

    Direktur BALQIS GROUP – Kota Bogor

  • sukirno

    Subhanallah…

    Takkan ada yang sia-sia dan secara kebetulan disisiNya

    Semua ada dalam Global Design – Alquran(1)

    Semua negara, semua agama dan kepercayaan apapun mereka menyebutnya

    hanya ada bilangan 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9… selebihnya hanyalah kombinasi

    ALLAHU AKBAR

  • Allahu akbar.
    Selain angka-angka, al-Qur'an juga menyebutkan operasi dasar matematika seperti penjumlahan (3 7=10, 300 9 untuk menyebutkan 309 tahun ashhabul kahfi), pengurangan (1000-50 untuk menyebutkan umur N. Nuh as 950th), pembagian (waris), perkalian (20xa=200, 100xa=1000, 100xb=200 dan 1000xb=2000). Al-Qur'an juga menyebutkan bilangan tak berhingga dengan ungkapan "tanpa hisab". Juga ada tentang deret (1 menjadi 7 menjadi 7×100). Mungkin masih banyak yang lainnya.

    Jazakallahu khoiro, Ustadz…

  • Turiman Fahturahman

    Analisis Angka sebenarnya memberikan pemahaman, bahwa struktur Al-Qur'an terdiri dari huruf dan angka dan angka adalah salah satu variabel dari struktur Al-Qur'an disamping ayat, surah, Juz, A'in, baris, huruf dan halaman, kajian tentang angka sudah di teliti kurang lebih 13 Tahun oleh Ustad KH Lukman AQ Soemabrata, dan hal inilah kemudian di tulis salah satu pada buku Konstruksi Al-Qur'an terbitan Indo media, penerbit Tabloid Khalifah hanya cendekiawan Indonesia yang tergabung di ICMI kurang menghargai hasil penelitian bangsa sendiri dan Malaysia sekarang sedang mendalami hasil penelitian orang Indonesia (KH Lukman AQ Soemabrata ) sebentar lagi orang Indonesia akan belajar Struktur Al-Qur'an ke Malaysia, dan baru Indonesia ribut, cobalah membuka dialod dengan para pengkaji Kajian Metode Struktur dsan Format Al-Qur''an MSFQ dan para pakarnya ada di Penerbit Tabloid Khalifah seperti Ziyad dan Gus AA, dan UIN Jakarta. di Kalbar dengan Turiman Fachturahman Nur pengkaji Struktur Al-Qur'an Digital, ikuti Tabloid Khalifah

  • Siti

    Amazing… kerenn… subhanallah…

  • GI-JOE

    ada beberapa ilmuwan muslim yg menggunakan angka dalam menghitung perputaran peradaban bahkan akhir dunia/kiamat. pernah dibukukan. Bagaimana dengan itu?

  • Saya termasuk yang alergi waktu pertamakali dikenalkan dengan MSFQ (kajian Al Qur'an dengan pendekatan utak atik angka) meski profesi saya accounting. Namun saya husnudzon saja, dan akhirnya menambah wawasan agama saya ke lebih luas lagi.
    Ini juga untuk mengingatkan, bahwa ilmu agama bukan cuma qiro'at, shorof, fikih, dan sebaginya, melainkan biologi, fisika, sosial, dan matematika, semua dijabarkan dalam Al Qur'an. Jadi tidak ada dikotomi ilmu dengan istilah "Ilmu Agama" dan "Ilmu Umum".
    Dan yang pasti, tafsir Al Qur'an akan terus berkembang seiring pembukaan ilmu dan pemikiran yang diizinkan ALLAH, Belum Ada Kata Final, hingga detik terakhir kehidupan di dunia fana.

  • SARIP SUKANDI

    Subhanallah…begitu hebatnya mu'jizat dlm alqur'an mengenai angka-angka (matematika), bahkan ana pernah dikasih tau sm salah satu ustadz, bahwa penyusunan angka2 dlm Al-qur'an sangat sistematis dan luar biasa…sebagai contoh di dlm alqur'an ada bilangan matematika yg apabila dibagi angka ganjil(19)hasilnya genap (bulat) alias bukan pecahan yakni…jumlah surat dalam al-qur'an sebanyak 114 surat (apabila 114 dibagi 19 hasilnya 6) dan msh banyak lagi?…

  • nawainruk utser

    Komentar dibatasi 1000 karakter……….Subhanallah

  • Turiman Fachturahman Nur

    AYAT-AYAT BERKAITAN DENGAN KEBERADAAN BILANGAN

    Surat 002 AL-BAQARAH Ayat 185
    شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدى ً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَات ٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضا ً أَوْ عَلَى سَفَر ٍ فَعِدَّة ٌ مِنْ أَيَّامٍ…

  • fitra ardani

    Allahu Akbar, Subhanallah keren abis

  • Abdullah ipin

    Alhamdulillah, begitu luas Ilmu Allah sehingga selalu ditemukan ilmu2 yang baru. Mudah2an bermanfaat.
    Tetapi hati2 lo , nanti kaum salafi mencaci karena ada angka2 seperti orang tabligh khuruj 3 dan 40 hari.

  • wahyono

    ALLAHUAKBAR,tdk ada satu manusia yg bs sprt itu,tp knp manusia terlalu sombong dngn kepandaian yg di miliki padahal itu gak ada seujung kukunya,insyaflah wahai manusia di atas langit msh ada langit,,,,,,,

  • Ana Siti Nurhasanah

    Ass.wr.wb. Khusus mengenai QS Al-Anfaal:65, penjelasan angka-angka yang timbul pada ayat ini dapat menjelaskan konsep tentang persentase. Saya sudah sering ungkapkan hal ini pada pelatihan-pelatihan Matematika Qurani di berbagai kota. Bagi bapak/ibu sekalian yang menginginkan penjelasan QS Al-Anfaal:65 terkait konsep persentase (%) dapat menghubungi saya di email [email protected] karena saya kesulitan menuliskan (mengetik) di halaman komentar ini. Wass. Ana S. Nurhasanah,

  • taufiq

    Assalamualaikum wr.wb…buat pengasuh rubrik ini,mohon maaf sebelumnya…alquran itu untuk dibaca,dipelajari dan di amalkan,bukan untuk kita teliti secara angka2 yang akan menjurus kepada bid’ah dan syirik.jadi kepada semua sesama muslim mari kita baca alquran dan kita pelajari sebagaimana mestinya sesuai sunah nabi.agama islam itu mudah,jadi kenapa dipersulit dengan kajian yang tidak sesuai dengan sunnah nabi?semoga saran dan kritik ini berkenan…..
    wassalam

  • azhar

    subhanalllah,
    salam hormat TABLOID KHALIFAH dan buat pembaca.
    memang tak ada lagi kata2 yang dapat ditulis maupun dilisankan dalam menelusuru dan mendalami apalagi menganalisa kemasyuran dan keluarbiasaan Alkitab kita ALQURAN NUL KARIM dari semua sisi dari semua segi …seandai kita mw apa sih yang tidak ad didalamnya….semua nya ada. tp sayang nya kita kita sendiri sebagai umat sebagai umt terbaik yang diturunkan terkadang ego dan tak peduli mejuruk dan menjadikan alquran sebagai jalan…

  • Husnul kotimah

    sungguh saya sangat penasaran dengan kontruksi al quran dimana saya bisa mendapatkan bukunya ya…

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Memperluas Jaringan Lembaga Dakwah