Resolusi Jihad Resolusi Santri

Ilustrasi – Sejumlah santri membawa bendera merah putih saat mengikuti Kirab Hari Santri Nasional di Kudus, Jawa Tengah, Senin (22/10/2018). Kirab yang diikuti ratusan santri Qudsiyah tersebut untuk memperingati Hari Santri Nasional 2018 serta untuk menananamkan rasa cinta dan bangga kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/hp.

dakwatuna.com – Ibnu Hisyam menceritakan sebuah kisah heroik di Madinah. Bahwa ada seorang wanita muslimah Arab yang sedang berbelanja di Pasar Bani Qainuqa’, salah satu entitas Yahudi di Madinah. Muslimah itu duduk dekat seorang pengrajin perhiasan.  Sekumpulan begundal Yahudi bermaksud mempermalukan wanita muslimah itu dengan berusaha membuka kerudungnya. Tentu saja muslimah itu berontak. Secara diam-diam tanpa diketahui muslimah itu, pengrajin Yahudi itu mengikat salah satu ujung kerudungnya pada salah satu tiang, dan tatkala wanita itu bangkit auratnya pun tersingkap. Muslimah itu menjerit sejadi-jadinya meminta pertolongan. Begundal-begundal Yahudi itu justru menertawakannya.

Menyaksikan muslimah dipersekusi, seorang lelaki muslim sigap bertindak. Dia menerjang pengrajin Yahudi biadab itu. Terjadi duel sengit, sampai akhirnya Yahudi itu terbunuh. Tidak terima teman mereka terbunuh, sekumpulan Yahudi mengeroyok dan mengikat lelaki muslim itu lalu membunuhnya.

Berita biadab dan pembunuhan keji itu terdengar ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau serta merta mengumumkan perang terhadap Bani Qainuqa dan mengepung benteng mereka selama 2 minggu sehingga akhirnya Yahudi menyerah kalah. Subhanallahu, kemenangan yang berawal dari empati dan kepedulian.

Hari ini kita memperingati Hari Santri Nasional, sebagai momentum mengenang resolusi Jihad yang disampaikan al-Mukarram KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 saat akan berhadapan dengan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang mencoba menjajah kembali Indonesia. Tahukah kita bahwa saat itu Indonesia pernah mengalami kondisi genting, saat Inggris masih bernafsu menjajah negeri ini.

Ketika sebagian orang memilih acuh tak peduli. Karena memilih melawan penjajah bersenjata lengkap berarti mati. Tapi karakter pecundang tak pernah dikenali dalam sejarah umat Islam negeri ini. Resolusi jihad mendorong Laskar Hizbullah dan Pejuang Surabaya yang notabenenya adalah dari kalangan santri langsung bergerak bergerilya menggempur pasukan Inggris.

Sebagai komando tertinggi Laskar Hizbullah, resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari tidak hanya menggerakkan kalangan santri dan para ulama, tetapi juga menggerakkan seluruh elemen bangsa pada ketika itu untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan serta menggemparkan musuh. Jihad melawan segala bentuk penjajahan. Karena kemerdekaan adalah hak manusia sejagat.

Sebuah reaksi cepat terhadap penistaan dan upaya merongrong kemerdekaan kita. Ini bukti bahwa santri dan umat Islam selalu punya stok cinta dan empati untuk mempertahankan kemerdekaan negeri. (dakwatuna/hdn)

Ardiansyah Ashri Husein, Lc., M.A :Duta Sosialisasi Palestina KNRP [Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina]. Direktur International Institute for Islamic World Studies (INIWS).
Disqus Comments Loading...