Pentingnya Makanan yang Halal dan Thayyib untuk Kesehatan

Ilustrasi. (ockyhealth.blogspot.co.id)

dakwatuna.com – Saya bukan seorang dokter, ahli obat-obatan, ahli gizi, ahli pangan atau pekerjaan yang masih sebangsa dengan itu. Saya hanya seorang manusia biasa yang mencoba memberikan inspirasi, mudah-mudahan tidak salah, untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Semoga ada manfaat untuk diri saya dan para pembaca serta yang berperan dalam posting tulisan ini.

Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam, sangat mendukung inovasi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad SAW yang dititahkan kepada umat yang paling cerdas ketimbang umat nabi dan rasul sebelum beliau, sangat mementingkan perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat memberi perubahan dan kebaikan umat. Perkembangan ilmu pengetahuan juga membawa pengaruh bagi makanan. Makanan adalah salah satu tren yang sarat akan perubahan yang dibawa oleh waktu.

Namun sayangnya, makanan di era modern saat ini, harus diakui, tidak seluruhnya yang memiliki dampak positif bagi kesehatan manusia. Banyaknya penyakit yang diidap oleh manusia saat ini tidak dapat dilepaskan dari makanan yang masuk ke perut mereka. Bandingkan dengan orang tua – orang tua kita yang dapat hidup mencapai usia 80 tahunan. Bahkan saya sendiri masih memiliki seorang nenek yang usianya hampir sudah 87 tahun dan masih sanggup mengerjakan aktivitas sehari-hari. Tidak perlu membaca banyak literatur untuk menjawab pertanyaan kenapa mereka mampu mencapai usia itu dengan tubuh yang prima, karena perbedaan makanan yang dikonsumsi adalah jawaban yang paling pas.

Saya sendiri dulunya memiliki tubuh yang sering sakit, pilek, demam, flu, batuk dan sakit tenggorokan. Berbagai macam suplemen dari yang modern sampai tradisional seperti habbatussauda sudah saya coba, namun tidak banyak hasilnya. Akhirnya ketika iseng berselancar di dunia maya, saya melihat salah seorang dokter yang kira-kira makna perkataannya seperti ini: Allah akan meminta pertanggung jawaban tentang makanan yang kamu makan, karena tubuhmu hanya pinjaman dari Allah.

Saya berpikir kembali dan mengingat apa-apa yang sudah saya makan. Saya berusaha mengubah pola makan, memperbanyak makan sayuran (yang dimasak tanpa bahan kimia), dan mengurangi makanan cepat saji (MENGURANGI, BUKAN MENJAUHI). Alhasil, segala puji bagi Allah, tubuh saya menjadi lebih prima dan jarang terserang penyakit. Badan menjadi lebih segar dan fit dalam beraktivitas.

Allah berfirman dalam QS An-Nahl ayat 114, yang artinya: Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.

Sederhananya, makanan yang Allah perintahkan untuk kita makan adalah yang halal dan baik. Halaalan thayyiban. Makanan yang disyariatkan tidak sebatas makanan yang halal zat dan cara memerolehnya, melainkan juga kualitas makanan tersebut.

Saya tidak menjelek-jelekkan jenis makanan tertentu, atau melarang diri saya dan para pembaca untuk makan makanan yang tren, hanya sekedar mengingatkan soal pentingnya kualitas makanan untuk kesehatan kita. Kesehatan kita juga menjadi harta berharga bagi orang-orang yang mencintai kita. Saya tidak melarang secara penuh, hanya menganjurkan untuk mengurangi makan makanan yang bersifat junk bagi tubuh.

Tulisan ini terlalu singkat apabila ditujukan untuk membahas soal kesehatan, dan saya sendiri tidak berani membahas ini lebih jauh karena memang bukan keahlian dan bidang keilmuan saya. Saya hanya bermaksud mengajak diri saya dan para pembaca untuk melihat kualitas dan mutu makanan yang kita makan. Tubuh kita hanya pinjaman Allah dan Allah akan menanyai kita bagaimana cara kita merawat tubuh yang Ia pinjamkan. (dakwatuna.com/hdn)

Soni Indrayana :Mahasiswa psikologi yang memiliki ketertarikan untuk mengamati, mengomentari, mengkritik dan menganalisa serta menuliskan fenomena yang menarik untuk diketahui bersama.
Disqus Comments Loading...