Ilustrasi. (123rf.com)
Ilustrasi. (123rf.com)

dakwatuna.com – Terlelap dipangkuan impian dipejamkan kelelahannya pukul 08:00 pagi dengan wajah letih yang menggambarkan semua perasaannya. TV LCD  dengan program infotainment di pagi hari dan pintu rumah yang terbuka menemani tidurnya.

Ia seorang ibu yang diberkahi lima orang anak oleh Allah SWT –empat perempuan dan satu laki-laki–­ serta seorang suami. Bagaimana seorang ibu bisa tertidur pada jam yang harusnya dia mengurus suami bahkan anak-anaknya.

Entah apa yang ia kerjakan, dari pagi hingga malam tak henti-hentinya ia bergerak ke sana-kemari di sekeliling rumah mengerjakan sesuatu. Dia bangunkan dirinya mulai pukul 02.00 pagi, ayam saja bisa ia bangunkan untuk menyuruhnya berkokok. Setelah itu, mengucurkan air mulai dari kepala, tangan sampai ke kaki untuk sholat malam, tak lupa suara tangis terdengar hingga ke telinga anak-anak yang tadinya terlelap.

Kasih ibu memang sepanjang masa, apa pun yang anaknya lakukan kepadanya doa selalu menjuntai indah untuk mereka. Mama sapaan anak-anak untuk memanggil ibu di keluarga kami.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Sakit hati karena tindakan anaknya pastilah tidak terelakan. Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi, Mama membantu anak-anaknya agar sampai ke sekolah dengan membonceng kami satu per satu ke hingga depan gerbang. Lalu, saat tiba giliranku sampai di sekolah, aku yang memang ceroboh lupa membawa bekalku, dengan wajah lelah yang ditutupi sifat malaikat dia kembali ke rumah dan membawakannya agar aku tak kelaparan. Kemudian,  letih pasti dia rasakan sesampainya di rumah, berharap ingin berbaring sejenak di kursi, Mama yang mendengar ponselnya berbunyi langsung saja melihat sms-ku.

Dari.Sari
Mah, sari lupa bawa pr kimia.
Tolong banget mah ambilin di
Lemari sari, sari tungguin di depan
gerbang.

Kalau saja aku yang membacanya mungkin sudah ku blokir nomor tersebut karena dia hanya bisa menyusahkan. Namun, hati malaikat seorang ibu memang tiada akhirnya, dengan gesitnya Mama mengeluarkan motor dari rumah dan langsung gas motor ke sekolahku untuk mengantarkannya. Setelah itu, aku yang memang sudah panik karena bel sudah berbunyi, langsung saja menyambar buku tugas yang diberikan mamaku lewat celah gerbang, lalu pergi. Tanpa ada satu kata pun terlintas dari mulutku untuk berterima kasih karena sudah merepotkannya. Ibuku itu hanya bengong, saat aku menolehkan sedikit kepalaku ke arahnya. Dari pagi menyusahkannya malah sejak lahir sudah membuatnya repot, pikirku saat melihatnya.

Saat itulah sesal pada diriku melanda dan sulit untuk menghilangkannya. Pasti sakit hatinya, dijadikan budak oleh anaknya. Tak ada kata terima kasih apalagi sayang keluar dari mulutku. Bagi beberapa orang mengatakan hal itu kepada orang tuanya, bisalah terucapkan. Namun, seorang anak sepertiku yang pendiam, tidak suka menunjukkan ekspresi, terlalu pengecut untuk membalas budi untuk mamanya. Padahal, kasih sayang berlimpah ku rasakan setiap hari, benar-benar terasa hingga tak bisa dijelaskan. Namun, aku malah sulit menunjukannya bahwa “Aku juga sayang Mama” sekali waktu pun, saat Mama ulang tahun, misalnya.

Walaupun begitu, Mama pernah berkata kepada kami sebagai anak-anaknya, dengan suara lirih “Mama nggak minta apa-apa, cuma mama pengen anak mama seneng, anak mama sukses, nggak kaya mama. mama juga udah bersyukur, mama udah rela diambil sama Allah.” Berusaha kuat mendengarnya dengan air mata yang hampir jatuh, dada yang penuh sesak, sekali lagi tak bisa berkata apa-apa.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyerbarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (Hadits shahih, Riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Mama adalah cinta, sayang, dan ketulusan yang tidak dapat dirasakan lewat siapa pun selain dia. Lewat doaku untuknya dan bisikanku pada Allah SWT agar dia sehat dan bahagia dunia akhirat, aku akan berusaha membuatnya tahu bahwa aku sayang padanya melebihi yang terindah di bumi ini dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya. Kemudian, sukses untuknya pasti ku tunjukkan padanya karena suksesku adalah bahagia untuknya. Lalu, bahagianya adalah keindahan surga yang Allah SWT berikan kepadaku ke bumi. (dakwatuna.com/hdn)