Polisi Israel di kompleks Masjid Al-Aqsha. Tampak latar belakang Qubah As-Shakhrah (Dome of The Rock). (yahoo.com)
Polisi Israel di kompleks Masjid Al-Aqsha. Tampak latar belakang Qubah As-Shakhrah (Dome of The Rock). (yahoo.com)

dakwatuna.com – Gerakan perlawanan Islam Hamas menganggap penodaan yang dilakukan Netanyahu di pelataran Al-Buraq merupakan aksi provokasi dan kampanye murahan yang diusung Netanyahu untuk memenangkan pemilu Israel.

Pada saat yang sama, Hamas mengingatkan para pemimpin Israel atas konsekuensi yang akan mereka terima jika terus melakukan aksinya di Masjid Al-Aqsha. Pernyataan ini diungkapkan sumber pejabat Hamas, menyusul penodaan yang dilakukan perdana menteri Benyamin Netanyahu di areal Al-Buraq, bersama puluhan kelompok radikal Israel.

Hamas menegaskan, aksi mereka yang terus menerus di Al-Aqsha merupakan strategi gagal, tidak akan berhasil dalam menerapkan realitas baru di Masjid Al-Aqsha.

Sementara itu, kampanye Israel dengan terus menggempur Al-Aqsha berupaya menghilangkan semua bangunan Islam di Al-Quds. Kondisi ini tentu menuntut gerakan nyata dan mempunyai efek dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina di Al_Quds serta kaum muslimin sekitarnya. (Endah Hapsari/infopalestina/ROL)