Home / Arsip Kata Kunci: cerai (halaman 2)

Arsip Kata Kunci: cerai

Bagaimana Status Keponakan Saya yang Nikah Siri Lalu Cerai dan Ingin Menikah Lagi?

Bapak Zairin Noor yang kami hormati, saya ingin menanyakan persoalan hukum kepada Bapak, yaitu mengenai keponakan saya yang akan melangsungkan pernikahan. Keponakan saya ini, seorang perempuan, yang sebelumnya pernah kawin secara siri, tidak tercatat di KUA karena suatu alasanlah. Perkawinannya ini sempat berlangsung selama beberapa tahun, yang kemudian berakhir dengan perceraian.

Baca selengkapnya »

Menikah Itu untuk Selamanya

Meningkatnya angka perceraian di Indonesia beberapa tahun terakhir merupakan fakta yang sangat memprihatinkan. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 %. Tingkat perceraian sejak 2005 terus meningkat di atas 10 persen setiap tahunnya.

Baca selengkapnya »

Marwah di Ujung Bara

Aceh bergejolak. Kesabaran mereka habis. Banyak pihak bermain di balik rumitnya konflik yang melanda Serambi Mekah selama tiga setengah dekade. Gugatan cerai pun mereka layangkan kepada Pemerintah Pusat NKRI. Sebagai tanggapan, Pemerintah bernafsu menjadikan Aceh sebagai Daerah Darurat Militer mulai 19 Mei 2003 selama enam bulan. Dalihnya: untuk menumpas pemberontak yang bertopeng Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Baca selengkapnya »

Wanita-Wanita Pengukir Sejarah (bagian ke-4): Hafshah binti Umar bin Khatthab

Nama lengkapnya Hafshah binti Umar bin Khaththab. Lahir di Mekkah tahun 18 sebelum hijrah. Rasulullah melamar Hafshah kepada ayahnya Umar bin Khaththab, lalu Beliau menikahinya tahun 3 H. Rasulullah pernah bermaksud menceraikan Hafshah, tapi Jibril mengatakan kepada Beliau, "Jangan kamu ceraikan dia, sesungguhnya dia adalah wanita yang gemar berpuasa dan menunaikan shalat (malam), dan sesungguhnya dia adalah istrimu di surga."

Baca selengkapnya »

Mengelola Konflik Keluarga Menjadi Daya Rekat (Bagian ke-2)

Di antara langkah manajemen konflik adalah rasionalisasi antara idealisme dan realisme sehingga tercapai titik temu kompromis yang positif sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Musthafa Masyhur: “Kita kompromi untuk mengambil pilihan yang maslahat lebih baik daripada bercerai untuk pilihan yang paling maslahat (ashlah) dan kita kompromi untuk mengambil pilihan yang benar lebih baik daripada kita bertengkar untuk pilihan yang paling benar”.

Baca selengkapnya »

Mengelola Konflik Keluarga Menjadi Daya Rekat (Bagian ke-1)

Hubungan sosial dan dinamika keluarga merupakan suatu keniscayaan fitrah bagi umat manusia. Hubungan dan dinamika ini tidak terlepas dari suasana harmoni maupun disharmoni yang semuanya itu bertolak dari pengelolaan konflik dan sumber-sumbernya secara baik sehingga apapun yang ada, situasi, gejala dan reaksi yang timbul akan menjadi sebuah potensi kebaikan dan kebahagiaan dan bukan sebaliknya.

Baca selengkapnya »
Organization