(Foto: Bidadari_azzam)
(Foto: Bidadari_azzam)

dakwatuna.com – Dalam beberapa bulan terakhir sejak winter Februari 2013 berlalu, bertepatan usai dua kali dilakukan pembagian “Mawar Cinta Rasul” oleh sisters Krakow, banyak media lokal dan nasional Polandia mendatangi Islamic Centre Krakow untuk mewawancarai muslim di sana.

Satu sisi, hal ini amat baik, muallaf berdatangan dan menjaga silaturahim serta mengobati rasa rindu akan ukhuwah Islamiyah. Selama ini memang belum pernah ada ‘official place‘ untuk beribadah bagi umat Islam di kota tua Krakow hingga januari 2011 sebagaimana sering dikabarkan kepada media-media Islam semasa penulis masih menetap di kota tersebut. Tak hanya orang muslim yang pendatang dan pribumi Krakow, Islamic Centre Krakow pun menjadi sering didatangi oleh orang non muslim yang merasa tertarik dengan Islam, terutama para pencari hidayah Tuhan Yang Maha Esa, juga para pelajar di universitas-universitas sekitar, khususnya jurusan budaya atau bahasa yang terkait dengan negara-negara Islam. Termasuk teman non muslim yang ‘hanya’ sekadar memohon agar diperbolehkan membeli ayam halal di dapur masjid.

Daging yang disembelih dengan nama Allah SWT adalah daging yang berkah, halal dan baik. Pasti koki yang amatiran pun dapat membedakan antara daging sembelihan halal dengan daging hewan yang dipotong tanpa aturan syariat (orang di Krakow menyebutnya: aturan ritual), daging hewan di kedai mereka pada umumnya disuntik pingsan atau disetrum, sehingga jika digoreng pun, darah yang keluar dari daging seolah tak pernah berhenti, baunya amis. Salah satu teman non muslim (yang memiliki anggota keluarga lainnya sebagai muslim) berkata, “Tidak apa-apa kami beli daging halal dengan harga lebih mahal, dari pada daging yang di kedai, murah tapi tidak enak….”

Beberapa bulan ini ‘penyembelihan ritual’ kembali dibanned di Poland. Pemberitaan di berbagai koran nasional Poland biasanya menyebutkan bahwa pelarangan penyembelihan ritual telah menyulitkan orang-orang Yahudi dan Muslim. Meski sebenarnya pihak Christiani juga mengadakan penyembelihan ritual bagi ternak mereka yang akan disantap, sebagaimana diceritakan oleh sist Hania.

Dalam wawancara singkat pihak Krakow Post dengan brother Doctor Hayssam sebelum Idul Adha yang lalu, beliau menjelaskan, “Sejak awal larangan ritual penyembelihan, banyak umat Islam harus berhenti makan daging atau membelinya di Jerman, Hungaria atau Slowakia. Ini adalah pengeluaran besar, biaya konsumsi yang sangat besar bagi keluarga mereka. Secara pribadi, saya akan ke Berlin untuk membawa kembali daging halal, untuk dikonsumsi oleh keluarga kami, dan beberapa keluarga teman lainnya. Saya berharap bahwa pemerintah Polandia akan mempertimbangkan kembali masalah ini dengan segera.”

Berita tentang daging halal ini amat besar, bahkan dimuat di seluruh Eropa, Israel, dan Amerika, juga Indonesia. Karena bagi Poland sendiri, mengekspor daging halal (penyembelihan ritual) amat besar biayanya, ongkos penyembelihan sangat besar dibandingkan dengan mesin setrum. Namun kutipan wawancara itu disatukan dengan banyak percakapan wawancara pihak media tersebut, termasuk dengan kaum Yahudi. Seolah ‘Muslim and Jews’ bekerja sama dalam menentang pelarangan penyembelihan hewan secara ritual tersebut. Oleh karena itu, beliau yang merupakan lulusan Ilmu Politik di Jordan dan Poland ini, kembali memuhasabah diri dan mengingatkan kepada kita semua agar lebih mewaspadai strategi media sekuler, apalagi saat ini Yahudi, Syiah dan Liberal telah bahu-membahu menghancurkan umat Islam.

Sewaktu sebuah surat kabar pernah menanyakan, “Adakah kerja sama Islamic Center Krakow dengan para petinggi gereja dan Yahudi di sini?” Dengan tegas brother menjawab, “Secara struktural tidak ada, tak pernah ada kerja sama yang berhubungan dengan ibadah agama. Kami hanya bertegur sapa dan menjaga hubungan pertemanan ketika berjumpa.” Memang sudah kewajiban seorang muslim untuk menjaga hubungan baik kepada sesama manusia. Namun sikap sopan dan ramah tamah kita, tidak berarti bahwa kita membenarkan agama kaum kuffar tersebut. Kita harus menjaga muamalah, namun mengutamakan prinsip teguh dalam mendekap keimanan diri. Brother Hayssam turut menyesalkan bahwa banyak sobat-sobat muslim, bahkan yang da’i-da’iyah pun, turut terseret dalam jeratan strategi kaum sekuler. Media-media barat adalah perpanjangan tangan gurita mereka, naudzubillahimindzaliik…

Hal pertama, ketika kalian berprestasi dan menonjolkan suatu keistimewaan karya, media-media sekuler meliput semua aspek diri kalian, mewawancarai tak henti-henti, membuahkan popularitas. Kemudian kalian diminta untuk membantu sponsor-sponsor mereka yang membiayai ‘popularitas’ yang kalian dapatkan. Maka dengan cara itulah kalian terjerat, terjerumus, sadar atau tak sadar kemudian ‘gaya hidup berubah’, pakaian mengerucut dan perlahan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah dilakukan selama ini. Terburuknya adalah kalian disejajarkan dengan sesembahan dan idola-idola mereka, bisa jatuh menuju perbuatan syirik.

Hal kedua, pernyataan yang ada ditambahi atau diubah kalimatnya, yang seolah bermakna sama, namun bisa saja maknanya sangat berbeda, setelah ditelusuri, bisa jadi kalimat-kalimat berita dari media itu ‘membawa kita ke arah pikir’ yang bertolak-belakang dari kebenaran.

Terkait berita penyembelihan daging yang ‘dibanned’ tersebut pun demikian, Brother Hayssam sangat terganggu jika dibuat seolah adanya kerja sama antara Muslimin dengan kaum Yahudi di kota tua Krakow. “Padahal tentu tak ada urusan dan kerja sama antara kita muslim dengan kaum Yahudi.” ujarnya tegas.

Hal ketiga, sisi lain di saat Islamic Centre Krakow kian diketahui publik misalnya, sisi kurang baiknya adalah privasi saudara-saudari kita menjadi terganggu. Seperti contohnya saat sister Umm Azzam pernah mengalami, ada seorang mahasiswi yang mengajukan permohonan untuk mengobservasi keadaan keluarga di Krakow, sebagai keluarga muslim pendatang di negeri minoritas muslim itu. Sister atau brother lain pun pernah dicurigai oleh berbagai pihak keamanan akibat berpindahnya agama mereka dari agama orang-tua menjadi agama Islam.

Meskipun kita harus menjaga kesantunan dalam berkomunikasi, kita tidak boleh mengabaikan kerahasiaan diri dan keluarga. Setiap orang punya privasi, ada saudara kita yang tidak suka kalau keluarganya dipotret-potret, ada juga yang kurang suka jika ditanyai tentang aktivitas pribadinya sebagai muslim di agama barunya, dll, harus saling menghargai privasi ini. Tidak pantas kita sebarkan hal privasi kepada publik, apalagi media sekuler yang akan membumbui berita.

Pasti di negeri lainnya pun pernah terjadi, bisa saja da’i-daiyah sedang diajak mengikuti acara besar yang dihadiri para Yahudi, syiah, dan sebagainya. Kemudian mereka semua dikumpulkan untuk berfoto bersama, berdampingan sebagai bentuk ‘kedamaian’. Apakah pantas? Coba kita tanya kepada diri sendiri, Apakah kita pantas tersenyum dan mesra bergandengan tangan dalam foto dengan para aktivis Yahudi, Syiah dan kaum Liberal itu, sementara saudara-saudari kita di ‘bumi yang sama’ namun terpisah jarak—dibantai, dibunuhi, dirampas segala harta, keluarga dan darah mereka?!

Hal keempat, media berurusan utama dengan dana dan politik. Umat Islam selalu dijadikan korban, bahkan mereka berhasil menciptakan Islamophobia di seluruh dunia. Orang-orang Arab pun ketakutan berjenggot, apalagi saat travelling, sebagai contohnya. Padahal sesungguhnya orang muslim bukan berarti orang Arab, demikian pula sebaliknya. Kita muslim dipecah-pecahkan oleh ‘ras dan batas-batas negara’.

Hal kelima, media-media sekuler mengejar-ngejar informasi demi menutupi kebusukan fakta lainnya. Atau mengejar sebuah berita terhangat supaya berita yang ‘membaguskan kaum muslimin’ malah tertutupi. Misalkan hebohnya penolakan terhadap penolakan acara MW di Indonesia, namun banyaknya muslim muallaf yang berniqab di Eropa—tak tersentuh berita. Contoh lain ketika pengumuman pernyataan sikap para pemimpin negeri-negeri Islam yang kurang berempati dengan kondisi di Suriah dan Mesir, media sekuler bahkan tidak membahas bahwa orang-orang Eropa malah ikut berperan aktif membantu dan menunjukkan kepedulian, bahkan orang non muslim di Eropa sudah mengetahui sejarah pembantaian yang terjadi sejak dahulu di Palestina.

“Saya percaya bahwa media mencoba untuk menggiring pikiran kita, kalau kita punya kerja-kerja, karya nyata, mereka akan arahkan bahwa ada kemiripan kerjasama dengan orang-orang Yahudi, seterusnya pada giliran perencanaan menunjukkan kepada dunia Bahwa Muslim dan Yahudi bekerja sama.  Mereka jelas menggunakannya secara politis bagi (kepentingan, pen.) orang Yahudi serta sahabat-an mereka yaitu syiah dan liberal. Itulah mengapa saya menolak wawancara untuk banyak surat kabar Inggris dan Amerika. Salam ukhuwah buat saudara-saudari di Indonesia dan Malaysia…” jelasnya ketika dihubungi via email oleh penulis.

Memang beberapa bulan yang lalu, ada pula dua orang Yahudi, yang salah satunya ‘mengaku’ sebagai pimpinan masjid di sebuah daerah di US, ingin mengunjungi Krakow. Ternyata bukan cuma mengunjungi, dia ‘ceramah’ yang kurang jelas arah bicaranya serta mewawancarai muslim di sana, bahkan sebelum ke Krakow, dia baru saja travel dari negara illegal, Israel. Kemudian dia memuat info dalam data pribadinya di sebuah situs resmi bahwa ia merupakan seorang Imam masjid yang berpengalaman di Krakow. Brothers dan penulis (yang secara jelas memperoleh emailnya tersebut) tak memiliki waktu untuk berdebat, yang penting ke depannya, kita harus lebih waspada terhadap strategi media-media sekuler penghancur umat.

Wallahu ‘alam bisshawab.

Semoga menjadi renungan buat kita semua, salam ukhuwah!