Dirjen Penyelengaraan Haji dan Umrah Anggito Abimanyu (kiri) dan Bupati Sleman Sri Purnomo menunjukkan tikar mendong di Plembon, Yogyakarta, Jumat 31/1). Tikar ini akan diuji coba menjadi alas tidur dan sajadah jamaah haji pada tahun ini. (foto: republika)
Dirjen Penyelengaraan Haji dan Umrah Anggito Abimanyu (kiri) dan Bupati Sleman Sri Purnomo menunjukkan tikar mendong di Plembon, Yogyakarta, Jumat 31/1). Tikar ini akan diuji coba menjadi alas tidur dan sajadah jamaah haji pada tahun ini. (foto: republika)

dakwatuna.com – Yogyakarta. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Anggito Abimanyu melirik pemanfaatan tikar berbahan baku mendong, untuk penyelenggaraan ibadah haji.

Tikar itu dinilai nyaman untuk digunakan sebagai alas selama menjalankan ibadah haji, khususnya selama proses ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armina).

“Uji coba penggunaan tikar mendong akan dilakukan pada haji tahun ini. Penggunaannya masih terbatas untuk jamaah haji asal Yogyakarta karena jumlahnya sedikit,” kata Anggito kepada Republika, Jumat (31/1).

Pertimbangan lain memilih Yogyakarta, kata Anggito, karena biaya transportnya murah. Salah satu sentra kerajinan yang dibidik untuk pengadaan tikar mendong berada di desa Plembon, Sleman, Yogyakarta.

“Akan lebih baik lagi kalau tikarnya diberi tanda sehingga bisa berfungsi sebagai sajadah,” kata Anggito.

Tikar mendong ini dinilai Anggito cocok dipakai selama prosesi Armina. Salah satu alasannya, tikar anyaman ini terasa dingin sehingga tetap nyaman digunakan saat cuaca panas jika dibandingkan dengan tikar plastik.

Tikar mendong untuk jamaah haji ini rencananya dibuat berukuran 60 cm x 175 cm dan berfungsi sebagai alas tidur sekaligus sajadah. Saat ini, harganya per lembar masih dipatok pada kisaran Rp 35 ribu – Rp 40 ribu

Menurut Anggito, belum dipastikan apakah dana untuk tikar ini akan dibebankan kepada jamaah. Rencananya, masalah dana teraebut akan dibahas pekan depan.

Warga Desa Plembon memang banyak yang bertani mendong, sejenis rumput dengan daun yang panjang runcing. Tanaman dengan nama latin Fimbristylis glubolusa ini dipanen pada umur empat bulan lalu diproses seperti dikeringkan sebelum akhirnya menjadi bahan siap dianyam atau di tenun. (rol/sbb/dakwatuna)