Home / Fajar Sidik, SH

Fajar Sidik, SH

Mahasiswa Pasca Sarjana FISIP Universitas Airlangga Prodi Media dan Komunikasi.

Politik Peci Hitam

Politik peci hitam akan semakin menghiasi media-media nasional di Indonesia. Semakin mendekati pemilihan umum tahun 2019, komunikasi politik si peci hitam, akan semakin intensif dan memakan banyak insentif. Meskipun demikian, seiring derasnya arus informasi yang datang kepada seluruh lapisan masyarakat, politik peci hitam akan sulit digunakan pada masyarakat yang terpapar informasi secara simultan.

Baca selengkapnya »

Bukan Sekadar Ayah Biasa : “Pengalaman Ayah Hadir dalam Pengasuhan Anak”

Buku karya pria kelahiran Madiun ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh para Ayah di Indonesia. Selain bahasanya yang renyah, juga karena disusun secara terstruktur dan based on real history. Sehingga ’obat’ yang ditawarkan bagi sebagian besar keluarga di Indonesia yang sedang ’sakit’, terasa mujarab meskipun baru sebatas dibaca. Dan mungkin akan ada sensasi lebih mengasyikkan setelah diimplementasikan kemudian.

Baca selengkapnya »

MPN G2 Sebagai Revolusi Sistem Penerimaan Negara di Indonesia

Oleh karena itu, untuk menjamin keberlanjutan sistem MPN G2 hingga masa yang akan datang, maka dibutuhkan kerja keras seluruh jajaran Ditjen Perbendaharaan bersama Ditjen Pajak, Ditjen Bea Cukai dan Ditjen Anggaran, untuk mempersiapkan aplikasi MPN G2 yang friendly bagi berbagai pengguna lintas generasi. Langkah terakhir ditutup dengan proses transfer of knowledge kepada seluruh lapisan masyarakat pengguna layanan MPN G2. Semoga inovasi ini menjadi jalan bagi terbangunnya sistem penerimaan negara mutakhir, akuntable dan memiliki validitas data yang baik.

Baca selengkapnya »

Pers, Kembalilah Pada Khitah Kalian!

Lihatlah kondisi pers saat ini. Bencana asap di Sumatera dan Kalimantan tidak menjadi isu ’seksi’ bagi media. Padahal, telah jatuh korban jiwa dari kalangan anak-anak ditambah terhentinya aktivitas masyarakat. Tercatat hanya republika sebagai media cetak yang mengangkat isu asap ini secara konsisten. Dan ini terjadi karena masih ada tarikan yang cukup kuat bagi lembaga pers untuk menjaga reputasi pemerintahan terpilih yang juga naik karena keringat mereka.

Baca selengkapnya »

Bersatulah Dunia Islam, Selamatkan Palestina! (Mengenang Peristiwa Nakba)

Tanggal 8 Desember 1987 telah menjadi hari bersejarah bagi mujahid Palestina. Lebih dari dua dasawarsa silam, gerakan perlawanan meraksasa menjadi satu kesatuan gerakan total bagi seluruh elemen masyarakat. Yaitu sebuah gerakan pembebasan tanah suci para nabi, yang bangkit dari rasa ketertindasan oleh Zionis Israel. Inilah waktu dimana batu-batu menjadi peluru dengan tubuh menjadi tamengnya. Gerakan ini dinamakan Intifadhah.

Baca selengkapnya »

Tangan-Tangan Malaikat Dunia…

Ini hanya sebuah refleksi kondisi negeri ini. Kemiskinan, kebodohan, dan pengangguran, masih hinggap dan tak pernah lepas hingga kini. Walau teriakan perubahan, kesejahteraan, dan kemakmuran terus bergemuruh. Tetap saja Indonesia menjadi negeri miskin, tanah subur para koruptor. Ladang menggiurkan orang-orang culas.

Baca selengkapnya »

Muliakanlah Pekerjamu!

Pada suatu hari, Khalifah Umar bin Khathab mendapati beberapa orang yang kerjanya hanya berdiam diri di masjid. Ketika Umar bertanya tentang bagaimana mereka memenuhi kebutuhan hidup, mereka menjawab, “Kami ini orang yang bertawakal.” Umar menolak jawaban itu seraya berkata, “Bukan, kalian ini tidak lain adalah orang yang berpangku tangan dan malas bekerja, kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan rezeki. Padahal kalian tahu bahwa langit itu tidak pernah menurunkan hujan emas ataupun perak.”

Baca selengkapnya »

Valentine’s Day: Antara Ritual, Bisnis dan Kerawanan Moral

Valentine’s Day memang tengah menjadi virus mengerikan yang menjangkiti remaja Indonesia. Bukan karena tujuan perayaan ini yang berkaitan dengan pengungkapan rasa kasih sayang ataupun suatu ritual keagamaan. Tapi lebih kepada kebiasaan-kebiasaan buruk seperti free sex, pesta alkohol, narkoba, pemborosan dan kemudharatan lainnya. Maklum saja, kebiasaan tersebut memang lumrah dilakukan oleh remaja-remaja Amerika Serikat dan beberapa negara Barat.

Baca selengkapnya »

Memurnikan Kembali Identitas Negeri…

Sadarilah, identitas negeri ini mulai lapuk akibat erosi budaya. Anak-anak tidak lagi bercita-cita menjadi dokter, polisi, atau tentara. Aset negeri itu kini telah terbius gemerlap dunia keartisan. Bukan hanya mereka yang metropolis. Wong ndeso pun ikutan bermesraan dengan mimpi-mimpi instan tersebut. Rupiah si Ibu dan tetesan keringat sang Ayah dikorbankan untuk menjerumuskan anaknya ke gelanggang sandiwara. Waktu-waktu senggang Mereka tidak lagi diisi bermain atau belajar. Semua itu telah tergantikan dengan bimbingan menyanyi, bermain musik, hingga latihan acting.

Baca selengkapnya »