Home / Narasi Islam / Dakwah / Bentuk-Bentuk Penyimpangan di Jalan Dakwah (Bagian ke-2: Penyimpangan dari Sasaran Utama)

Bentuk-Bentuk Penyimpangan di Jalan Dakwah (Bagian ke-2: Penyimpangan dari Sasaran Utama)

Ilustrasi. (wallpaperscraft.com)

2. Penyimpangan dari Sasaran Utama (Ahdaf)

Penyimpangan dari sasaran utama kepada sasaran yang sifatnya juz’iyah (sektoral), atau kepada tujuan-tujuan yang sama sekali menyimpang dari sasaran utama, akibatnya hanya menghabiskan usaha dan potensi yang tidak sedikit dengan sia-sia, juga meruntuhkan amal Islami yang benar dan hasil yang diharapkan.

Dalam risalah “Di Bawah Bendera Al-Quran” oleh Hasan Al-Banna dijelaskan tugas dan tujuan kita:

“Tugas global kita, membendung arus kebudayaan materi. Menghancurkan budaya konsumerisme dan peradaban bejat yang menghancurkan umat Islam. Budaya materi itu menjauhkan kita dari kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan petunjuk Al-Quran. Menghalangi dunia dari pancaran hidayah-Nya, dan menunda kemajuan Islam ratusan tahun. Seluruh peradaban dan kebudayaan tersebut harus dilenyapkan dari muka bumi kita. Sehingga, umat Islam selamat dari fitnahnya. Kita tidak akan berhenti sampai di sini, kita akan terus mengejar sampai ke tempat asalnya. Terus menyerbu ke kandangnya (Barat). Sehingga, seluruh dunia menyambut seruan Nabi Muhammad SAW dan dunia terlindung dengan ajaran-ajaran Al-Quran serta Islam yang teduh menaungi seisi bumi.

Pada saat itulah tujuan kaum Muslimin tercapai:

“Sehingga tidak ada lagi fitnah, dan agama seluruhnya milik Allah”. (QS. Al-Anfal: 39)

Bentuk-Bentuk Penyimpangan

Penyimpangan-penyimpangan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, antara lain:

1. PEMISAHAN SASARAN. Ini dapat berupa pembatasan dakwah hanya pada masalah-masalah ibadah mahdhah, dzikir, ilmu pengetahuan, dakwah kepada Allah, amar ma’ruf, nahi mungkar dan amalan-amalan kebaikan lainnya. Tetapi meninggalkan persoalan tasyri’ (perundang-undangan), pemerintahan, jihad, dst.

Pemisahan sasaran pada hakikatnya merupakan distorsi dan pendangkalan, serta pelaksanaan yang keliru terhadap ajaran Islam.

Ada sebagian jamaah memilih sasaran parsial (tidak utuh). Pilihan mereka itu kita serahkan kepada Allah. Tetapi, yang perlu kita perhatikan ialah mereka yang sedang meniti jalan dakwah dengan sasaran yang telah kami jelaskan di atas kemudian mereka melakukan penyimpangan dengan mengambil jalan pemisahan sasaran.

Motivasi tindakannya itu biasanya untuk keselamatan dirinya dan menghindari penyiksaan para penguasa zhalim. Ini bukti bahwa keimanannya lemah. Padahal, orang yang bersangkutan tidak akan terbebas dari mempertanggungjawabkan sikap dan perbuatannya itu kelak. Di sisi lain, karena ia berada dalam naungan sistem jahiliyah yang tidak melaksanakan syariat Allah, maka pelaksanaan ‘ibadah, dakwah, dan pengetahuannya tidak dapat dilaksanakan secara murni dan utuh. Sementara itu, umat Islam akan terus terhina dan terjajah. Mereka dan para generasi mudanya dipaksa menerima ideologi sesat dan tradisi jahiliyah yang rusak. Sedang, ilmu yang mereka miliki tidak membawa kemanfaatan.

Perasaan tidak mampu menghadapi kekuatan musuh atau ketidak-mungkinan mewujudkan ahdaf kita secara total, sering dijadikan alasan untuk melakukan pemisahan (parsialisasi) sasaran. Padahal ini juga merupakan kelemahan iman dan kesalahan pemahaman. Orang beriman harus menggantungkan persoalannya kepada Allah semata.

Ataupun penyimpangan dengan pandangan bahwa mewujudkan ahdaf bukan kewajiban setiap muslim dan muslimah atau dianggap fardhu kifayah. Sikap seperti ini harus segera diluruskan dan perlu dijelaskan kewajiban ini fardhu ‘ain.

2. PEMBATASAN NEGARA. Penyimpangan ahdaf lainnya, bila penegakkan daulah yang berasaskan kepada Islam dibatasi pada salah satu negara saja. Tanpa memikirkan dan berusaha bekerja sama menegakkannya sedunia.

Sikap itu di samping menyalahi kesepakatan, juga bertentangan dengan universalitas dakwah dan persatuan Islam.

3. HANYA UNTUK KEKUASAAN. Perjuangan yang sasarannya sekedar menduduki pemerintahan juga termasuk penyimpangan ahdaf. Karena akan mendorong melakukan lompatan-lompatan dan pelanggaran terhadap garis Islam yang benar mengenai sistem dan sarana, akibat ambisi merebut pemerintahan dan mengikuti jejak partai politik yang ada.

Karena kelemahan fondasi, maka penyimpangan seperti ini akan menyeret amal Islami (gerakan Islam) kepada malapetaka besar dan kehancuran.

Ada perbedaan besar antara menegakkan Dien Allah dengan sekedar usaha merebut pemerintahan. Karena saling berbedanya asas yang melandasi kedua usaha tersebut. Baik dari segi kekuatan maupun dari segi kemurnian, yang diperlukan untuk menciptakan stabilitas dan kelestarian. (dakwatuna/nnn)

Diringkas dari: Syaikh Mushthafa Masyhur, Fiqih Dakwah, Jakarta, Al-I’tishom Cahaya Umat, 2000

— Insya Allah bersambung

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi