Home / Berita / Internasional / Asia / Tiga Tahun Militer Rusia di Suriah Tewaskan 18.000 Orang

Tiga Tahun Militer Rusia di Suriah Tewaskan 18.000 Orang

Presiden Vladimir Putin memuji pasukan Rusia, Cina dan Mongolia untuk keterampilan mereka, mengatakan mereka “menunjukkan kemampuan mereka untuk membelokkan potensi ancaman militer”. (Alexey Nikolsky / via AFP)
dakwatuna.com – Damaskus. Lebih dari 18.000 orang tewas sejak Rusia memutuskan untuk intervensi militer di Suriah. Sebagian besar dari jumlah tersebut merupakan masyarakat sipil yang tak berdosa.

Sekutu dekat rezim Suriah, Rusia, memulai intervensi militer pada 30 September 2015. Itu artinya intervensi dilakukan setelah empat tahun konflik di Suriah berkobar.

Sejak saat itu, militer Rusia telah membunuh 18.096 orang menurut laporan Observatorium untuk HAM Suriah. “Angka itu termasuk 7.998 warga sipil, atau sekitar separuh dari jumlah seluruhnya,” kata Kepala Observatorium Rami Abdel Rahman, dikutip dari MEE.

2.233 militan ISIS juga dilaporkan tewas dalams serangan Rusia tersebut. Sisanya adalah kelompok oposisi, dan gerilyawan lain, kata pemantau yang berbasis di Inggris tersebut.

Sementara Komisi Pertahanan Rusia menerbitkan angka yang jauh berbeda pada Ahad lalu. Menurut mereka, serangan “akurat” menewaskan 85.000 orang.

“Semua serangan udara telah ditargetkan dan masih secara akurat menyasar target-target teroris,” kata Kepala Komisi Viktor Bondarev.

Kelompok HAM dan dunia Barat mengecam keras serangan udara Rusia di Suriah. Serangan itu, menurut mereka, dilakukan tanpa pandang bulu dan menargetkan infrastruktur sipil termasuk rumah sakit.

Tudingan itu juga ditegaskan oleh White Helmets, pasukan penyelamat Suriah yang bekerja di wilayah-wilayah oposisi. Dalam laporan yang dirilis pada Ahad lalu, mereka menyebut sering menghadapi lusinan serangan Rusia pada bangunan yang digunakan warga sipil sejak 2015.

Serangan Rusia juga disebut menyasar 19 sekolah, 12 pasar umum, 20 fasilitas medis serta 21 markas White Helmets sendiri.

“Rusia menunjukkan pengabaiannya atas kesepakatan untuk zona aman, zona tanpa konflik, penghentian permusuhan, dan zona de-eskalasi, dengan melanjutkan serangan udara di ruang sipil,” ungkap White Helmets. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Buntut Pembunuhan Khashoggi, Senator AS Desak Gedung Putih Usir Dubes Saudi