Home / Berita / Internasional / Asia / Hukuman Mati Para Ulama Mengguncang Singgasana Arab Saudi

Hukuman Mati Para Ulama Mengguncang Singgasana Arab Saudi

Para tahanan politik di Saudi akan menghadapi persidangan rahasia. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Riyadh. Upaya menghukum mati tiga ulama terkenal merupakan ujian nyata bagi struktur kekuasaan di Kerajaan Arab Saudi. Demikian sebagaimana ditulis dalam harian Wall Street Journal (WSJ).

WSJ menambahkan, ketiganya adalah sosok ulama Sunni yang paling populer di Saudi. Tiga ulama yang dimaksud adalah Syaikh Salman Audah – yang memiliki lebih dari 14 juta pengikut di Twitter, Syaikh Awad al-Qarni dan Dr. Ali al-Amari.

Sejumlah aktivis HAM, menurut WSJ, meyakini bahwa ketiga ulama itu ditangkap sekitar satu tahun lalu karena tidak mendukung kampanye yang dilakukan pemerintah Saudi melawan Qatar.

Namun pejabat di Riyadh membantah penahanan ketiganya sebab pandangan politik mereka.

“Tidak ada gelar perkara seseorang di Saudi karena pandangan politik mereka. Penangkapan mereka dan yang lainnya, sejalan dengan keinginan pemerintah untuk memerangi ekstremisme yang ada di dunia dan memerangi terorisme dalam segala bentuknya,” kata sang pejabat kepada WSJ.

WSJ menjelaskan, Putra Mahkota dan Raja Salman menahan para aktivis, pengusaha dan pejabat pemerintah sebagai bagian dari upaya mereka menyusun ulang tatanan sosial dan ekonomi Saudi.

Namun para ulama Saudi sejak waktu yang lama memiliki kekuatan dalam diri mereka, berkat popularitas dan pengaruh yang mereka miliki. Bahkan pengaruh dan popularitas mereka melampaui orang-orang yang ditangkap dalam operasi baru-baru ini.

Masih menurut WSJ, pergerakan melawan ulama dapat mempengaruhi opini publik di Saudi terhadap penguasa mereka. Selain juga akan menguatkan para oposisi dalam melakukan perlawanan.

Keluarga Saud menjadi penguasa dalam lebih dari delapan dekade. Sejauh ini mereka senantiasa bergandengan dengan para imam dan ulama, yang memiliki kecenderungan Wahhabisme. Koalisi ini menjadikan kepemimpinan yang stabil dan menghasilkan salah satu komunitas keagamaan paling konservatif di dunia, terang WSJ.

Sejumlah kebijakan yang diambil Muhammad bin Salman dinilai membuatnya dijauhi para ulama. Sebut saja kebijakan mengemudi bagi wanita, perumusan kebijakan luar negeri yang lebih kuat, serta diversifikasi ekonomi berbasis minyak dan menjadikan negara lebih menarik dalam sektor investasi asing dan pariwisata. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Kekuatan Diplomatik Turki Selamatkan 4 Juta Orang di Idlib, Suriah