Home / Berita / Internasional / Asia / Muslim Uighur Berbicara Tentang Kebengisan Cina (Bagian 2)

Muslim Uighur Berbicara Tentang Kebengisan Cina (Bagian 2)

Tarim menggambarkan peta dari kamp di Xayar, di mana saudara perempuannya ‘ditahan”. (Al Jazeera)
Penerbangan ke Istanbul Melalui Astana

Kegagalan Tarim dalam membebaskan adik perempuannya menjadi peringatan bagi otoritas lain. Dua hari kemudian, panggilan telepon dari polisi datang. Karena khawatir penangkapan dan penahanannya sudah dekat, ia bergegas mencari jalan keluar.

Sehari setelah menerima telepon, Tarim muncul di Bandara Internasional Diwopu Urumqi untuk terbang ke Aksu, seperti yang diminta oleh polisi.

Hanya dengan tas tangan kecil dan secarik tiket, ia check in untuk penerbangan domestik, yang dijadwalkan pukul 09:55 waktu setempat. Sebagai bukti, ia mengambil foto boarding pass-nya dan mengirimkannya ke pihak berwenang yang menunggu kedatangannya.

Tarim tidak pernah mendapat masalah sebelumnya, jadi ia tidak dalam ‘daftar hitam’ pemerintah. Tidak melapor ke markas polisi di Aksu, akan secara otomatis menempatkannya ke dalam daftar tersebut. Itu sebabnya ia memenuhi panggilan mereka.

Bagi Tarim, Xinjiang adalah rumah. Ia tak pernah berpikir harus meninggalkan bisnisnya yang cukup menguntungkan di sana. Pada usia 16 tahun, ia mulai berjualan buah dan tekstil, itu awal mula sehingga ia berhasil mengumpulkan kekayaan yang cukup besar.

Tapi dia cepat bertindak begitu mendapat kesempatan untuk pergi.

Sambil menunggu penerbangan, Tarim menelepon kantornya di Urumqi dengan instruksi untuk memesankan penerbangan paling awal bagi pemegang paspor Istanbul-Cina serta mengajukan permohonan visa saat tiba di Istanbul.

Pesawat ke Istanbul berangkat pada pukul 10:40 via Astana, ibu kota negara tetangga, Kazakhstan.

Alih-alih mengambil penerbangannya ke Aksu, Tarim justru menuju ke gerbang yang berbeda untuk menaiki pesawat yang akan membawanya ke Istanbul. Antara jadwal penerbangan aslinya dan waktu keberangkatan ke Astana hanya ada beberapa menit untuknya meluangkan waktu.

Ketika menunggu penerbangan untuk lepas landas, kata Tarim ke Al Jazeera, ia terguncang dengan rasa takut akan kemungkinan tertangkap.

“Aku tidak percaya bagaimana bisa melakukannya. Aku sangat gemetar.”

Laporan HRW

Kesaksian Tarim mendukung laporan terbaru HRW, yang mengklaim bahwa sebanyak satu juta orang ditahan di “kamp” di seluruh wilayah barat Cina.

Hal ini juga menguatkan temuan PBB baru-baru ini yang merinci program “pengawasan massal” “secara tidak proporsional menargetkan” kaum Uighur dan minoritas Muslim lainnya.

Untuk laporannya, HRW mewawancarai setidaknya 58 mantan penduduk Xinjiang, termasuk lima mantan tahanan. Al Jazeera mewawancarai Tarim dan dua wanita Uighur lainnya secara terpisah.

Cina membantah laporan terakhir PBB tersebut. Dikatakan langkah pengamanan yang ketat di Xinjiang diperlukan untuk memerangi “ekstremisme dan terorisme”. Bahkan Cina menambahkan bahwa pihaknya tidak sedang menargetkan etnis tertentu atau berusaha membatasi kebebasan beragama.

Beijing juga mengatakan bahwa orang-orang dengan “pelanggaran kecil diberikan bantuan dan pendidikan untuk membantu mereka dalam rehabilitasi dan reintegrasi”.

Menurut perkiraan konservatif, ada sekitar delapan juta orang Uighur di Xinjiang, dari populasi 19 juta.

Mengomentari laporan PBB, Wakil Direktur Asia Timur Amnesty International Lisa Tassi mendesak pemerintah China untuk “mengindahkan seruan guna menghindari pelanggaran hak asasi manusia yang serius”.

“Daripada menolak rekomendasi Komite [PBB], Cina harus segera menetapkan langkah selanjutnya untuk mengatasinya,” kata Tassi. Ia juga menyeru masyarakat internasional untuk mendesak Beijing bertanggungjawab “atas penindasannya terhadap etnis minoritas dan budaya”.

Tahun-tahun migrasi oleh Han Cina mengubah etnis Uighur menjadi minoritas di wilayah mereka sendiri. Sejak itu, mereka mengeluhkan banyak diskriminasi terhadap budaya, bahasa dan agama mereka.

Bersambung . . .

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Ahmed Omar; Pemuda Palestina yang Dimakamkan di Hari Kelahirannya

Organization