Home / Berita / Internasional / Asia / Pemerintah Baru Malaysia Berbalik Melawan Cina

Pemerintah Baru Malaysia Berbalik Melawan Cina

PM Malaysia Tun Mahathir Mohamad (kiri) bersama PM Cina Li Keqiang. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Kuala Lumpur. Tsunami pemilu yang mengakhiri 60 tahun kekuasaan Barisan Nasional di Malaysia awal tahun ini masih menyisakan gelombang kejutan ke seluruh dunia.

Kembalinya PM Mahathir Mohamad yang menakjubkan, di usianya yang ke-93, tidak hanya mengguncang institusi domestik negara tersebut. Lebih dari itu, fakta tersebut juga meningkatkan keberpihakan strategis negara di luar negeri.

Menurut pengakuan seorang pejabat senior Malaysia baru-baru ini, pemerintahan Tun Mahathir bersiap membatalkan investasi infrastruktur Cina senilai hampir $ 40 miliar. Ini sebagai tindakan tegas pada tersangka transaksi pemerintah sebelumnya dengan Beijing.

Pemerintah baru Malaysia juga khawatir tentang ketegasan maritim Cina dan militerisasi tanpa henti di lahan sengketa di Laut Cina Selatan. Malaysia, negara yang menuntut kontrol atas beberapa pulau di daerah itu, terganggu dengan prospek dominasi Cina pada salah satu perairan terpenting di dunia tersebut.

Hasilnya, Tun Mahathir mencari hubungan strategis yang lebih kuat dengan Jepang dan Barat. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan negaranya terhadap Cina. Seiring berjalannya waktu, Malaysia, yang dikenal cukup dekat dengan Cina, perlahan menjadi lawan atas hegemoni ekonomi Beijing di Asia.

Saat ini, lanskap geopolitik di Asia terlihat sangat berbeda, dengan upaya Cina untuk menggeser AS sebagai pemimpin di benua tersebut. Dengan latar belakang ini, Tun Mahathir mengembangkan retorika lebih kritis terhadap Cina dalam beberapa tahun terakhir. Awal tahun ini, ia menyebut agresifitas Cina sebagai sesuatu yang “sangat mengkhawatirkan”.

Lebih dari itu, Tun Mahathir juga menyebut kepemimpinan Beijing saat ini “cenderung menuju totalitarianisme” dan tidak takut untuk “melenturkan otot-ototnya” guna “meningkatkan pengaruh atas banyak negara di Asia Tenggara”.

Lebih dramatisnya lagi, Tun Mahathir juga tengah mempertimbangkan pembatalan investasi infrastruktur Cina. Proyek ini mencakup wilayah pesisir strategis yang menyatukan antara Selat Malaka dan Laut Cina Selatan.

Hari ini, tampaknya Beijing tidak melihat Tun Mahathir sebagai teman lama yang setia, melainkan seorang kritikus profil tinggi. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Masjid di Makkah, Madinah hingga London Gelar Shalat Ghaib untuk Jamal Khashoggi