Home / Berita / Silaturahim / Romantika Qurban di Desa Barengkok, Jasinga – Bogor

Romantika Qurban di Desa Barengkok, Jasinga – Bogor

Kegiatan Qurban di Desa Barengkok, Jasinga – Bogor, oleh Fusi Foundation dan Bisa Aja Community. (AF)
dakwatuna.com – Jakarta. Para sarjana alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang bernaung dalam Fusi Foundation menggelar program Insinyur Blusukan. Program ini dimaksudkan untuk menjadi bagian dari solusi problematika masyarakat, dengan bekal ilmu, keahlian dan pengalaman keteknikan.

Visi tersebut, tampaknya juga sejalan dengan tekad BISA AJA Community. Komunitas yang menaungi praktisi pengobatan holistik dan pegiat pemberdayaan masyarakat ini bertekad membangun peradaban bersama masyarakat, aparatur pemerintah dan tokoh agama.

Kolaborasi ciamik BISA AJA Community dan FUSI FOUNDATION melahirkan harapan hadirnya kemajuan pendidikan dan perekonomian di Desa Barengkok, Jasinga – Bogor.

Hal itulah yang disampaikan oleh Ahmad Fitrianto, di seketariat Fusi Foundation Depok, usai memantau kegiatan Qurban di sejumlah wilayah, Rabu (22/08). Ustadz Ahmad – begitu ia biasa disapa – saat itu didampingi oleh Ketua Bisa Aja Community Heru Kusmiyanto, serta pengurus Bisa Aja Community, antara lain Akgam Fradikha, Helmi dan Ustadz Khasani.

“Berbekal tiga ekor kambing kami bersama masyarakat bertekad meretas peradaban unggul di desa Barengkok. Kami akan memulai social mapping untuk menentukan langkah terbaik menghadirkan perbaikan berkelanjutan bagi warga desa Barengkok,” papar Ustadz Bayu Andhika selaku Pembina Bisa Aja Community dan Owner Klinik Pengobatan Holistik Nida’ul Jafar Depok.

Pada gilirannya, Ust Khasani dari Bisa Saja Community menuturkan sambutan positif Kades Barengkok terkait rencana pemanfaatan lahan untuk Lembaga Pendidikan. Lahan dimaksud merupakan wakaf keluarga besar H. Ahmad yang luasnya mencapai 2.000 meter persegi.

“Bapak Herman Setiawan selaku Kades menyambut positif rencana pemanfaatan lahan wakaf keluarga besar H. Ahmad seluas 2.000 m2 untuk Lembaga Pendidikan. Beliau juga berterima kasih atas perhatian rekan-rekan Fusi Foundation dan Bisa Aja Community kepada warganya,” ujar Ust Khasani.

Masih menurut Ust Khasani, Kades Barengkok juga berjanji akan segera membantu proses legalitas akta wakaf. Dengan begitu, perancangan bangunan dan penggalangan dana bisa segera dilanjutkan.

“Pak Kades juga menyampaikan bahwa ada 17 orang warga desa yang sudah berstatus sarjana siap membantu proses kegiatan belajar mengajar, termasuk dua orang diantaranya alumni PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an),” lanjutnya, Rabu (22/08) kemarin.

Sejumlah warga juga tampak sangat antusias dalam membantu kegiatan Qurban. Selain itu, mereka juga menaruh harapan besar hadirnya Madrasah Tsanawiyah atau ‘Aliyah yang tidak ada di sana.

“Warga di sini 80% hanya lulusan SD karena untuk bersekolah SMP/SMA harus pergi jauh ke Jasinga atau Leuwiliang. Sementara masyarakat yang bekerja sebagai buruh tani dan buruh lepas tentu sangat berat jika menyekolahkan anak mereka dengan ongkos transportasi yang mahal,” demikian keluh Haji Ahmad selaku tokoh masyarakat setempat.

Pendekatan Holistik

Di tempat yang sama, Ketua Fusi Foundation Ahmad Fitrianto berpendapat, berdasarkan survey awal pada tanggal 18 Agustus 2018, permasalahan krusial yang harus segera ditangani adalah ketersediaan air bersih bagi warga desa. Sumur di rumah warga dan mushola hingga mata air di pinggir hutan sudah mengering sehingga kebutuhan MCK sangat terganggu dan berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan.

“Kampanye WAKAF AIR menjadi penting untuk dilakukan agar segera direalisasikan sumur bor dan penampungan air bagi warga desa,” papar Ahmad Fitrianto.

Lebih lanjut alumni Fakultas Teknik UI ini juga menyebut pemberdayaan ekonomi masyarakat di sektor peternakan dan perkebunan juga harus direncanakan secara serius. Hal ini menjadi alternatif solusi pendapatan warga yang selama ini mengandalkan sawah tadah hujan, yang produksinya bisa menurun bahkan terancam gagal di musim kemarau.

“Usaha penanaman singkong juga cukup berpotensi dikembangkan karena setelah mencoba singkong di desa Barengkok bagus kualitasnya. Insya Allah kita bisa ATM (amati, tiru dan modifikasi) usaha kecil dan menengah kripik singkong di desa Trisobo, Semarang – Jawa Tengah,” demikian ditambahkan Heru Kusmiyanto Ketua Bisa Aja Commnuty dan pebisnis kripik singkong. (af/whc/dakwatuna)

Keterangan lebih lengkap dapat menghubungi:
Sekretaris BISA AJA Community – Akgam Fradikha 085774294565

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Qurban Masuk Desa (QURMADES), Sensasi Qurban Zaman Now