Home / Berita / Internasional / Asia / Mantan Menlu AS Pernah Gagalkan Rencana Saudi-UEA Serang Qatar

Mantan Menlu AS Pernah Gagalkan Rencana Saudi-UEA Serang Qatar

Putra Mahkota Saudi (kiri) bersama Putra Mahkota Abu Dhabi. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Washington. Laman Amerika “The Intercept” mengungkap adanya rencana penyerangan militer kepada Qatar oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) pada musim panas 2017 lalu. Namun, pergerakan Menlu AS saat itu, Rex Tillerson, berhasil menggagalkan rencana kedua negara tersebut.

Bulan Maret lalu, Tillerson resmi diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden Donald Trump. Langkahnya menggagalkan rencana dua negara itu disebut-sebut sebagai salah satu sebab pemberhentiannya.

Menurut Intercept, Tillerson secara pribadi turun langsung menghentikan rencana rahasia Saudi dan UEA menyerang Qatar Juni 2017 lalu. Informasi ini bersumber intelijen dan Kemenlu AS.

Tillerson kemudian melakukan sejumlah pembicaraan dengan pejabat Saudi untuk mencegah mereka melakukan rencana tersebut. Namun laporan media saat itu menyebut tujuan pembicaraan untuk mengurangi ketegangan antara Qatar dan para pemboikotnya.

Mantan Menlu AS itu berinteraksi secara luas dengan pemerintah Qatar saat masih menjabat sebagai CEO ExxonMobil dulu.

Tillerson menyampaikan kepada Raja Saudi Salman bin Abdulaziz, Putra Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman dan Menlu Adil al-Jubeir, agar tidak menyerang atau melakukan permusuhan terhadap Qatar.

Selain itu, Tillerson juga mendesak Menhan AS James Mattis untuk menghubungi Menhan Saudi, guna memperjelas bahaya yang ditimbulkan dalam aksi militer semacam itu.

Muhammad bin Salman menanggapi tekanan Tilerson kala itu, sebab khawatir akan merusak hubungan Riyadh-Washington untuk waktu yang panjang.

Sementara menurut sumber di UEA, intervensi Tillerson dalam menghalangi serangan ke Qatar itu membuat marah Putra Mahkota Abu Dhabi Muhammad bin Zayed.

Kedua negara teluk itu kemudian berusaha keras untuk menggulingkan Tillerson dari jabatannya sebagi Menlu AS. Bahkan New York Times menyebut bahwa Dubes UEA di Washington Yousef Al Otaiba sudah tahu pencopotan Tillerson sejak tiga bulan sebelumnya.

Masih menurut Intercept, intelijen Qatar telah mencium rencana serangan sejak awal musim panas 2017. Sedang Tillerson memulai upayanya setelah diberi tahu oleh pemerintah Qatar dan Kedubes AS di Doha.

Beberapa bulan kemudian, laporan-laporan intelijen dari AS dan Inggris juga mengkonfirmasikan adanya niat jahat tersebut.

Rencana yang diawasi langsung oleh Putra Mahkota Saudi dan UEA itu melibatkan pasukan darat Saudi yang akan melintasi perbatasan darat menuju Qatar. Kemudian pasukan yang juga didukung pasukan UEA itu akan menembuh jarak 70 mil untuk sampai ke Doha.

Pada awalnya pasukan Saudi-UEA akan melumpuhkan Pangkalan al-Udeid yang berisi 10.000 pasukan AS. Setelah itu, barulah pasukan akan mengambil alih Doha.

Intercept menyebutkan, kedutaan Saudi dan UEA di Washington enggan berkomentar terkait laporan adanya rencana menyerang Qatar tersebut. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Netanyahu: Saya Ingin Ada Hubungan Baik antara Israel dan Indonesia