Home / Berita / Opini / Mesut Ozil; Peluang Bagi Seluruh Muslim di Eropa

Mesut Ozil; Peluang Bagi Seluruh Muslim di Eropa

Mesut Ozil (kiri) bersama Presiden Turki. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Berlin. Pernyataan Mesut Ozil dan pengunduran dirinya dari tim sepak bola nasional Jerman memicu salah satu perdebatan terbesar tentang rasisme dan integrasi di Jerman.

Kasus Mesut Ozil merupakan sebuah aliran di Jerman, sinyal yang sangat fatal bagi jutaan pemuda dengan latar belakang migran.

Kasus ini memperkuat perasaan tidak diterima di Jerman. Jika seorang pemain sepak bola nasional dan juara dunia saja terkena rasisme dan tidak menerima dukungan dari politisi, masyarakat, dan Asosiasi Sepak Bola Jerman, banyak yang bertanya pada diri sendiri: apa yang harus kita lakukan agar diterima sebagai anggota penuh dari masyarakat ini?

Bagi pemuda Muslim di Jerman, perasaan pengecualian sangat akut. Mereka merasa dirugikan bukan hanya karena asal-usul mereka, tetapi juga karena agama. Dalam pernyataannya, Mesut Ozil menanyakan apakah ada kriteria untuk menjadi bangsa Jerman sepenuhnya yang belum ia penuhi.

“Temanku Lukas Podolski dan Miroslav Klose tidak pernah dipanggil dengan sebutan Jerman-Polandia, jadi mengapa aku (disebut) Jerman-Turki? Apakah ini karena Turki? Atau karena aku seorang Muslim?

Apa yang dikatakan Ozil dalam pernyataannya pengunduran dirinya bukan hal yang baru. Ozil hanya menggambarkan apa yang banyak orang dengan latar belakang migran selalu pikirkan dan rasakan.

Ini bukan hal baru, tetapi sekarang telah diungkapkan oleh seseorang yang memiliki khalayak luas bahkan luar perbatasan Jerman. Seluruh dunia tiba-tiba membahas kehidupan batin umat Muslim pada umumnya dan Muslim Jerman dengan latar belakang migrasi Turki di Jerman pada khususnya.

“Aku seorang Jerman saat menang, dan saat kalah, aku seorang imigran”

Di Jerman dan Eropa, kami telah mengalami peningkatan xenofobia selama bertahun-tahun, dan yang sangat jelas terlihat ketika menyangkut komunitas Muslim. Muslim selalu berada dalam sorotan publik, seakan tidak ada komunitas lain di Eropa.

Dalam perselisihan publik, Muslim sering digambarkan sebagai kelompok yang diduga terbelakang, tidak tercerahkan, tidak berpendidikan, dan keras yang ditakuti.

Sejumlah penelitian telah menyelidiki dan mengungkapkan konsekuensi negatif dari debat publik ini. Banyak orang yang takut pada Muslim, menghindari kontak apapun jika mereka bisa. Dan itu bukan hanya orang-orang dari politik yang paling kanan, tetapi bahkan orang biasa yang paling sederhana.

Dalam kehidupan sehari-hari, Muslim mengalami efek di hampir semua lapisan kehidupan. Mereka dirugikan dalam pencarian pekerjaan dan perumahan, dan tidak diizinkan mengenakan jilbab di depan umum, karena peraturan hukum di beberapa negara bagian.

Tidak jarang bahwa Islamofobia menjelma dalam tindakan kekerasan dan kriminal yang menargetkan umat Islam. Penolakan terhadap Muslim telah mencapai titik di mana tidak ada lagi ekspresi solidaritas ketika serangan pembakaran menimpa masjid atau ketika wanita diserang di jalan karena mengenakan jilbab.

Tingkat penolakan Muslim sekarang dapat dilihat bahkan dalam penerimaan para pengungsi, yang mayoritasnya juga berasal dari negara-negara mayoritas Muslim. Menurut sebuah survei yang representatif, masyarakat Jerman akan lebih mudah menerima jika para pengungsi pada umumnya berasal dari keyakinan yang berbeda dari Islam.

Dalam kasus Ozil, sepertinya tidak ada pengunduran diri di tubuh Asosiasi Sepak Bola Jerman. Dalam pernyataannya, Presiden DFB Reinhard Grindel mengakui kesalahannya dalam menangani kasus tersebut. Namun ia tak menyinggung konsekuensi pribadinya.

Ini juga memperkuat kesan fatal di antara etnis dan agama minoritas bahwa semuanya tidak begitu buruk, karena pada akhirnya ‘itu semua tentang seorang Turki’.

Meskipun sulit, Muslim tidak harus mengubur kepala kita di pasir. Kasus Ozil hanya membawa sesuatu ke cahaya, membuat sesuatu terlihat. Kita dapat melihat ini sebagai peluang dan akhirnya menjadi perbincangan terbuka dan jujur tentang rasisme di Jerman dan Eropa. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Mufti Saudi: Turki Negara Islam, Kekalahannya Kerugian Bagi Umat

Organization