Home / Berita / Internasional / Asia / Pengadilan Rahasia Bagi Masyayikh dan Insan Media di Arab Saudi

Pengadilan Rahasia Bagi Masyayikh dan Insan Media di Arab Saudi

Cuitan @M3takl yang menyebut adanya pengadilan rahasia di Saudi. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Riyadh. Akun Twitter @M3takl menyebut adanya pengadilan rahasia bagi sejumlah tokoh yang ditangkap Pemerintah Saudi pada September 2017 lalu. Seperti diketahui, sejumlah masyayikh, cendekiawan dan insan media ditahan oleh pemerintah tanpa alasan yang jelas.

Dalam cuitannya, akun yang biasa mengungkap perkembangan politik di Saudi khawatir pengadilan akan menjatuhkan hukuman yang tak adil pada para tahanan.

“Sebuah informasi sampai kepada kami tentang pengadilan rahasia yang mulai digelar pemerintah Saudi bagi para tahanan September. Pengadilan sampai saat ini mencakup sejumlah syaikh yang telah dipindahkan dari penjara Dhahban ke penjara al-Hair baru-baru ini, ditambah sejumlah nama dari akademisi dan insan media,” cuit @M3takl.

Pada cuitannya yang lain, akun tersebut juga menyebut pengadilan rahasia ini sebagai kejahatan hak asasi manusia yang berat. Korban terakhir dari pengadilan ini, imbuhnya, adalah akademisi dan aktivis DR. Muhammad al-Hudayf, wartawan Saleh al-Shehhi. Keduanya dituntut dengan hukuman 5 tahun penjara.

Selain itu ada pula dua nama aktivis lain yaitu Muhammad al-Utaibi dan Abdullah al-Athawy. Keduanya dijatuhi hukuman total hingga 21 tahun penjara.

Warganet langsung menyuarakan dukungan kepada al-Hudayf yang divonis setelah dua tahun penangkapan. Ia ditangkap karena kritiknya terhadap peran mencurigakan yang dimainkan UEA di Arab Saudi.

Hingga saat ini, Kerajaan Saudi masih bungkam terkait penangkapan dan sebab-sebabnya. Namun informasi yang bocor ke publik menyebut adanya penyiksaan pada para tahanan untuk mengakui kejahatan yang sama sekali tak dilakukan. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

100 Hari Masa Pemerintahan, Erdogan Berhasil Wujudkan 340 dari Total 400 Program Kerja

Organization