Home / Berita / Internasional / Asia / Rahasia di Balik Pendekatan Hamas dan Iran

Rahasia di Balik Pendekatan Hamas dan Iran

Ketika Ismail Haniyah memberikan pidato di sebuah unjuk rasa di Tehran pada 11 Februari 2012. Hubungan Iran-Hamas telah memburuk sejak 2012. (Aljazeera)
dakwatuna.com – Jalur Gaza. Pada 16 Juli lalu, Qassem Suleimani, Komandan Korps Pasukan Quds dalam Garda Revolusi Iran dijadwalkan menyampaikan konferensi di Gaza melalui sambungan satelit dari Teheran.

Pada saat-saat terakhir, pidatonya dibatalkan dan digantikan oleh wakilnya, Gholamhossein Gheybparvar. Gholam berbicara dengan bahasa Arab, meski terjadi sedikit kesalahan teknis yang menurut penyelenggara akibat diganggu Israel.

Petinggi Hamas dan Jihad Islam, membatalkan rencana kehadiran mereka dalam acara tersebut. Pejabat Hamas yang tampak hanya Ismail Ridwan, Menteri Urusan Agama. Jamil Mazhar dari Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) juga tampak hadir.

Konferensi ini merupakan langkah terbaru dari serangkaian perkembangan yang menandai upaya pendekatan Hamas dengan Iran. Sebelumnya, hubungan Hamas dan Iran sempat memburuk selama beberapa tahun menyusul perbedaan pandangan mereka terkait isu Suriah.

Tahun 2012, memutuskan mendukung oposisi Suriah. Secara otomatis, keputusan itu juga memutus hubungan mereka dengan Damaskus dan Teheran.

Sekarang, enam tahun kemudian, perubahan dinamika regional mendorong dua mantan sekutu itu untuk menghidupkan kembali hubungan mereka. Tapi kembali ke hubungan hangat yang dinikmati dua pihak sebelum 2011 akan menjadi sulit karena sejumlah alasan.

Mengapa pendekatan bisa terjadi?

Salah satu alasan mengapa Hamas berusaha memperbaiki hubungan dengan Iran adalah karena kekurangan uang. Keputusannya mendukung oposisi Suriah membuat aliran dana dari Teheran terhenti.

Itu, dikombinasikan dengan tentara Mesir yang menghancurkan terowongan penyelundupan ke Sinai, peningkatan tekanan atas blokade Israel, dan keputusan Otoritas Palestina memotong dana untuk gaji pegawai di Gaza, memicu krisis keuangan yang semakin melemahkan posisi Gaza. Akibatnya, kemarahan publik semakin meningkat dan Hamas berusaha keras mencari sumber pendanaan alternatif.

Sejak pemulihan dimulai pada pertengahan 2017, telah ada pembicaraan tentang rencana Iran melanjutkan dukungan keuangan untuk Hamas. Meskipun jumlahnya jauh lebih rendah dari sebelum 2012.

Tidak ada informasi resmi terkait besaran dana tersebut. Tapi Menhan Israel Avigdor Lieberman pada Maret lalu mengatakan, sebagian besar dari $ 260 juta jumlah yang diinvestasikan Hamas untuk membuat terowongan dan senjata tahun 2017 lalu berasal dari Teheran.

Bagaimanapun Iran juga tengah menghadapi krisis keuangan. Selain juga tengah menghadapi derita mata uangnya yang di bawah tingkat inflasi tinggi, penarikan investor internasional sebagai akibat dari sanksi AS dan penjualan minyaknya yang berpotensi ambruk dalam beberapa bulan mendatang.

Pada waktu yang sama, Teheran harus memberi dukungan dana untuk sekutunya di Lebanon dan Irak, serta mengobarkan perang di Suriah, di mana Israel terus membombardir basis dan pangkalan militernya. Hal itu membuat Iran menghadapi kemarahan publik yang akan mengancam stabilitas domestiknya. Sehingga dukungan finansial yang akan diberi kepada Hamas sangat terbatas.

Terlepas dari urusan dana, Hamas juga mendekati Iran karena menyadari posisinya yang semakin terjepit. Gerakan Perlawanan itu telah kehilangan beberapa posisinya di regional sejak 2013 lalu saat Presiden Muhammad Mursi digulingkan dari tahta Mesir. Sementara hubungan dengan Arab Saudi juga sedang memburuk.

Iran juga menemukan dirinya di bawah isolasi internasional yang semakin meningkat. Ini buah dari poros Saudi-Israel-AS yang meningkatkan tekanan pada Teheran secara regional dan internasional.

Pendekatan dengan Hamas dan upaya untuk melibatkan organisasi-organisasi Islam lainnya di wilayah tersebut adalah bagian dari manajemen krisis Iran dan upaya untuk meningkatkan citranya di dunia Arab dengan menekankan kembali komitmennya pada perjuangan Palestina.

Apa tantangan selanjutnya?

Meskipun Hamas dan Iran merasa sudah waktunya untuk memperbaiki hubungan, ada sejumlah hambatan yang dapat membatasi pendekatan mereka.

Pertama, rezim Suriah menentang Hamas bergabung kembali dengan apa yang disebut “poros perlawanan” yang dipimpin oleh Iran, meskipun Hamas telah menyatakan minat yang tulus dalam membalik halaman pada perselisihan sebelumnya dengan Damaskus. Upaya oleh Iran dan Hezbollah untuk mendamaikan keduanya belum menghasilkan banyak kemajuan.

Pada saat yang sama, Hamas tidak dapat melangkah terlalu jauh di depan, karena berisiko kehilangan dukungan di jalan-jalan Arab. Rezim Assad terus dirasakan sangat negatif di dunia Arab, seperti Iran, yang secara teratur dikecam karena gangguan dan hasutan sektarian di negara-negara Arab. Ini menjadi penyebab Hamas tak langsung merangkul Iran maupun Suriah.

Masalah lain adalah Israel, yang telah meningkatkan retorikanya terhadap Hamas dan mengancam aksi militer di Gaza untuk saat-saat sekarang. Mengingat kedudukan internasional mereka yang lemah, para pejabat Hamas khawatir tentang label “organisasi teroris” yang telah dilontarkan Israel di lingkaran pembuat keputusan internasional. Keterlibatan terbuka dengan Iran dapat meningkatkan argumen Israel terhadap Hamas.

Mesir juga tak terlalu senang dengan kabar pendekatan Hamas dan Iran. Pada sejumlah kesempatan, rezim Mesir mencegah pejabat Hamas melakukan perjalanan ke Iran melalui Kairo. Mesir ingin menjaga Gaza sebagai file diplomatik eksklusifnya. Maka sangat sentitif bagi rezim Mesir jika ada pihak lain yang masuk ke Gaza, terutama Iran.

Terlepas dari semua tantangan ini, sepertinya Hamas tidak akan menghentikan upayanya untuk memperbaiki hubungan dengan Iran. Dinamika regional saat ini dan meningkatnya polarisasi membuat upaya-upaya ini menjadi lebih mendesak. (whc/dakwatuna)

Diadaptasi dari:
What is behind the Hamas-Iran rapprochement?
Oleh Adnan Abu Amer,
Kepala Departemen Ilmu Politik Universitas Ummah Gaza.

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Netanyahu: Saya Ingin Ada Hubungan Baik antara Israel dan Indonesia