Home / Berita / Internasional / Afrika / Etiopia: Cina Baru di Afrika?

Etiopia: Cina Baru di Afrika?

Peta negara Etiopia di Afrika Timur. (The Nation)
dakwatuna.com – Addis Ababa. Para pemimpin Eritrea dan Etiopia sepakat mengakhiri perang yang telah terjadi hampir 20 tahun lamanya. Hal itu diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Afrika Timur.

Petumbuhan ekonomi Etiopia jauh lebih cepat daripada negara lain di Afrika selama 10 tahun terakhir. Namun investor asing dan bisnis lokal mengeluhkan kekurangan mata uang asing seperti dolar AS yang menyesakkan sektor swasta.

Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa cadangan devisa Ethiopia pada akhir tahun fiskal 2016/2017 mencapai $ 3,2 miliar. Jumlah itu lebih rendah daripada jumlah yang dibelanjakan untuk impor dalam dua bulan.

Tapi IMF memperkirakan tingkat pertumbuhan sebanyak 8,5% tahun ini – jauh di atas rata-rata global.
Jadi, apakah Etiopia akan mampu mempertahankan tingkat pertumbuhannya? Apa tantangan ekonomi yang dihadapi Etiopia? Dan apa arti damai dengan Eritrea bagi perekonomian?

Etiopia memiliki “model yang sangat aneh untuk pembangunan. Tapi model aneh itulah yang telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi,” kata Charles Robertson, kepala ekonom di Renaissance Capital.

“Dalam laporan besar terakhir kami, kami fokus pada fakta bahwa mereka kehabisan devisa untuk mempertahankan model itu … Ini masalah bagaimana mereka bisa mendapatkan uang tunai. Mereka meminjam dari Cina.”

“Dan deklarasi baru-baru ini dari pemerintah menunjukkan bahwa mereka mungkin mulai mengumpulkan uang dengan menjual … taruhan di angsa emas mereka – perusahaan besar mereka seperti Ethiopia Telecom atau Ethiopia Airlines. Dengan cara itu mereka dapat membawa dolar yang dibutuhkan untuk dapat membeli barang-barang investasi yang mereka butuhkan untuk dapat mendorong pertumbuhan.”

Robertson juga menjelaskan peran ekonomi digital di negara itu. “Ada banyak sekali public relations, PR yang sukses membuat Etiopia menjadi semacam Cina berikutinya. Dan aku pikir ini adalah perbandingan yang valid selama Anda memahami arti Cina berikutnya dengan jangka 50 tahun, bukan 10 atau 20 tahun.”

“Kurang dari separuh orang dewasa di Etiopia yang dapat membaca atau menulis dalam bahasa apa pun. Itu bukan yang Anda butuhkan jika ingin menjadi bagian dari ekonomi digital. Anda setidaknya harus bisa membaca apa yang ada di ponsel. Mereka tidak bisa. Dan konsekuensi dari melek huruf orang dewasa yang rendah – sekitar 49% tahun 2015 – berarti Anda tidak akan punya kisah industrialisasi,” lanjut Roberts.

Menurut Robert, sektor manufaktur Etiopia ada di sekitar 4% dari PDB. “Hanya ada delapan negara di dunia dengan sektor manufaktur yang lebih kecil dari Ethiopia … angka pendidikan dan listrik tidak ada di sana, baik untuk ekonomi digital maupu sektor manufaktur besar.”

Selanjutnya, ia mengomentari soal perdamaian dengan Eritrea. Menurutnya, perdamaian akan membuat rute ekspor kedua dan mungkin kemudian mendapatkan harga yang lebih baik ketika datang untuk mengekspor barang mereka melalui pelabuhan. “Jadi ada manfaat jangka panjang untuk perdagangan,” pungkasnya. (whc/dakwatuna)

Redaktur: William Ciputra

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
William Ciputra
William Ciputra dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1993. Pemuda yang juga berdarah Tionghoa dari sang ayah itu mengenyam pendidikan dasar dan menengah pertama di Kab. Tulungagung Jawa Timur. Setelah itu, ia hijrah dan melanjutkan sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah (MA) As-Salam Rimbo Bujang Jambi. Kemudian, ia melanjutkan studi di Ma'had Aly An-Nuaimy Jakarta dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok.Saat ini, selain sebagai redaktur di Dakwatuna.com, ia juga tercatat sebagai Staf Tarbawi di Ma'had An-Nuaimy. Selain itu, ia juga tercatat sebagai Sekretaris Yayasan Fii Zhilalil Quran Jambi. Sebuah yayasan yang membawahi lembaga pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.

Lihat Juga

Dukung Turki, Angela Merkel: Jerman Ingin Ekonomi Turki Berkembang

Organization